TIFFA NEWSTIFFA NEWS
  • HOME
  • BERITA
  • OLAHRAGA
  • KAMTIBMAS
  • POLITIK
  • PPS
  • NUSANTARA
  • GALERI
  • OPINI
  • OTHERS
    • PUSTAKA
    • BUDAYA
    • EKONOMI
    • HANKAM
    • HAM
    • JEJAK
    • GAYA HIDUP
    • INTAN JAYA
    • SOSOK
Search
Reading: Misa Imlek dan Inkulturasi
Share
TIFFA NEWSTIFFA NEWS
Search
  • HOME
  • BERITA
  • OLAHRAGA
  • KAMTIBMAS
  • POLITIK
  • PPS
  • NUSANTARA
  • GALERI
  • OPINI
  • OTHERS
    • PUSTAKA
    • BUDAYA
    • EKONOMI
    • HANKAM
    • HAM
    • JEJAK
    • GAYA HIDUP
    • INTAN JAYA
    • SOSOK
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2022 RAKA for Tiffa Company. All Rights Reserved.
TIFFA NEWS > News > BERITA > Misa Imlek dan Inkulturasi
BERITAOPINI

Misa Imlek dan Inkulturasi

Last updated: 15/02/2026 - 18:49
By bungben
Share
RD. Yohanis Elia Sugianto
SHARE

Oleh RD. Yohanis Elia Sugianto

Dalam dua dekade terakhir, khususnya pasca-Era Reformasi di Indonesia, wajah Gereja Katolik pada bulan Januari atau Februari sering kali berubah warna. Ornamen merah mendominasi panti imam, lampion tergantung di serambi gereja, dan lagu-lagu liturgi mengalun dengan tangga nada pentatonik khas oriental. Fenomena ini, yang kita kenal sebagai Misa Imlek, bagi sebagian umat adalah wujud sukacita yang membebaskan. Namun, bagi sebagian lainnya, fenomena ini memantik pertanyaan teologis yang serius, bahkan kecurigaan terpendam: “Apakah Gereja sedang melakukan sinkretisme? Mengapa sebuah perayaan yang berakar dari tradisi non-Kristen mendapat tempat begitu istimewa di dalam perayaan Ekaristi yang sakral? Apakah Gereja pilih kasih terhadap etnis tertentu?”

Kecurigaan ini tidak boleh diabaikan atau dianggap sepi. Dalam teologi pastoral, kegelisahan umat adalah locus theologicus yang harus dijawab dengan terang iman. Tulisan ini bertujuan mendudukkan perkara tersebut bukan dengan opini subjektif, melainkan berpijak pada dokumen resmi Magisterium Gereja. Kita akan membedah bahwa Misa Imlek bukanlah penyembahan berhala, bukan pula favoritisme etnis, melainkan konsekuensi logis dari iman akan Inkarnasi Kristus dan teologi penciptaan yang universal.

Memurnikan Pemahaman Tentang Imlek

Langkah pertama untuk menerima Imlek dalam liturgi adalah memurnikan definisi kita tentang apa itu Imlek. Sering terjadi kerancuan berpikir yang menyamakan “Budaya Tionghoa” dengan “Agama Taoisme atau Konfusianisme”.

  • Akar Agraris dan Kosmis: Perayaan Musim

Secara historis, Imlek atau Chun Jie (Festival Musim Semi) lahir jauh sebelum agama-agama terlembaga mapan di Tiongkok. Ia adalah perayaan agraris. Bagi masyarakat Tiongkok kuno yang hidup dari bercocok tanam, siklus alam adalah penentu hidup dan mati. Imlek menandai titik balik matahari, berakhirnya musim dingin yang mematikan dan datangnya musim semi yang membawa harapan kehidupan baru.

