TIFFANEWS.CO.ID – Rumah Sakit Bunda Pengharapan (RSBP) Merauke merayakan Pesta Perak atau Hari Ulang Tahun ke-25, Selasa (3/2/2025), sebagai momentum refleksi atas perjalanan panjang pelayanan kesehatan yang berakar pada iman, kasih, dan pengharapan bagi masyarakat Papua Selatan.
Perayaan ini tidak hanya menjadi ungkapan syukur atas penyertaan Tuhan selama seperempat abad, tetapi juga ditegaskan sebagai panggilan untuk terus menghadirkan pelayanan yang menyentuh kemanusiaan secara utuh, baik fisik maupun rohani.
Direktur Rumah Sakit Bunda Pengharapan Merauke, Sr. Maria Bertha, PRR / dr. Betharia Suci, KRCHN., MARS, dalam sambutannya mengenang awal berdirinya rumah sakit yang lahir dari keterbatasan, namun dipenuhi iman dan semangat pelayanan.

“Tepat dua puluh lima tahun yang lalu, Rumah Sakit Bunda Pengharapan lahir bukan dari kelimpahan, melainkan dari kepekaan hati untuk melihat saudara-saudari kita yang sakit, lemah, dan sangat membutuhkan pertolongan,” ujarnya.
Rumah sakit ini dirintis oleh drg. Josef Rinta, Dr. Petrus Tjia, Sr. Maria Pilomena Da Santo, PRR, serta didukung penuh oleh Uskup Jacobus Duivenvoorde, MSC. Dalam perjalanan awalnya, fasilitas sangat terbatas dan tenaga kesehatan sangat minim. Namun iman dan kasih kepada pasien menjadi kekuatan utama yang menopang pelayanan.
“Bukan karena kami hebat rumah sakit ini dapat bertahan hingga hari ini, tetapi karena Allah yang menyanggupkan kami,” tutur Sr. Maria Bertha.
Selama 25 tahun, ribuan pasien di Provinsi Papua Selatan telah merasakan sentuhan pelayanan Rumah Sakit Bunda Pengharapan. Banyak di antara mereka datang dengan ketakutan, luka, dan kecemasan, namun pulang dengan harapan. Bahkan bagi mereka yang tidak lagi dapat diselamatkan secara medis, rumah sakit ini tetap menjadi tempat pendampingan penuh kasih hingga akhir hayat.
Selain pelayanan medis, Rumah Sakit Bunda Pengharapan juga dikenal dengan pelayanan rohaninya. Doa-doa para suster yang tak pernah berhenti di lorong-lorong rumah sakit menjadi ciri khas yang membedakan rumah sakit ini dari rumah sakit lainnya.
“Di sini, rumah sakit bukan hanya tempat menyembuhkan penyakit, tetapi tempat memulihkan harapan dan merawat kemanusiaan,” katanya.
Aksi Nyata Menyongsong Pesta Perak
Ketua Panitia Pesta Perak Rumah Sakit Bunda Pengharapan Merauke, Apt. Yasinta T. S. Kwen, S.Farm, menjelaskan bahwa rangkaian perayaan Pesta Perak dirancang tidak sekadar seremonial, melainkan diwujudkan melalui berbagai kegiatan pelayanan langsung kepada masyarakat.

“Momentum Pesta Perak ini kami maknai sebagai panggilan untuk menghadirkan aksi nyata pelayanan sosial dan edukasi kesehatan, sekaligus memperkuat rasa kekeluargaan antar staf,” ujarnya.
Berbagai kegiatan telah dilaksanakan, di antaranya donor darah sebanyak dua kali dengan total 168 pendonor, promosi dan edukasi kesehatan melalui podcast kesehatan bertema ‘Hipertensi: Si Pembunuh Senyap’, serta edukasi kesehatan tentang pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD).
Selain itu, program RSBP Goes to School dilaksanakan total 566 anak yang terlayani. Panitia juga menggelar seminar awam, bakti sosial di empat lokasi, jalan santai keluarga besar RSBP, rekoleksi tahunan karyawan, hingga Festival Nusantara.
Seluruh kegiatan tersebut didukung melalui swadaya panitia, sumbangan para donatur, serta dukungan mitra rumah sakit, baik dalam bentuk dana maupun material.
Apresiasi Pemerintah Provinsi Papua Selatan
Gubernur Papua Selatan Apolo Safanpo yang diwakili oleh Asisten I Setda Provinsi Papua Selatan, Agustinus Joko Guritno, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh jajaran Rumah Sakit Bunda Pengharapan Merauke atas dedikasi selama 25 tahun melayani masyarakat.

“Atas nama Pemerintah Provinsi Papua Selatan, kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya. Rumah Sakit Bunda Pengharapan telah membantu pemerintah menjalankan tugas mulia di bidang pelayanan kesehatan,” ujarnya.
Agustinus menegaskan bahwa meskipun Provinsi Papua Selatan merupakan provinsi yang relatif baru, pemerintah berkomitmen untuk terus mendukung keberlangsungan pelayanan Rumah Sakit Bunda Pengharapan agar pelayanan kesehatan dapat berjalan secara berkelanjutan.
Ia juga menyoroti keunikan pelayanan Rumah Sakit Bunda Pengharapan yang mengedepankan pelayanan medis sekaligus pelayanan rohani.
“Di rumah sakit lain pasien biasanya berdoa sendiri, tetapi di Rumah Sakit Bunda Pengharapan pasien didoakan oleh para suster. Ini adalah kekuatan dan ciri khas yang luar biasa,” katanya.
Dengan demikian, menurutnya, pasien yang dirawat tidak hanya memperoleh kesembuhan fisik, tetapi juga ketenangan dan kekuatan rohani.
Pemerintah Provinsi Papua Selatan berharap Rumah Sakit Bunda Pengharapan Merauke terus berkembang, meningkatkan kualitas pelayanan, dan tetap setia menjadi tanda kasih Tuhan bagi seluruh masyarakat Papua Selatan. (Rum)




