TIFFANEWS.CO.ID,- Tokoh Budaya Papua sekaligus pencetus gagasan Noken sebagai Warisan Dunia, Titus Pekei, menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Deiyai yang dinilai konsisten dan sungguh-sungguh menghidupkan kembali tradisi tanah Papua di ruang-ruang pemerintahan.
Menurut Titus Pekei, langkah tersebut merupakan upaya strategis untuk menjaga, merawat, dan mengaktualkan nilai-nilai budaya Papua melalui penghadiran simbol-simbol adat seperti Noken, busur-panah, cawat, serta berbagai elemen budaya khas Papua lainnya.
“Langkah ini bukan saja memperkuat jati diri orang Papua, tetapi juga menjadi sumber inspirasi dan motivasi bagi ASN maupun masyarakat di Kabupaten Deiyai,” ujar Titus Pekei kepada Nadi Papua melalui pesan elektronik, Kamis (15/01).
Ia menilai, inisiatif Pemerintah Kabupaten Deiyai menunjukkan cara pandang yang visioner, terutama melalui upaya Bupati Melkianus Mote dan Wakil Bupati Ayub Pigome menghidupkan kembali moto Kabupaten Deiyai, Dou, Gai, Ekowai Enaimo, sebagai arah pembangunan daerah ke depan.
Moto tersebut, kata Titus, mencerminkan semangat hidup bersama yang berakar pada nilai-nilai kearifan lokal masyarakat Me Pago.
Titus Pekei menegaskan bahwa ke depan ASN dan masyarakat Kabupaten Deiyai perlu terus mengasah pengetahuan dan meningkatkan kapasitas diri melalui pendidikan formal maupun autodidak.
Peningkatan intelektualitas individu, menurutnya, merupakan fondasi penting untuk membangun kekuatan bersama secara komunal, sehingga pembangunan manusia tidak berjalan terpisah-pisah, melainkan bergerak dalam satu kesatuan nilai.
Keberadaan pagar kantor Pemerintah Kabupaten Deiyai yang dipadukan dengan lukisan dan ornamen tradisi Papua dinilai sebagai langkah simbolik sekaligus substantif dalam menyatukan nilai adat dengan ruang birokrasi.
Ornamen tersebut tidak hanya memperindah ruang publik, tetapi juga membangkitkan kesadaran akan pentingnya pelestarian dan pemajuan kebudayaan Papua di masa mendatang.
Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Kabupaten Deiyai tetap hidup berdampingan dengan adat dan tradisi leluhur. Tradisi tidak terpisah dari kehidupan modern, melainkan menjadi sumber nilai yang memberi manfaat bagi diri sendiri dan kehidupan bersama secara berkelanjutan.
Pagar tembok kantor di pusat pemerintahan Kabupaten Deiyai pun tidak sekadar berfungsi sebagai batas fisik, tetapi menjadi media pesan budaya bagi setiap orang yang datang berurusan di kantor pemerintahan Kabupaten Deiyai, Provinsi Papua Tengah.
Lukisan-lukisan tersebut menitipkan pesan bahwa Noken, busur, panah, cawat, serta berbagai unsur budaya khas Papua masih hidup, bermakna, dan patut dijaga.
Titus Pekei menilai Bupati Melkianus Mote dan Wakil Bupati Ayub Pigome menjalankan kepemimpinan yang berpijak kuat pada kearifan lokal wilayah Me Pago, sehingga keduanya dinilai pantas menjadi pemimpin bagi seluruh komponen masyarakat Kabupaten Deiyai.
Sebagai peneliti disertasi berjudul “Nilai-Nilai Noken dalam Konteks Pelestarian Lingkungan: Studi Kualitatif di Kabupaten Deiyai, Provinsi Papua Tengah”, Titus Pekei mengungkapkan bahwa selama beberapa bulan berada di lokasi penelitian, ia menyaksikan langsung kemampuan pemerintah daerah dalam membaca kebutuhan riil masyarakat.

Kebutuhan tersebut antara lain mencakup aktivitas nelayan Danau Tigi dengan pukat dan perahu, pengembangan peternakan babi, penanaman pohon sebagai upaya penghijauan Lembah Tigi, serta penyaluran bantuan sosial bagi masyarakat Daba, Dobiyo, Miya, dan Adama Bage di Kabupaten Deiyai.
Ke depan, ia berharap adanya perhatian lebih terhadap petani anggrek sebagai bahan baku pembuatan Noken yang mulai berkembang di Kabupaten Deiyai, serta penguatan program penanaman pohon yang sesuai dengan kondisi alam setempat.
Dalam menjalankan tugas pemerintahan, pemimpin daerah dinilai tidak dapat dilepaskan dari kebutuhan dan kearifan lokal masyarakatnya.
Bupati Melkianus Mote dan Wakil Bupati Ayub Pigome juga dinilai menjalankan kepemimpinan yang berpijak pada kearifan lokal tujuh wilayah adat budaya Noken Papua, yakni Mamta Tabi, Domberai, Bomberai, Anim Ha, La Pago, dan Me Pago. Dengan pendekatan tersebut, keduanya dipandang layak menjadi teladan kepemimpinan pemerintahan Papua, dimulai dari Kabupaten Deiyai.
Pelestarian budaya di Kabupaten Deiyai pada akhirnya bukan sekadar nostalgia terhadap masa lalu, melainkan ikhtiar membangun masa depan yang berakar kuat pada identitas, nilai, dan kearifan lokal Papua.
Lukisan-lukisan tradisi yang hadir di ruang publik pemerintahan menjadi ekspresi penting yang menyapa manusia dan alam Deiyai, sekaligus menegaskan bahwa manusia dan lingkungan merupakan satu kesatuan yang saling terhubung dan tidak dapat dipisahkan. (bn)