Dalam perspektif antropologi budaya, perayaan ini adalah respons alami manusia terhadap ritme alam semesta. Ini adalah ungkapan syukur kepada “Langit” (Tian) yang dalam pemahaman iman kita adalah Allah Pencipta, atas penyertaan selama setahun yang lalu, dan permohonan perlindungan untuk panen di tahun depan. Karena sifatnya yang berakar pada hukum alam, Imlek adalah milik semua manusia yang hidup dalam lingkup budaya tersebut, terlepas dari apa pun agamanya kemudian. Gereja melihat ini bukan sebagai ritual pagan, melainkan sebagai pengudusan waktu.[1]

  • Bakti dan Rekonsiliasi

Selain dimensi alam, Imlek memiliki dimensi sosial yang sangat kuat yang berpusat pada nilai Bakti (Xiao). Tradisi makan malam bersama (Reuni) dan mengunjungi orang tua (Pai Cia) adalah mekanisme sosial untuk merajut kembali tali persaudaraan.

Gereja Katolik memandang nilai-nilai hormat kepada orang tua, persaudaraan, dan syukur atas hasil bumi, sebagai nilai universal yang selaras dengan Hukum Taurat, khususnya Perintah Allah ke-4: “Hormatilah ayahmu dan ibumu”. Oleh karena itu, Imlek dalam kacamata Gereja adalah “bahan baku” budaya yang sangat baik untuk diangkat ke dalam liturgi, karena ia mengandung benih-benih kebenaran yang memuliakan martabat manusia.[2]

Mengapa Gereja “Masuk” ke Dalam Budaya?

Gereja Katolik tidak pernah menolak budaya. Sebaliknya, Gereja memandang budaya sebagai “rahim” di mana iman dapat bertumbuh. Sikap ini bukan strategi marketing untuk menarik umat, melainkan mandat ilahi yang berakar pada peristiwa Inkarnasi.

  • Misteri Inkarnasi sebagai Pola Dasar

Dasar teologis utama dari Ekaristi Imlek adalah Inkarnasi. “Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita” (Yoh 1:14). Ketika Allah memutuskan menyelamatkan manusia, Dia tidak tetap tinggal di surga yang jauh. Dia menjadi manusia Yahudi, berbicara bahasa Aram, makan makanan Yahudi, dan mengikuti adat istiadat Yahudi.

Trending Now:  Naik di Januari 2024, Dinkes Merauke Klaim Kasus DBD Kembali Turun

Allah “masuk” ke dalam budaya manusia secara total. Inilah pola dasar (arketipe) bagi Gereja. Jika Allah saja sudi mengenakan “baju budaya” manusia, maka Gereja pun dipanggil untuk melakukan hal yang sama: mewartakan Injil dan merayakan misteri keselamatan dalam bahasa dan simbol yang dipahami oleh umat setempat. Penolakan terhadap budaya lokal sama artinya dengan penyangkalan terhadap logika Inkarnasi itu sendiri.[3]

  • Sacrosanctum Concilium: Legitimasi Keanekaragaman Liturgis

Dokumen Konsili Vatikan II, Sacrosanctum Concilium (SC), adalah tonggak sejarah yang mengubah cara pandang Gereja terhadap budaya. Sebelum Konsili, ada kecenderungan kuat untuk menyamakan “Katolik” dengan “Eropa/Romawi”. Namun, Artikel 37 dari dokumen ini memberikan mandat yang revolusioner:

“Gereja tidak bermaksud memaksakan bentuk keseragaman yang kaku pada hal-hal yang tidak menyangkut iman atau kesejahteraan segenap jemaat; malahan Gereja memelihara dan memajukan kekayaan hiasan dan bakat pembawaan berbagai bangsa dan suku. Apa saja dalam adat kebiasaan bangsa-bangsa, yang tidak terikat mutlak pada takhayul dan ajaran sesat, ditimbangnya dengan saksama dan – kalau mungkin – dipeliharanya dengan utuh dan wajar.”[4]

Frasa “tidak bermaksud memaksakan bentuk keseragaman yang kaku” adalah kunci hermeneutik. Liturgi Romawi (Latin) bukanlah satu-satunya cara berdoa yang sah. Selama elemen-elemen pokok (seperti materi Ekaristi: roti dan anggur, serta kata-kata institusi) tetap terjaga, Gereja membuka ruang bagi ekspresi budaya. Imlek, dengan simbolisme warna merah, lampion, dan bahasanya, adalah bagian dari “kekayaan hiasan dan bakat pembawaan” yang diakui Konsili sebagai sesuatu yang layak dipelihara, bukan diberangus.

