TIFFANEWS.CO.ID – Tim Densus 88 Antiteror Polri Satuan Tugas Wilayah (Satgaswil) Papua menggelar sosialisasi pencegahan radikalisme digital kepada pelajar SMA Negeri 2 Merauke, Jumat (9/1/2026). Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kewaspadaan generasi muda terhadap penyebaran paham radikal yang kini masif menyasar pelajar melalui media sosial dan berbagai platform digital.
Sosialisasi dipimpin langsung oleh Iptu Firson Hidayat bersama Tim Pencegahan Densus 88 Satgaswil Papua. Para pelajar dibekali pemahaman mengenai pola penyebaran paham radikal di ruang digital serta pentingnya memperkuat nilai kebangsaan, toleransi, dan persatuan.
“Kami hadir dengan satu misi penting, yaitu menjaga adik-adik agar tidak tersesat dalam labirin informasi di era digital yang semakin kompleks,” ujar Iptu Firson dalam pemaparannya.
Ia mengungkapkan, berdasarkan data hingga Desember 2025, Kabareskrim Polri mencatat sebanyak 68 anak di Indonesia terdeteksi terpapar paham Neo-Nazi dan White Supremacy. Ideologi tersebut merupakan paham rasis ekstrem yang memuja kekerasan serta menganggap satu kelompok lebih unggul dari kelompok lainnya.

“Paham ini sering kali masuk secara halus melalui game online, grup Discord, hingga konten media sosial yang tampak menarik dan keren, terutama menyasar remaja yang sedang mencari jati diri,” jelasnya.
Menurutnya, radikalisme berpotensi merusak kedamaian dan rasa persaudaraan, termasuk di Tanah Papua yang selama ini dikenal menjunjung tinggi nilai kebersamaan dan toleransi.
Iptu Firson juga menjelaskan tahapan penyebaran radikalisme yang dikenal dengan istilah IRET, yakni Intoleransi, Radikalisme, Ekstremisme, dan Terorisme. Proses ini, kata dia, berawal dari sikap tidak toleran terhadap perbedaan.
“Jika tidak diantisipasi sejak dini, intoleransi dapat berkembang menjadi ekstremisme dan berujung pada tindakan terorisme yang merusak nilai kemanusiaan serta persatuan bangsa,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, ia menegaskan bahwa Pancasila merupakan benteng utama dalam menangkal paham radikal. Pancasila, lanjutnya, adalah konsensus luhur para pendiri bangsa yang memayungi seluruh golongan tanpa membedakan suku, agama, dan ras.
“Toleransi bukan berarti menghapus perbedaan, tetapi menghormatinya agar kita bisa hidup berdampingan secara damai,” tegasnya.
Melalui sosialisasi ini, Densus 88 berharap para pelajar dapat menjadi agen perdamaian di lingkungan sekolah dan masyarakat, serta lebih bijak dalam menyaring informasi di dunia digital.
“Jika menemukan ajakan yang mengarah pada kebencian atau kelompok tertutup yang mencurigakan, segera laporkan kepada guru, orang tua, atau pihak berwenang,” pesannya.
Ia menutup kegiatan dengan mengajak para pelajar menjaga Papua sebagai tanah yang damai dan penuh toleransi.
“Masa depan Papua ada di pundak kalian. Mari kita jaga Tanah Papua agar tetap menjadi rumah bersama, tanpa rasisme dan tanpa radikalisme. Torang hebat karena torang beragam,” pungkasnya.
Sementara itu, salah satu pelajar SMA Negeri 2 Merauke, Reza Muhamad Saputra, mengapresiasi kegiatan tersebut. Ia mengaku memperoleh wawasan baru mengenai bahaya radikalisme digital di lingkungan sekolah.
“Sosialisasi ini sangat penting bagi kami sebagai generasi muda agar lebih waspada dan bijak dalam menggunakan teknologi,” ujarnya.
(JW)




