Oleh : RD. Yohanis Elia Sugianto
TIFFANEWS.CO.ID – Suasana khusyuk menyelimuti pembukaan Retret Pastores Keuskupan Agung Merauke (KAMe) tahun 2026. Di bawah tema besar “Daya Kerahiman Allah dan Kerapuhan Manusia”, para Pastor berkumpul di Aula Rumah Bina – Kelapa Lima untuk menimba kekuatan rohani dan memperbaharui komitmen panggilan mereka.
Misa pembukaan dipimpin oleh Uskup Padang, Mgr. Vitus Rubianto Solichin, SX. Dalam homilinya, beliau mengajak para Pastor untuk merefleksikan kembali hakikat hubungan antara gembala dan rekan kerjanya, serta tantangan dalam menjaga kesetiaan di tengah kelemahan manusiawi.
Mengawali renungannya, Mgr. Vitus menyoroti Bacaan Kitab Suci dari Surat Rasul Paulus kepada Titus dan Timotius. Beliau menekankan bahwa bacaan ini jauh lebih relevan bagi perkumpulan para murid Tuhan dibandingkan bacaan harian biasa.
“Hubungan rohani Paulus dengan murid-muridnya, Titus dan Timotius, bukan sekadar hubungan kerja, melainkan hubungan bapak dan anak,” ungkap Mgr. Vitus.
Beliau menggarisbawahi bagaimana karunia kebapaan Paulus terlihat jelas saat ia mempersiapkan murid-murid mudanya tersebut menjadi penerus dan Uskup-uskup pertama gereja. Hal ini menjadi cermin bagi relasi hierarki dalam gereja saat ini.

Menyentuh inti dari kepemimpinan gerejawi, Mgr. Vitus memberikan penegasan yang kuat mengenai peran seorang Uskup. Menurutnya, kegagalan terbesar seorang Uskup bukanlah masalah administrasi atau pembangunan fisik, melainkan ketika ia tidak berhasil mendapatkan kepercayaan dari para pastornya.
“Kedekatan adalah hal terpenting dalam penggembalaan keuskupan,” tegasnya. Semangat kebapaan harus menjadi nafas hidup seorang Uskup. Ia berbagi kecemasan eksistensial yang sering dirasakan para gembala utama: ketakutan akan ketidakhadiran saat seorang Pastor sedang bermasalah atau menghadapi ajal.
Refleksi ini menyadarkan peserta retret akan kerapuhan manusiawi, baik di sisi Uskup maupun Pastor yang hanya bisa dijembatani oleh kehadiran yang tulus dan Daya Kerahiman Allah.
Dalam bagian yang menggelitik namun mendalam, Mgr. Vitus menyinggung tentang kesetiaan terhadap tempat tugas. Beliau menggunakan istilah yang kuat mengenai “perselingkuhan episkopal”, yang terjadi ketika seorang gembala mulai membanding-bandingkan dan memandang keuskupan atau tempat lain lebih menarik daripada ladang anggur sendiri.

“Pastor harus memiliki rasa cinta kepada keuskupannya,” pesannya. Sebagaimana keluarga yang merasa bangga saat dikunjungi Uskupnya, demikian pula seorang Pastor harus bangga dan setia pada umat yang dipercayakan kepadanya, tanpa menoleh ke tempat lain.
Ret-ret akan berlangsung selama 5 hari, mulai Senin, 26 – Jumat, 30 Januari 2026. Semoga hari-hari permenungan ini berjalan dengan lancar, Para Uskup dan Pastores peserta retret dijauhkan dari segala halangan, dan retret ini menjadi momen rahmat yang menyegarkan.
Kita berdoa agar melalui retret ini, buah-buah iman dapat tumbuh subur, menguatkan apa yang rapuh dengan kerahiman Ilahi. Sehingga, sekembalinya ke paroki masing-masing, para Pastor dapat semakin menghadirkan wajah Kristus dalam kepenuhannya, wajah yang penuh belas kasih, kebapaan, dan kesetiaan di tengah umat Allah di Selatan Papua.
Nil Nisi Christum (+)




