Oleh Emanuel Tetogabii Boma*
Setiap manusia pasti memiliki aktivitas berpikir dalam setiap kehidupan kita sehari-hari. Berpikir tentang makan, minum, berjalan, bekerja, dll. Namun disini ditawarkan berpikir secara radikal (mendalam sampai ke akar-akarnya). Akan tetapi, tidak semua orang berpikir secara radikal. Sekian banyak orang yang hanya sebatas berpikir; datar dan biasa saja.
Melalui artikel ini, penulis mencoba memberi sedikit pencerahan atau pemahaman tentang bagaimana cara berpikir secara radikal, agar tidak dapat tertipu dan bahkan tidak mudah menerima argumen begitu saja di era modernisasi ini, dan mampu bertanya pada segala sesuatu yang terjadi dalam realitas hidup kita.
Karena di era modern ini, ada banyak orang yang sudah terbiasa dengan berpikir biasa atau dangkal sehingga mudah dan cepat terima suatu argumen tanpa bertanya apa yang diterimanya itu. Hal ini dapat menyasar baik itu di kalangan orang muda, remaja, pemerintahan, maupun masyarakat sebagai akar rumput yang hakikatnya tidak berpendidikan.
Semua itu terjadi mungkin karena kurangnya berpikir radikal dalam diri setiap kita. Jadi pertanyaannya, apakah kita mampu menanyakan pada seluruh realitas yang ada di sekitar kita?
Antara Berpikir Radikal dan Berpikir Biasa
Semua manusia di atas bumi ini, mampu untuk berpikir dalam melakukan segala sesuatu yang diinginkannya. Dengan aktivitas berpikir dapat memudahkan orang untuk terus mencapai pada tujuannya.
Namun disini, muncul pertanyaan, apakah yang dipikirkan semua orang itu berpikir secara radikal atau berpikir biasa saja? Jawabannya sederhana, tidak semua orang berpikir secara radikal, ada orang yang berpikir biasa saja. Maka inilah jawabannya.
Orang yang berpikir radikal berarti orang yang mampu berpikir secara “mendalam dan menyeluruh sampai ke akar-akar masalahnya”, (bdk. Komara, 2011: i). Ia tidak mudah untuk menerima suatu argumen begitu saja tanpa ada pembuktian yang jelas dan logis. Ia mampu untuk melakukan penundaan jika argumen yang disampaikan tidak sesuai dengan apa yang dipikirkannya.

Bukan hanya argumen saja, tetapi juga ia akan mempertanyakan seluruh realitas yang ada. “Hanya apabila akar realias itu telah ditemukan, segala sesuatu yang bertumbuh di atas akar itu akan dapat dipahami. Hanya apabila akar suatu permasalahan telah ditemukan, permasalahan itu dapat dimengerti sebagaimana mestinya”, (Zaprulkhan, 2019: 9).
Berpikir radikal tidak berarti hendak mengubah, membuang, atau menjungkirbalikan segala sesuatu, melainkan dalam arti yang sebenarnya, yaitu berpikir secara mendalam, untuk mencapai akar persoalan yang dipermasalahkan. Berpikir radikal justru hendak memperjelas realitas, lewat penemuan serta pemahaman akan akar realitas itu sendiri.
Di sisi lain, ada pula berpikir biasa. Berpikir biasa bersifat dangkal, tidak sampai pada akar-akar persoalan yang dipermasalahkan. Melainkan, ia adalah orang suka menerima suatu argumen secara spontan tanpa berpikir yang mendalam. Ia adalah orang yang malas berpikir, sehingga mudah dimanipulasi dan bahkan bisa dipermainkan secara halus, kendati pun ia memiliki akal budi.
Ciri-ciri orang yang berpikir dangkal, yakni bersifat kebetulan, subjektif, dan kurang ada kaitan, Naja, 2025: 2). Dari kebiasaan inilah yang akan membentuk menjadi darah daging dalam dirinya, sehingga tidak mampu untuk berpikir kritis dan tidak mampu untuk mengolah pikirannya dengan bertanya.
Apalagi di zaman ini, ada begitu banyak orang muda maupun dewasa yang tidak memiliki pikiran secara radikal, akhirnya mudah terjerumus dengan hal-hal yang bersifat kedangkalan, dan lebih terpaku pada hal-hal yang tidak membagun dirinya berkembang, dan bahkan mudah ditertipu.
