Oleh : Ronny Imanuel Rumboy
TIFFANEWS.CO.ID – Bayangkan sebuah pagi di Distrik Kurik, kabut halus masih bergelayut di hamparan tanah Merauke. Di kejauhan, burung-burung bersahutan seolah sedang rapat kecil sambil menunggu kopi panas disuguhkan. Ini bukan sekadar pagi biasa, ini adalah undangan untuk berkenalan lebih dekat dengan tempat yang mungkin belum masuk radar turis, tetapi sudah lama menjadi rumah bagi ribuan jiwa yang murah senyum dan punya cerita.
Distrik Kurik sendiri adalah wilayah administratif yang luas sekali sekitar ± 13.052,34 km² dengan penduduk sekitar 15.536 jiwa (data BPS) yang tersebar di 13 kampung, termasuk Salor Indah dan Harapan Makmur. Jarak dari kota Merauke ke pusat distrik ini sekitar 1–2 jam perjalanan darat, cukup untuk memikirkan makna hidup, atau sekadar dialog batin tentang sarapan berikutnya.

Adapun 13 kampung di Distrik Kurik tersebut yakni Kampung Kurik, Kampung Kaliki, Kampung Sumber Mulya, Kampung Jaya Makmur, Kampung Anumbob, Kampung Harapan Makmur, Kampung Ivimahad, Kampung Telaga Sari, Kampung Salor Indah, Kampung Sumber Rejeki, Kampung Wapeko, Kampung Candra Jaya, dan Kampung Wonorejo.
Di balik deretan nama kampung itu, denyut ekonomi masyarakat berjalan dalam irama yang sederhana namun pasti. Mayoritas warga bekerja sebagai petani dan menggantungkan hidup dari hasil pertanian serta usaha mikro kecil menengah yang tumbuh di rumah-rumah warga. Sawah, ladang, kios sembako, hingga usaha olahan pangan menjadi penopang utama kehidupan sehari-hari.
Salor Indah: Ujung Timur yang Berkilau
Jika nama Salor Indah tidak asing lagi bagi Anda yang mengikuti pembangunan provinsi, itu bukan tanpa alasan: kampung ini dirancang sebagai pusat administratif masa depan Provinsi Papua Selatan. Ide “Kota Terpadu Mandiri Salor (KTM)” yang kemudian menjadi “Kawasan Pusat Pemerintahan (KPP)” Provinsi Papua Selatan bukan sekadar jargon melainkan lukisan mimpi besar yang tengah digambar di atas kanvas tanah Papua Selatan.
Begitu Anda melangkahkan kaki di jalan-jalan perkampungan, mungkin yang pertama menyapa adalah deretan pohon, kemudian anak-anak sekolah dengan seragam rapi menuju kelas di SD Inpres Salor 2 yang punya ± 248 siswa dan 13 guru penuh semangat mencerdaskan anak bangsa.
Orang Salor itu ramah, bukan menurut brosur atau slogan wisata, tetapi dari sapaan hangat ibu yang lewat, dan lambaian anak SD yang tak segan bilang “hello” setiap kali Anda ada di trotoar berdebu. Suara mereka adalah bagian dari simfoni kehidupan sosial di kampung ini, yang tak ingin Anda lewatkan begitu saja.

Salah seorang warga Kurik yang merupakan petani padi dan telah menetap lebih dari dua dekade, menuturkan bahwa sebagian besar masyarakat di wilayah ini hidup dari pertanian.
“Di sini rata-rata orang kerja di sawah. Pagi ke ladang, sore baru kumpul di rumah atau di kios kecil. Selain bertani, ada juga yang usaha sembako, jual hasil kebun, atau bikin usaha kecil-kecilan. Itu yang bikin ekonomi tetap jalan,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa kehidupan sosial di Kurik berjalan harmonis. “Kami di sini hidup rukun. Mau beda agama atau suku, tidak jadi soal. Kalau ada hari besar keagamaan, biasa saling bantu dan saling jaga. Toleransi itu sudah jadi kebiasaan, bukan cuma slogan,” katanya.
Harapan Makmur: Di Mana Kata Harapan Benar-Benar Nyata
Siapa yang tak terpana dengan nama Harapan Makmur? Di kampung kecil ini, kata harapan bukan sekedar nama, itu adalah hidup yang dihirup setiap pagi saat warga keluar rumah untuk menanam, berdagang, atau ikut program komunitas.
Baru-baru ini, Harapan Makmur ditetapkan sebagai lokasi pilot project Koperasi Desa Merah-Putih (KDMP), program inovatif yang menyediakan layanan kesehatan, sembako, hingga dukungan hasil lokal seperti beras. Semua itu dilakukan dengan dukungan badan usaha negara seperti BULOG, Pertamina, hingga BRI.

Bayangkan sebuah koperasi desa yang tidak hanya menjual barang kebutuhan, tetapi juga menjadi tempat warga berkumpul karena berhadapan dengan Kantor Distrik Kurik dan Lapangan Distrik. Disini masyarakat saling bertukar cerita, mengatur stok beras, dan tentu saja… bercanda soal siapa yang lebih tajam bakat bercocok taninya. Ini bukan pasar biasa, ini semacam “balai warga” yang riuh rendah penuh tawa.
Kurik bukan sekedar nama di peta; ini adalah kehidupan yang penuh ritme sosial:
Pendidikan tumbuh subur: Beberapa sekolah dasar dan menengah tersebar di kampung; dari SD hingga SMA yang melayani ratusan siswa di Harapan Makmur hingga sejumlah sekolah lain di Salor dan kampung tetangga.
Partisipasi masyarakat aktif: Program seperti Kampung Siaga Aktif di Salor Indah menunjukkan bagaimana warga saling mendukung dalam kesehatan dan penyuluhan, dengan komunikasi yang akrab antar generasi.
Tawa sambil menunggu jalan mulus: Saat masyarakat menyampaikan aspirasi tentang perbaikan jalan saat kegiatan Safari Ramadhan, itu bukan sekadar kritik, itu ajakan bercanda sambil berharap jalan kampung tak lagi berlubang seperti sarang semut.
Warga Kurik punya gaya komunikasi yang sederhana namun menyentuh: sapaan pagi adalah modal sosial, dan berbagi cerita selepas kerja ladang adalah ritual harian yang memperkuat solidaritas.

Keindahan Sosial dan Panorama
Saya pernah berpikir apa sih yang membuat hati bertahan di satu tempat? Apakah indahnya panorama? Atau ramahnya penduduk?
Di Kurik, kedua hal itu bersatu padu. Di Salor, dari kejauhan terlihat hamparan savana yang tersapu cahaya jingga saat senja. Di Harapan Makmur, angin berdansa di antara padi yang siap panen. Terlebih ketika tawa anak-anak sekolah berpadu dengan derap langkah orang dewasa selepas kerja, kurva kebahagiaan di sini naik terus tanpa henti.
Kurik, terutama Salor dan Harapan Makmur, mengajarkan kita bahwa kehidupan sosial yang hangat hadir bukan karena megahnya gedung, tetapi karena hangatnya jiwa yang menunggu untuk dikenali. (Ron)