  • Ad Gentes: Teologi “Benih Sabda”

Lebih dalam lagi, Dekrit Ad Gentes (AG) mengajarkan konsep Semina Verbi atau Benih-Benih Sabda. Gereja percaya bahwa Roh Kudus telah bekerja di dalam budaya-budaya kuno jauh sebelum misionaris datang.

“Segala sesuatu yang baik, yang sudah tertabur dalam hati dan budi orang-orang, atau dalam adat kebiasaan serta kebudayaan bangsa-bangsa sendiri, bukan saja tidak hilang, melainkan disembuhkan, diangkat, dan disempurnakan demi kemuliaan Allah.”[5]

Perhatikan tiga kata kerja teologis yang digunakan:

  • Disembuhkan: Gereja memurnikan unsur Imlek dari takhayul (misalnya ketakutan pada nasib buruk atau monster Nian).
  • Diangkat: Tradisi makan bersama dan bagi angpao diangkat derajatnya dari sekadar tradisi sosial menjadi wujud Caritas (kasih kristiani).
  • Disempurnakan: Syukur kepada “Langit” yang abstrak dalam tradisi Tionghoa kuno, disempurnakan menjadi Ekaristi (Syukur Sejati) kepada Allah Bapa melalui Yesus Kristus.

Jadi, Misa Imlek adalah proses “pembaptisan budaya”. Budaya itu tidak dibuang, tetapi dibersihkan dan dipersembahkan kembali kepada Tuhan.

Favoritisme Etnis Tionghoa?

Salah satu keberatan yang paling sering terdengar adalah: “Mengapa hanya Imlek yang dirayakan begitu meriah? Mengapa budaya lain tidak?” Untuk menjawab ini, kita perlu membedakan antara prinsip teologis dan realitas sosiologis.

  • Universalitas Gereja (Katolisitas)

Kata “Katolik” berasal dari bahasa Yunani Kata-holos, yang berarti “menurut keseluruhan” atau universal. Universalitas tidak berarti keseragaman, melainkan kesatuan dalam keberagaman. Gereja Katolik di Indonesia faktanya telah melakukan inkulturasi yang sangat masif, bukan hanya Imlek, namun seringkali luput dari sorotan media nasional:

  • Di Jawa, Gereja merayakan Misa Syukur Panen (Pari), Misa Satu Suro, dan penggunaan Gamelan yang intensif.
  • Di Kalimantan, perayaan Gawai Dayak (pesta panen) seringkali ditutup atau diawali dengan Misa Inkulturasi yang meriah.
  • Di Sumatera Utara, Misa dengan gondang Batak dan ulos adalah hal yang lumrah dalam liturgi pesta.
  • Di Toraja, ornamen gereja (Tongkonan) dan tata liturgi sangat kental dengan nuansa lokal.
Trending Now:  Malam Puncak HUT Kota Merauke ke-121, Panitia Undang Trio Ambisi Hibur Warga

Artinya, secara teologis, Gereja tidak menganakemaskan budaya Tionghoa. Semua budaya memiliki martabat yang sama di hadapan altar Tuhan.[6]

  • Faktor Visibilitas Sosiologis

Jika Imlek terasa “diistimewakan”, itu lebih disebabkan oleh faktor sosiologis dan demografis:

  • Momentum Nasional: Sejak era pemerintahan Presiden Gus Dur dan Megawati, Imlek menjadi Hari Libur Nasional. Ini memberikan momentum publik yang besar yang tidak dimiliki oleh perayaan adat lokal lainnya yang bersifat kedaerahan.
  • Demografi Perkotaan: Umat Katolik beretnis Tionghoa banyak terkonsentrasi di paroki-paroki kota besar. Karena lokasi yang strategis dan eksposur media, perayaan mereka lebih terlihat (visible) dibandingkan Misa Inkulturasi di pedalaman yang mungkin jauh lebih “kental” secara budaya namun kurang terekspos.
  • Pastoral bagi Kaum Diasporal