Orang yang hanya selalu berpikir biasa itu mudah terpengaruh terhadap perkembangan dunia. Bagaikan arus sungai yang mengalir tanpa henti. Selain itu, orang yang berpikir biasa juga cenderung cepat emosi, mudah tersinggung dan bahkan sulit untuk mengendalikan diri dari pendapat orang lain. Ia juga harus ikut campur tangan di dalamnya, tanpa menyadari siapa dirinya.
Pada dasarnya, kedewasan seseorang belum tentu dia mampu berpikir secara radikal, namun bisa saja berpikir biasa. Jadi, kedewasaan pada berpikir radikal bukan terletak pada umur atau status, tetapi terletak pada siapa yang mampu mempertanyakan pada segala sesuatu dari realitas yang ada, dan ia yang tidak mudah ikut-ikutan dengan pendapat orang lain. Dengan demikan, ia akan mampu mencapai pada berpikir secara radikal dan kritis.
Aku Berpikir Maka Aku Ada “Cogito Ergo Sum”
Kita ada bukan hanya sekadar ada saja. Kita ada karena ada pikiran yang dapat menuntun kita. Sebenarnya, siapa kita tanpa ada pikiran pada kita manusia? Tanpa ada pikiran (rasio), kita sama persis dengan mahkluk hidup lainnya seperti binatang.
Akan tetapi, kita manusia diberi akal budi tidak seperti binatang yang hanya menggunakan instingnya. Tujuannya jelas, yakni untuk mencapai pada kalimat ini: “Aku berpikir maka aku ada,” sebagai manusia sejati.
Aku berpikir maka aku ada, artinya bahwa kita harus berpikir radikal, dengan demikian kita dapat menemukan diri kita yang ada dalam realitas hidup kita.

Menemukan diri kita yang sesungguhnya ada, namun kita sering mengabaikan begitu saja hakibat malas berpikir. Akhirnya, pikiran kita menjadi tumpul sehingga terjerus ke dalam hal-hal yang sangat tidak layak dan tidak penting.
“Hidup kita adalah apa yang dipikirkan oleh pikiran kita,” (Dermawan, 2025: ix). Pemikiran ini timbul bukan karena hasil berpikir dangkal (biasa), melainkan timbul karena adanya berpikir radikal dalam dirinya. Jadi pada dasarnya, segala sesuatu yang kita lakukan semuanya berawal dari pikiran kita yang radikal (radix).
Oleh karena itu, disini kita dituntut untuk berpikir secara radikal. Dengan demikian, kita mampu mengolah segala hal dari keradikalan berpikir itu sendiri. Supaya kita menjadi pribadi-pribadi yang matang dalam hal berpikir dan bertindak. Menjadi orang yang tidak mudah tersinggung dengan kata-kata orang, dan mampu untuk mengendalikan diri dengan pikiran kita. Hal ini dilakukan tujuannya untuk mencapai pada “kebahagiaan (ketenangan hidup),” (Heriyanto, 2026: 4).
Manusia itu akan disebut sebagai manusia sejati jika ia mengguakan rasionya dengan mempertanyakan pada segala sesuatu yang ada dalam realitas hidupnya.
Hidup tanpa bertanya pada realitas yang ada, maka kita akan “mati.” Mati artinya tumpul pikiran kita sehingga tak mampu untuk sampai ke keradikalan berpikir itu sendiri.
Untuk sampai pada tahap keradikalan berpikir, kita harus menghasa pikiran kita dengan bertanya pada seluruh realitas yang ada.
Hal ini perlu untuk kita lakukan agar kita dapat menemukan hakikat eksistensi diri sebagai manusia yang berasional. Jika kita tidak menggunakan pikirian kita, apa gunanya kita hidup sebagai manusia yang berakal budi di bumi ini?
Membentuk Menjadi Manusia Kritis
Keradikalan berpikir pada manusia akan membentuk menjadi manusia kritis. Menjadi manusia kritis bukan karena banyaknya menjawab, melainkan karena banyaknya bertanya. “Bertanya tentang apa yang mereka ketahui dari realitas yang ada, hal itu dilanjutkan hingga ke hal yang paling mendasar,” (Ngari, 2026: 4).
Sebagaimana yang dikatakan Socrates, bahwa “ saya tahu bahwa saya tidak tahu.” Kalimat ini bisa dikatakan sebagai filsafat “kebodohan”.
