TIFFANEWS.CO.ID – Di depan SD Negeri Harapan Bangsa, sebuah spanduk raksasa berkibar gagah seperti baliho film blockbuster. Tulisannya tegas dan optimis: Makan Berguna Gratis untuk Generasi Emas.
Pak Rudi selalu membacanya tiap pagi saat mengantar Arga. Ia membacanya seperti membaca doa, setengah berharap, setengah menghitung sisa uang bensin di tangki motornya.
Sejak program itu berjalan, Arga memang berubah. Pulang sekolah tidak lagi langsung menyerbu dapur seperti petugas razia. Ia kini bercerita tentang menu harian, ayam crispy hari Senin, telur balado hari Rabu, susu kotak yang katanya rasanya “lumayan, Pak, nggak kayak susu diskon.”
Pak Rudi senang. Jujur saja, ia senang.
Masalahnya bukan di dalam kelas.
Masalahnya ada di luar pagar.
Warung Bu Sari yang dulu ramai seperti konser dangdut kini sunyi seperti latihan paduan suara tanpa penyanyi. Bangku plastiknya lebih sering kosong daripada terisi.
“Anak-anak sudah kenyang sebelum jajan,” keluh Bu Sari. “Gorengan saya sekarang yang diet.”
Pak Rudi tertawa kecil, tapi tawanya terasa seperti cicilan, ringan di awal, berat di akhir.
Dulu uang seribu dua ribu rupiah dari tiap anak mungkin terlihat kecil. Tapi bagi Bu Sari, itu adalah aliran darah ekonomi. Sekarang alirannya tersumbat.
Kantin Pak Darto juga bernasib sama. Ia sempat mencoba inovasi, jual minuman dengan nama kekinian seperti “Es Cuan Berry” dan “Teh Sultan Lemon”, tapi tetap saja sepi. Anak-anak sudah makan di kelas. Orang tua merasa tak perlu memberi uang jajan lebih.
“Ekonomi kita ikut diet, Pak,” kata Pak Darto sambil tersenyum kecut.
Sementara itu, di tempat kerja Pak Rudi, kabar tak kalah mengejutkan datang. Perusahaan melakukan efisiensi. Tenaga kontrak dipangkas.
“Penyesuaian anggaran,” kata manajernya waktu itu.
Penyesuaian terdengar halus, seperti potongan rambut. Padahal yang dipotong adalah penghasilan.
Sejak itu, Pak Rudi resmi menjadi pekerja serabutan. Kadang angkut beras, kadang bantu bongkar muat. Kadang lebih sering menunggu daripada bekerja.
Di warung kopi, diskusi makin ramai. Seorang guru honorer menunjukkan video ekonom di ponselnya.
“Belanja negara harus produktif,” kata sang ekonom di layar. “Kalau hanya konsumsi, efeknya jangka pendek.”
“Artinya?” tanya Pak Rudi.
“Artinya kalau uang triliunan cuma jadi nasi, tapi tidak jadi pekerjaan tetap, ekonomi bisa ngos-ngosan,” jawab guru itu.
Seorang pedagang menimpali, “Kalau uang segitu dipakai buka pabrik kecil, pelatihan kerja, bantu usaha benar-benar jalan, mungkin bapak-bapak di sini nggak perlu nunggu panggilan kerja.”
Di media sosial, komentar lebih pedas. Ada yang memuji program itu sebagai langkah heroik. Ada pula yang menyebutnya ambisi besar yang terlalu fokus pada citra.
“Anak sekolah kenyang, orang tuanya puasa karena belum gajian,” tulis seseorang.
“Program besar, pasar kecil jadi mengecil,” tulis yang lain.
Pak Rudi membaca semua itu sambil menggendong Nisa, anak bungsunya yang masih balita. Nisa belum sekolah. Ia belum tahu apa itu generasi emas. Yang ia tahu hanya biskuit rasa susu yang makin mahal.
Suatu malam listrik padam. Dalam gelap, Lina berkata pelan, “Kalau memang niatnya baik, kenapa rasanya seperti banyak yang ikut tumbang?”
Pak Rudi terdiam. Ia tidak ingin jadi ahli kebijakan. Ia hanya ingin jadi ayah yang mampu beli beras tanpa menghitung koin.
Puncaknya datang ketika Bu Sari menutup warungnya. Ia melepas papan kecil bertuliskan “Jajanan Anak Sekolah” dengan wajah setengah pasrah.
“Bukan karena saya kalah saing,” katanya. “Tapi karena saingannya negara.”
Kalimat itu terdengar lucu, tapi juga pahit.
Keesokan paginya, Pak Rudi kembali melewati spanduk besar itu. Ia menatapnya lebih lama dari biasanya.
Ia tidak membenci sepiring makan yang diterima anaknya. Ia tidak menolak niat memperbaiki gizi. Ia hanya merasa ada yang kurang lengkap.
Sepiring nasi memang membuat anak tersenyum hari ini.
Tapi lapangan kerja yang hidup membuat keluarga tersenyum setiap hari.
Dan bagi Pak Rudi, mungkin yang lebih dibutuhkan bukan hanya membagi makan siang, melainkan memastikan ekonomi tidak ikut puasa.
Spanduk itu tetap berkibar gagah.
Sementara di bawahnya, rakyat kecil berharap generasi emas tidak lahir dari orang tua yang dompetnya semakin tipis.
Penulis cerpen: Ronny Imanuel Rumboy