Paus Fransiskus dalam Evangelii Gaudium menekankan pentingnya menghargai kesalehan umat. Bagi umat Tionghoa Katolik, Imlek adalah bagian integral dari identitas diri. Menolak Imlek sama dengan meminta mereka mencabut akar kemanusiaan mereka saat masuk Gereja. Gereja, sebagai Ibu (Mater et Magistra), memeluk anak-anak-Nya secara utuh, sebagai orang Katolik yang juga orang Tionghoa, orang Jawa, atau orang Batak.[7]

Rambu-Rambu Dan Makna Simbol

Bagaimana inkulturasi ini dijalankan agar tidak melenceng menjadi sinkretisme? Instruksi Varietates Legitimae (1994) dari Kongregasi Ibadat Ilahi memberikan pedoman teknis yang ketat. Ini bukan “asal tempel”, melainkan proses liturgis yang serius.

  • Re-signifikasi Simbol

Dalam Misa Imlek, simbol-simbol budaya diberi makna baru yang kristiani:

  • Warna Merah: Dalam tradisi Tionghoa melambangkan kebahagiaan dan kehidupan. Dalam liturgi Katolik, merah adalah warna Roh Kudus (Pentakosta) dan darah kemartiran. Kedua makna ini bertemu dalam Misa Imlek: Kita bersukacita atas hidup baru, namun sadar bahwa hidup itu butuh bimbingan Roh Kudus dan semangat pengorbanan.[8]
  • Jeruk (Mandarin): Melambangkan rezeki/emas (Chi). Dalam perarakan persembahan, jeruk dibawa ke altar sebagai simbol hasil bumi dan karya manusia yang dipersembahkan kembali kepada Tuhan. Ini adalah visualisasi dari doa persembahan: “Terpujilah Engkau, Tuhan, Allah semesta alam, sebab dari kemurahan-Mu kami menerima…”
  • Angpao: Diubah maknanya dari sekadar uang keberuntungan menjadi sarana solidaritas sosial. Gereja sering menggunakan momen ini untuk kolekte khusus atau derma bagi yang miskin, mengajarkan bahwa rezeki harus mengalir.
  • Masalah Penghormatan Leluhur

Ini adalah titik teologis paling krusial. Sejarah mencatat “Sengketa Ritus Tiongkok” (abad ke-17 & 18) yang sempat membuat Vatikan melarang ritus ini. Namun, pada tahun 1939, Paus Pius XII melalui instruksi Plane Compertum Est mencabut larangan tersebut dengan pemahaman baru: penghormatan leluhur adalah manifestasi sipil/etika dari bakti anak, bukan aktivitas religius menyembah dewa.

Dalam Misa Imlek, penghormatan leluhur ditempatkan dalam kerangka dogmatis Persekutuan Para Kudus (Communio Sanctorum). Kita mendoakan arwah leluhur agar beristirahat dalam damai, bukan meminta berkat dari mereka layaknya kepada Tuhan. Sikap membungkuk di depan foto leluhur dimaknai sebagai dulia (penghormatan) atau pietas (bakti), bukan latria (penyembahan yang hanya milik Allah).[9]

  • Batas-Batas Liturgis

Meskipun terbuka, Gereja tetap tegas memegang aturan Varietates Legitimae:

  • Materi Sakramen: Roti harus dari gandum dan anggur dari buah anggur murni. Tidak boleh diganti dengan kue keranjang atau arak beras, meskipun itu khas Imlek, karena akan membatalkan sakramen.
  • Doa Syukur Agung: Rumusan doa konsekrasi tidak boleh diubah dengan puisi Mandarin.
  • Larangan Takhayul: Praktik seperti meramal nasib (Ciam Si) atau membakar uang kertas (Jin Zhi) dilarang keras di dalam liturgi karena bertentangan dengan eskatologi Kristen yang percaya bahwa keselamatan hanya ada pada Kristus, bukan pada nasib atau uang akhirat.[10]
Trending Now:  Lima Komisioner KPU Provinsi Papua Selatan Resmi Dilantik