Akhirnya, ia merasa bahwa diri tidak tahu apa-apa maka ia akan mempertanyakan pada segala sesuatu yang ada, baik itu tentang yang orang sudah ketahui maupun yang belum diketahui orang. Tujuannya membuat kita sadar tentang pengetahuan kita ysng semu, lalu mendorong kita mencari pengetahuan yang lebih mendalam atau lebih mendasar.

Bertanya bukan sekedar bertanya, melainkan bertanya secara berulang kali tanpa henti. Misalnya, apa itu keadilan? Setelah menjawab pertanyaan tersebut maka dari jawaban itu akan melahirkan suatu pertanyaan baru, dan seterusnya.
Singkatnya, pertanyaannya mengalir bagaikan arus sungai yang tak kunjung henti dan terus menerus mencarinya tanpa berhenti di satu titik. Tidak tahu sampai kapan akan berakhir.
Dengan demikian, kita semakin lebih banyak bertanya maka lebih banyak pengetahuan kita juga kendati pun kita tidak menemukan hal yang lebih mendasar itu. Dari situlah, kita dibentuk menjadi manusia-manusia kritis di zaman ini.
Penutup
Manusia akan disebut sebagai manusia “mati” jika akal budinya tidak digunakan dengan mempertanyakan pada seluruh realitas yang ada. Bertanya tentang yang sudah kita ketahui maupun yang belum diketahui.
Kita bisa belajar dari para pemikir Yunani, seperti Plato, Socrates, Aristoteles. Bagaimana cara mempertanyakan pada apa yang kita lihat dan yang tidak kita lihat.
Dengan demikian, supaya kita juga bisa sampai pada keradikalan berpikir itu sendiri. Apa gunanya kita hidup sebagai manusia yang berakal budi jikalau hidup kita tanpa bertanya.
Ia yang mampu bertanya secara berulang kali besar kemungkinan akan sampai pada tahap keradikalan berpikir. Sehingga ia tidak bisa untuk dimanipulasi dengan cara bagaimana pun.
Bahkan akan membingunkan orang yang bertanya padanya. Dan bisa saja orang tersebut dicap sebagai ”orang yang kelainan atau orang gila.” Hal ini terjadi karena orang itu belum memiliki keradikalan berpikir dirinya.
Oleh karena itu, mari saya, kamu, dia, dan mereka atau kita mencoba secara berlahan-lahan untuk menelusuri pada keradikalan berpikir itu sendiri. Supaya kita tidak menjadi manusia yang mudah tertipu dan bahkan tidak mudah menerima suatu argumen yang pada akhirnya menyesatkan kita di kemudian hari.
Apalagi di zaman ini ada begitu banyak tawaran yang menggiurkan kita namun dibalik itu ada sesuatu yang merugikan diri kita sendiri.
Selain itu, kita juga harus memberanikan diri kita untuk bertanya secara berulang-ualng tanpa lelah dan cape karena dengan demikian akan dapat membuat diri kita menjadi manusia radikal dalam berpikir.
Dengan demikian, bisa saja kita menemukan suatu kebenaran yang sesungguh. Baik itu tentang identitas diri kita maupun hakikat dari segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada. Singkatnya, bertanya pada seluruh kenyataan yang ada.
Daftar Pustaka
Prof. Dr. Komara H. Hendang, Filsafat Ilmu dan Metodologi Penelitian, Bandung: Refika Aditama, 2011, hlm. i.
Dr. Zaprulkhan, Filsafat Ilmu: Sebuah Analisis Kontemporer, Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2019), hlm. 9.
Naja A. Floridus, Bahan Ajar Pengantar Teologi, (Jayapura: STFT Fajar Timur, 2025), hlm. 2.
Dermawan Salim, Mindset Stoikisme, Yogyakarta: Jln. LPMP, Karangka Nongko, 2025, hlm. ix.
Heriyanto Albertus, Bahan Ajar Pengantar Filsafat Timur, Jayapura: STFT Fajar Timur, 2026, hlm. 4.
Ngari Ignatius, Bahan Ajar Pengantar Sejarah-Abad Pertengahan, Jayapura: STFT Fajar Timur, 2026, 4.
* Penulis adalah mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Teologi “Fajar Timur”




