TIFFANEWS.CO.ID,- Penelitian selama 4 tahun yang dilakukan IPB University bersama Tunas Sawa Erma (TSE) Group mengungkap bahwa pengelolaan hutan produksi dan lanskap sungai yang dilakukan secara bertanggung jawab masih mampu menjaga keberlangsungan habitat Cenderawasih Kuning-Besar dan Kura-kura Moncong Babi di Papua, meski menghadapi tantangan perubahan iklim.
Hasil penelitian tersebut dipaparkan dalam Seminar dan Lokakarya Konservasi Hidupan Liar bertema “Melindungi Ikon Papua: Pemantauan Jangka Panjang Kura-kura Moncong Babi dan Cenderawasih” yang digelar di Bogor, Jumat (6/2/2026).
Kegiatan yang dihadiri Gubernur Papua Selatan Apolo Safanpo ini menjadi bagian dari laporan hasil kerja sama riset jangka panjang antara IPB University dan TSE Group yang telah berlangsung sejak 2022.
Penelitian terhadap Cenderawasih Kuning-Besar (Paradisaea apoda) menunjukkan bahwa spesies endemik Papua tersebut masih ditemukan secara konsisten di areal hutan produksi yang dikelola dengan sistem tebang pilih.
Selama periode penelitian, lebih dari 100 Cenderawasih teridentifikasi di dua konsesi hutan, dengan sebagian wilayah dinilai memiliki tingkat kesesuaian habitat yang tinggi. Tim peneliti juga berhasil mendokumentasikan perilaku kawin (lekking) serta mengidentifikasi pohon pakan dan pohon lek yang menjadi elemen kunci kelangsungan populasi Cenderawasih .
Sementara itu, penelitian Kura-kura Moncong Babi (Carettochelys insculpta) menyoroti tantangan besar akibat perubahan iklim. Curah hujan ekstrem dan banjir di kawasan Sungai Kao menyebabkan kegagalan peneluran pada beberapa periode pengamatan. Kondisi tersebut menegaskan perlunya strategi konservasi adaptif yang didukung data ilmiah jangka panjang serta keterlibatan masyarakat lokal .

Ketua Tim Peneliti Cenderawasih IPB University, Prof. Dr. Ani Mardiastuti, M.Sc., mengatakan hasil riset ini menunjukkan bahwa pengelolaan yang tepat seperti mempertahankan area HCV dan sistem tebang pilih yang berkelanjutan, perusahaan dapat berperan aktif dalam konservasi burung endemik Papua sekaligus membuka peluang ekonomi baru melalui kegiatan ekowisata berbasis birdwatching.
“Temuan kami membuktikan bahwa area hutan produksi yang dikelola secara bertanggung jawab tetap mampu mendukung keberadaan Cenderawasih, bahkan berpotensi dikembangkan untuk kegiatan ekowisata berbasis pengamatan burung,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Ketua Tim Peneliti Kura-kura Moncong Babi, Prof. Dr. Mirza D. Kusrini, M.Si. Menurut dia, tantangan konservasi ke depan semakin kompleks seiring perubahan iklim.
“Pemantauan jangka panjang sangat penting untuk memahami dampak anomali cuaca terhadap keberhasilan peneluran. Kolaborasi dengan masyarakat menjadi kunci agar upaya konservasi dapat berjalan berkelanjutan,” katanya.
Sementara itu Direktur TSE Group, Wicklief F. Leunufna, menegaskan bahwa perusahaan menaruh perhatian serius terhadap pelestarian lingkungan dan perlindungan satwa langka di wilayah operasionalnya.
“Bagi TSE Group, pelestarian lingkungan dan satwa liar, termasuk spesies langka dan endemik Papua, merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari tanggung jawab kami dalam menjalankan usaha. Melalui kerja sama riset dengan IPB University, kami berupaya memastikan kegiatan operasional berjalan sejalan dengan upaya konservasi berbasis ilmu pengetahuan,” ujarnya.
Seminar ini menjadi wadah penyampaian hasil penelitian jangka panjang mengenai ekologi, populasi, dan perilaku Cenderawasih Kuning-Besar serta Kura-kura Moncong Babi, sekaligus mendorong peningkatan pemahaman dan kesadaran para pemangku kepentingan—mulai dari dunia usaha, pemerintah daerah, hingga masyarakat—akan pentingnya konservasi satwa liar dan ekosistem Papua.
Forum ini juga menghasilkan identifikasi peluang dan tantangan pemantauan jangka panjang serta rekomendasi teknis dan kebijakan berbasis sains untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam pengelolaan spesies dilindungi.
Proyek konservasi IPB University dan TSE Group ini mencakup pemantauan populasi satwa liar, perlindungan area bernilai konservasi tinggi, serta penyusunan rekomendasi teknis bagi pengelolaan spesies kunci. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi rujukan bagi pemerintah daerah, dunia usaha, dan pemangku kepentingan lain dalam merancang kebijakan konservasi yang berbasis bukti ilmiah. (*)