Maksud Dan Tujuan Pastoral

Berdasarkan seluruh uraian di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa maksud dan tujuan Gereja mengadakan Ekaristi Imlek adalah:

  • Pengudusan Waktu (Sanctificatio Temporis): Gereja ingin hadir di momen penting umatnya untuk menguduskan waktu tersebut, mengajak umat memulai tahun baru bukan dengan pesta pora, tetapi dengan Ekaristi (Ucapan Syukur tertinggi).
  • Evangelisasi Kebudayaan: Menunjukkan wajah Gereja yang ramah dan terbuka, yang mampu membaptis budaya tanpa menghilangkan identitas etnis umatnya.
  • Pendidikan Nilai: Menggunakan momen budaya untuk menekankan kembali nilai-nilai Injili seperti hormat kepada orang tua, keutuhan keluarga, dan kepedulian sosial.

Perayaan Ekaristi Imlek, jika dipahami dengan benar, adalah bukti keindahan Katolisitas Gereja. Tidak ada favoritisme di mata Tuhan, yang ada adalah kekayaan ekspresi iman. Ketika kita melihat lampion di gereja, hendaknya kita tidak melihatnya sebagai “Cinaisasi Gereja”, melainkan sebagai penggenapan sabda: “Biarlah segala bangsa memuji Engkau, ya Allah, biarlah segala bangsa memuji Engkau” (Mzm 67:3).

Daftar Pustaka

Chupungco, Anscar J. Liturgical Inculturation: Sacramentals, Religiosity, and Catechesis. Collegeville, Minnesota: The Liturgical Press, 1992.

Komisi Liturgi KWI. Pedoman Umum Misale Romawi (PUMR) Edisi Indonesia. Jakarta: KWI, 2002.

Kongregasi untuk Ibadat Ilahi dan Tata Tertib Sakramen. Varietates Legitimae: Instruksi tentang Liturgi Romawi dan Inkulturasi. Vatican City: Libreria Editrice Vaticana, 1994.

Kongregasi Propaganda Fide. Plane Compertum Est: Instruksi Mengenai Ritus-Ritus Tiongkok. Vatican City, 1939.

Konsili Vatikan II. “Ad Gentes (Dekrit tentang Kegiatan Misioner Gereja).” Dalam Dokumen Konsili Vatikan II, diterjemahkan oleh R. Hardawiryana, SJ. Jakarta: Obor, 1993.

Konsili Vatikan II. “Gaudium et Spes (Konstitusi Pastoral tentang Gereja di Dunia Dewasa Ini).” Dalam Dokumen Konsili Vatikan II, diterjemahkan oleh R. Hardawiryana, SJ. Jakarta: Obor, 1993.

Konsili Vatikan II. “Sacrosanctum Concilium (Konstitusi tentang Liturgi Suci).” Dalam Dokumen Konsili Vatikan II, diterjemahkan oleh R. Hardawiryana, SJ. Jakarta: Obor, 1993.

Martasudjita, E.P.D. Teologi Inkulturasi Liturgi. Yogyakarta: Kanisius, 2021.

Phan, Peter C. In Our Own Tongues: Perspectives from Asia on Mission and Inculturation. Maryknoll, NY: Orbis Books, 2003.

Subagya, Rachmat. Agama dan Alam Kerohanian Asli di Indonesia. Jakarta: Cipta Loka Caraka, 1981.

[1] Rachmat Subagya, Agama dan Alam Kerohanian Asli di Indonesia (Jakarta: Cipta Loka Caraka, 1981), hal. 35-38.

Rachmat Subagya, Agama dan Alam Kerohanian Asli di Indonesia (Jakarta: Cipta Loka Caraka, 1981), hal. 35-38.

