TIFFANEWS.CO.ID – Papua Football Academy (PFA) kembali membuka kesempatan bagi talenta muda sepak bola di Papua Selatan untuk mengikuti seleksi program pembinaan yang didukung PT Freeport Indonesia. Tahun 2026 menjadi tahun kelima pelaksanaan program tersebut yang telah melahirkan sejumlah pemain muda berbakat, bahkan hingga menembus Tim Nasional Indonesia.
Wakil Ketua I Asprov PSSI Papua Selatan, Viktorianus Ohoiwutun, mengatakan program PFA telah berjalan sejak tahun 2022 dan terus memberikan peluang bagi anak-anak Papua untuk memperoleh pendidikan sekaligus pembinaan sepak bola secara profesional.
“Sekarang ini tahun kelima mereka datang untuk menyeleksi anak-anak Papua Selatan untuk disekolahkan dan juga dilatih sepak bola. Seluruh pembinaan berpusat di Timika,” ujarnya. Kamis (11/06)
Menurut Viktorianus, sebelumnya seleksi telah dilakukan di Kabupaten Boven Digoel dan berhasil menjaring beberapa peserta yang akan kembali mengikuti tahapan seleksi lanjutan bersama peserta dari daerah lain di Papua Selatan.
Untuk tahun ini, seleksi diperuntukkan bagi anak laki-laki kelahiran tahun 2013. Mereka yang lolos seleksi daerah nantinya akan mengikuti seleksi lanjutan dan final camp di Timika bersama peserta dari berbagai wilayah Papua.
lebih lanjut, Ia mengungkapkan, program PFA telah menunjukkan hasil nyata. Sejumlah peserta binaan kini telah bergabung dengan klub profesional, bahkan ada yang berhasil menembus Tim Nasional U-17 Indonesia.
“Anak-anak yang ada di sana setelah tamat SMP sudah dilirik dan dikontrak oleh klub-klub profesional Liga 1. Bahkan ada yang ditawari oleh tiga klub sekaligus,” katanya.
Viktorianus berharap semakin banyak anak Papua Selatan yang memanfaatkan kesempatan tersebut, terutama dari Merauke, Mappi, Boven Digoel, dan Asmat. Selama beberapa tahun terakhir, setiap tahun selalu ada peserta dari Merauke yang berhasil lolos dan mengikuti pembinaan di PFA.
“Kesempatan ini harus dimanfaatkan oleh anak-anak Papua Selatan agar bakat dan talenta yang mereka miliki dapat berkembang menjadi pesepak bola profesional di masa depan,” ujarnya.
Sementara itu, Sekretaris Asprov PSSI Papua Selatan, Arnold Rudolf, menjelaskan bahwa peserta wajib melengkapi sejumlah dokumen administrasi sebagai syarat mengikuti seleksi.
Persyaratan utama yang harus dibawa antara lain akta kelahiran, ijazah, foto rapor, Kartu Identitas Anak (KIA), serta dokumen pendukung lainnya. Vaksinasi memang tidak menjadi syarat wajib, namun akan menjadi nilai tambah dalam proses administrasi.
Arnold menjelaskan bahwa peserta yang diterima tidak hanya mendapatkan pembinaan sepak bola, tetapi juga tetap mengikuti pendidikan formal hingga tingkat SMP. Mereka juga memperoleh pelatihan tambahan, termasuk kursus bahasa asing untuk menunjang kegiatan saat mengikuti kompetisi maupun program di luar negeri.
“Kami berharap anak-anak yang mengikuti seleksi memiliki administrasi yang lengkap. Namun jika ada yang lolos dan masih terkendala administrasi, Asprov akan membantu berkoordinasi dengan instansi terkait untuk melengkapinya,” katanya.
Selain kemampuan bermain sepak bola, faktor kesehatan juga menjadi perhatian utama dalam proses seleksi. Setelah lolos penjaringan awal, peserta akan menjalani pemeriksaan kesehatan sebelum mengikuti final camp di Timika.
“Pemeriksaan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari kondisi fisik, kesehatan hingga psikologi. Standarnya sudah setara dengan tim nasional,” jelas Arnold.
Terkait sepak bola putri, Ketua Asprov PSSI Papua Selatan menyampaikan bahwa program seleksi PFA tahun ini masih dikhususkan untuk peserta laki-laki. Sementara pembinaan atlet putri saat ini lebih difokuskan pada persiapan Pra PON serta melalui program pembinaan yang berjalan di PPLP.
Asprov PSSI Papua Selatan berharap program Papua Football Academy dapat terus menjadi wadah bagi generasi muda Papua Selatan untuk mengembangkan bakat sepak bola dan membuka jalan menuju karier profesional di masa depan. (JW)




