TIFFANEWS.CO.ID — Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 06 IPB University mendorong kemandirian petani melalui pelatihan budidaya padi berkelanjutan di Kampung Marga Mulya, Distrik Semangga, Kabupaten Merauke. Kegiatan ini tidak hanya berfokus pada penyampaian materi, tetapi juga memberikan kesempatan kepada peserta untuk mempraktikkan langsung pembuatan bahan pendukung budidaya hingga penerapannya di lahan pertanian.
Pelatihan tersebut mencakup tiga sesi praktik, yakni pembuatan pestisida nabati dengan metode coating, pupuk organik cair Bio Meta, dan asam amino. Melalui pendekatan praktik langsung, peserta diharapkan dapat memahami proses pembuatan dan penerapan bahan pendukung budidaya sesuai kebutuhan di lapangan.
Kegiatan ini diikuti oleh perwakilan gabungan kelompok tani (Gapoktan), Brigade Pangan, penyuluh pertanian lapangan (PPL), akademisi, serta unsur pendukung sektor pertanian. Rangkaian kegiatan diawali dengan sambutan Ketua TEP 06 IPB University dan Kepala Distrik Semangga, kemudian dilanjutkan dengan penyampaian materi teknis oleh Dede Supria Pramudia.
Dalam pemaparannya, Dede membagikan pengalaman praktik budidaya padi dan hortikultura dari Jawa Barat. Salah satu materi yang disampaikan adalah metode coating, yaitu teknik pelapisan tanaman menggunakan bahan tertentu untuk membantu melindungi tanaman dari hama, penyakit, dan tekanan lingkungan.
“Coating adalah metode proteksi tanaman terhadap hama, penyakit dan stress lingkungan dengan cara melapisi tanaman menggunakan zat tertentu,” jelas materi yang disampaikan dalam pelatihan.


Setelah mendapatkan penjelasan, peserta diajak menyiapkan alat dan bahan, mengikuti proses pencampuran, serta memahami tahapan penggunaannya. Peserta tidak hanya menjadi pendengar, tetapi juga terlibat langsung dalam setiap tahapan praktik.
Praktik berikutnya adalah pembuatan pupuk organik cair Bio Meta. Dalam sesi ini, peserta diperkenalkan dengan tempe, toge, nanas, dan gula merah sebagai bahan praktik, termasuk wadah serta perangkat yang digunakan dalam proses fermentasi.
Sementara itu, pada sesi pembuatan asam amino, peserta menggunakan ikan segar, gula merah, dan nanas. Mereka mengikuti proses penyiapan dan pencampuran bahan, disertai penjelasan mengenai tahapan pengolahan selanjutnya.
Pendekatan praktik langsung menjadi bagian penting dalam pelatihan tersebut. Peserta diberi kesempatan untuk bertanya, mendiskusikan kendala, serta menghubungkan materi yang diperoleh dengan kegiatan budidaya yang selama ini mereka jalankan.
Salah satu gagasan yang ditekankan dalam materi adalah pentingnya metode atau input tambahan untuk mendukung peningkatan produksi pertanian. Gagasan tersebut kemudian diterapkan dalam kegiatan praktik agar peserta memahami proses penyiapan bahan sebelum digunakan dalam budidaya.
Anggota TEP 06 IPB University, Cep Abdul Baasith Wahpiyudin, mengatakan bahwa proses pembelajaran di lapangan perlu memberikan ruang bagi petani untuk mencoba, mengamati, dan mengevaluasi penerapan pengetahuan yang diperoleh.
“Petani tidak cukup hanya mengetahui cara membuatnya. Mereka perlu memahami prosesnya dan melihat penerapannya sehingga pengalaman yang diperoleh bisa menjadi bahan evaluasi untuk kegiatan berikutnya,” ujarnya.
Setelah seluruh sesi praktik pembuatan bahan selesai, peserta diarahkan menuju lahan pertanian untuk mengikuti demonstrasi aplikasi. Narasumber memperagakan tahapan penerapan bahan, sementara peserta mengamati prosesnya dan berdiskusi mengenai kondisi tanaman serta hal-hal yang ditemui selama kegiatan berlangsung.
Demonstrasi di lahan menjadi penghubung antara pengetahuan yang diperoleh selama pelatihan dan kondisi nyata pertanian. Melalui kegiatan ini, peserta berkesempatan mengamati secara langsung proses aplikasi serta memahami aspek-aspek yang perlu diperhatikan sebelum menerapkannya dalam kegiatan budidaya.
Kepala Distrik Semangga dalam sambutannya menyampaikan dukungan terhadap kegiatan yang mempertemukan pemerintah, pendamping pertanian, akademisi, dan masyarakat. Kolaborasi lintas unsur tersebut menjadi bagian penting dalam upaya memperkuat kapasitas pertanian di tingkat lokal.
Ketua TEP 06 IPB University, Prof. Dr. A. Faroby Falatehan, S.P., M.E., juga menempatkan pelatihan ini sebagai bagian dari rangkaian kegiatan TEP 06 dalam mendukung penguatan sektor pertanian di kawasan Merauke.
Bagi TEP 06 IPB University, kemandirian petani bukan berarti petani harus berjalan sendiri. Kemandirian dibangun melalui penguatan pengetahuan, pengalaman praktik, kemampuan mengambil keputusan, serta dukungan jejaring yang dapat membantu petani menghadapi berbagai persoalan di lapangan.
Melalui pelatihan ini, TEP 06 IPB University mendorong agar peningkatan kapasitas petani tidak berhenti pada satu kali pertemuan. Pengalaman yang diperoleh melalui praktik, demonstrasi, dan pengamatan langsung di lahan diharapkan menjadi bekal bagi peserta untuk melanjutkan proses pembelajaran dan mengevaluasi penerapan teknik budidaya dalam kegiatan pertanian berikutnya. (***)




