TIFFANEWS.CO.ID — Di atas lahan seluas 1 hektare di Kampung Waninggap Kai, Distrik Semangga, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, varietas padi 9G IPB mulai diperkenalkan sebagai bagian dari upaya menguji penerapan inovasi budidaya padi di tingkat petani.
Melalui kegiatan penanaman bersama, Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 06 IPB University bersama pemerintah daerah, penyuluh pertanian, kelompok tani, Brigade Pangan, dan berbagai pemangku kepentingan memulai pengembangan demplot padi 9G sebagai bagian dari penguatan ekosistem bisnis pengolahan padi terintegrasi untuk pengembangan produksi benih dan beras konsumsi di Distrik Semangga.
Kegiatan tersebut menjadi salah satu langkah awal untuk melihat kesesuaian varietas, teknologi budidaya, serta pengelolaan pertanian dalam kondisi nyata di lapangan Merauke.
Ketua Tim TEP 06 IPB University, Prof. Dr. A. Faroby Falatehan, S.P., M.E., menyampaikan bahwa kegiatan demplot tidak hanya berorientasi pada proses tanam, tetapi menjadi ruang pembelajaran bersama antara akademisi dan masyarakat petani.
“Demplot ini menjadi bagian dari upaya kita untuk melihat bagaimana inovasi, teknologi, dan kondisi lapangan dapat berjalan bersama sehingga menghasilkan model pengembangan yang memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Faroby.

Menurutnya, pengembangan pertanian padi membutuhkan keterhubungan antara inovasi varietas, teknologi budidaya, kapasitas petani, serta dukungan berbagai pihak.
“Kita ingin membangun pengembangan pertanian yang sesuai dengan kebutuhan lapangan dan dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” katanya.
Kegiatan penanaman bersama tersebut juga menjadi momentum kolaborasi antar Tim Ekspedisi Patriot di Kabupaten Merauke. Ketua Tim TEP Tanah Miring, Dr. Muhammad Syukur Sarfat, S.TP., M.Sc., bersama tim turut hadir memberikan dukungan terhadap pengembangan pertanian berbasis inovasi di Papua Selatan.
Selain itu, kegiatan tersebut dihadiri oleh Direktur Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Manokwari sekaligus Penanggung Jawab Oplah (Olah Lahan) Papua Selatan, Dr. Oeng Anwarudin, S.Pt., M.Si., serta Plt. Kepala BRMP Papua Selatan sekaligus Penanggung Jawab Swasembada Pangan Kabupaten Merauke, Dr. Ir. Martina Sri Lestari, M.P.

Kehadiran berbagai pemangku kepentingan tersebut menunjukkan pentingnya kolaborasi antara akademisi, pemerintah, penyuluh, dan masyarakat dalam mendukung pengembangan pertanian padi di Merauke.
Sebelum proses penanaman dimulai, peserta mendapatkan penjelasan mengenai karakteristik varietas padi 9G IPB yang disampaikan oleh Dwi Arizna Arofah, S.P., M.Si., perwakilan tim Dr. Ir. Ahmad Junaedi, M.Si., dari IPB University.
Dalam penjelasannya, padi 9G IPB diperkenalkan sebagai salah satu inovasi varietas yang akan diamati dan dipelajari kesesuaiannya dengan kondisi agroekosistem di Kampung Waninggap Kai.
Setelah sesi penjelasan dan foto bersama seluruh peserta, kegiatan dilanjutkan dengan penanaman menggunakan Metode PM-AAS (Pertanian Modern – Advanced Agricultural System) yaitu dengan menggunakan Drum Seeder.
Penggunaan metode tersebut menjadi bagian dari penerapan mekanisasi pertanian modern melalui sistem Tanam Benih Langsung (Tabela). Teknologi ini memungkinkan proses penanaman dilakukan secara lebih efisien dibandingkan metode manual.
Penanaman bersama tersebut melibatkan Tim TEP 06 IPB University, Tim TEP Tanah Miring, PPL Waninggap Kai Hasianna D. Samosir, LO Kementerian Pertanian Nurhayati, Kamtiker Kuntari Puspogiri, Brigade Pangan Kampung Waninggap Kai, Gapoktan, serta masyarakat petani.
Ketua Gapoktan Kampung Waninggap Kai, Wantoro, menyampaikan bahwa kegiatan demplot menjadi kesempatan bagi petani untuk melihat langsung penerapan varietas dan teknologi baru.
“Harapannya kegiatan ini dapat menjadi pembelajaran bagi petani. Kami ingin melihat bagaimana hasilnya di lapangan dan bagaimana teknologi ini dapat diterapkan sesuai kondisi di Waninggap Kai,” ujar Wantoro.
Demplot padi 9G seluas 1 hektare tersebut diharapkan menjadi lokasi pembelajaran bersama untuk melihat proses budidaya, adaptasi varietas, serta peluang pengembangan produksi padi di Merauke.
Melalui kolaborasi antara IPB University, pemerintah, penyuluh, dan masyarakat petani, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat pengembangan padi Merauke yang berbasis inovasi, teknologi, dan kebutuhan nyata di lapangan.