[2] Peter C. Phan, In Our Own Tongues: Perspectives from Asia on Mission and Inculturation (Maryknoll, NY: Orbis Books, 2003), hal. 45-50.

[3] E.P.D. Martasudjita, Teologi Inkulturasi Liturgi (Yogyakarta: Kanisius, 2021), hal. 22-25.

[4] Konsili Vatikan II, Sacrosanctum Concilium (Konstitusi tentang Liturgi Suci), 4 Desember 1963, art. 37.

[5] Konsili Vatikan II, Ad Gentes (Dekrit tentang Kegiatan Misioner Gereja), 7 Desember 1965, art. 9.

[6] Komisi Liturgi KWI, Pedoman Umum Misale Romawi (PUMR) Edisi Indonesia (Jakarta: KWI, 2002), no. 390-395.

[7] Paus Fransiskus, Evangelii Gaudium (Seruan Apostolik tentang Sukacita Injil), (Jakarta: Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI, 2013), art. 115-116.

[8] Anscar J. Chupungco, Liturgical Inculturation: Sacramentals, Religiosity, and Catechesis (Collegeville: Liturgical Press, 1992), hal. 78.

[9] Kongregasi Propaganda Fide, Plane Compertum Est (Instruksi Mengenai Ritus-Ritus Tiongkok), 8 Desember 1939.

[10] Kongregasi untuk Ibadat Ilahi dan Tata Tertib Sakramen, Varietates Legitimae (Instruksi tentang Liturgi Romawi dan Inkulturasi), Vatican City, 25 Januari 1994, no. 32-33.

You Might Also Like

HUT ke-63 GIDI Wilayah Pantai Selatan, Pdt. Metuben Gombo: Penginjilan Belum Selesai

Gubernur Apolo Ajak Umat Jagebob Siapkan Fisik dan Spiritual Jelang Ramadhan

Pengukuhan Pemuda Muhammadiyah dan Nasyiatul Aisyiyah Merauke, Gubernur Papsel Ingatkan Keseimbangan Organisasi

Bidik 2029! Apolo Pastikan Golkar Papua Selatan Siap Mesin Politik Sejak Dini

TAGGED: etnis Tionhoa, Imlek, Komisi Liturgi, Misa Imlek, tradisi tioghoa
bungben 15/02/2026
Share this Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Telegram Email Print
What do you think?
Love0
Sad0
Happy0
Sleepy0
Angry0
Dead0
Wink0
Previous Article HUT ke-63 GIDI Wilayah Pantai Selatan, Pdt. Metuben Gombo: Penginjilan Belum Selesai
Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow US

Find US on Social Medias
Facebook Like
Twitter Follow
Youtube Subscribe
Telegram Follow
- Advertisement -
Ad imageAd image
- Advertisement -
Ad imageAd image
newsletter featurednewsletter featured

Weekly Newsletter

Kirim Email Anda agar bisa kami infokan berita pilihan terpopuler

Popular News
BERITAOPINI

Dialektika Koteka Dan Seragam Khaki: Menakar Identitas Tubuh Birokrasi Di Tanah Papua

By Tiffa News 5 days ago
Pasca Insiden Korowai, Gubernur Apolo Pastikan Evakuasi Total Petugas dan Warga
Berfilsafat Membentuk Manusia Radikal dalam Berpikir
Retaknya Mitos “Selatan Aman”
Sekda: Kunker DJPK Bukti Perhatian Pusat untuk Papua Selatan

SUARNEWS.COM

about us

We influence 20 million users and is the number one business and technology news network on the planet.

  • BERITA
  • PON XX 2021
  • GALERI
  • KAMTIBMAS
  • NUSANTARA
  • PUSTAKA
  • GAYA HIDUP
  • JEJAK
  • SUARNEWS
  • INTAN JAYA
  • Susunan Redaksi
  • Tentang Kami
  • Contact
  • Privacy Policy
  • Disclaimer

Find Us on Socials

© TIFFANews Network. RAKA GENDIS.id Company. All Rights Reserved. Suar News

Removed from reading list

Undo
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?