TIFFANEWS.CO.ID – Ditengah deru perubahan dunia yang begitu cepat, di mana era globalisasi membawa ketidakpastian dan kompleksitas (VUCA: Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity), Gereja sering kali bertanya: bagaimanakah kabar para gembalanya?. Jawaban atas pertanyaan tersebut bagi Keuskupan Agung Merauke (KAMe) pada tahun 2026 ini ternyata membawa angin segar yang patut disyukuri.
Berdasarkan pemaparan materi sesi V dalam Musyawarah Pastoral (MUSPAS) 2026 oleh Pastor Theo Amelwatin, data menunjukkan bahwa para imam yang berkarya di Tanah Selatan Papua ini memiliki fondasi mental dan spiritual yang kokoh. Ini bukan sekadar angka statistik, melainkan sebuah kesaksian hidup tentang rahmat panggilan yang dirawat dengan setia.
Sungguh sebuah rahmat besar bahwa di tengah tuntutan pelayanan yang seolah “tidak pernah selesai”, mulai dari kunjungan umat, konseling, hingga beban administrasi yang menumpuk, para imam KAMe menunjukkan tingkat resiliensi yang tinggi. Dengan skor rata-rata resiliensi mencapai 4,44, para imam terbukti memiliki kemampuan adaptasi yang luar biasa.
Ketangguhan ini bukanlah kekuatan manusiawi semata. Data menunjukkan bahwa faktor utama yang menopang para imam adalah keyakinan iman yang teguh bahwa Tuhan selalu membantu dalam mengatasi tantangan. Selain itu, dukungan sosial dari rekan imam dan umat menjadi jaring pengaman yang kuat.
Lebih menggembirakan lagi, tingkat burnout (kelelahan emosional) berada pada kategori rendah dengan skor rata-rata 2,02. Artinya, mayoritas imam di KAMe tidak kehilangan gairah dalam pelayanan mereka. Mereka tetap menemukan sukacita dalam melayani umat, baik di pusat paroki maupun di wilayah pedalaman yang sunyi. Temuan ini menegaskan bahwa kehidupan doa pribadi yang kuat berkorelasi langsung dengan kebahagiaan imamat dan kesehatan mental yang terjaga.
Kendati data saat ini menggembirakan, “pujian” statistik ini tidak boleh membuat kita terlena. Arus globalisasi dan tantangan pastoral akan terus bergerak dinamis. Oleh karena itu, MUSPAS 2026 menjadi momen krusial untuk merumuskan strategi agar kondisi prima ini dapat terus ditingkatkan demi kualitas pelayanan pastoral yang lebih baik.
Beberapa harapan yang dapat kita pupuk bersama meliputi:
Penguatan Persaudaraan (Communio): Bagi para imam, terutama yang bertugas sendirian di wilayah pedalaman (34,5% responden di perdesaan), komunitas rekan seiman adalah penopang utama. Pertemuan rutin dan sistem pendampingan pastoral yang terstruktur harus terus digalakkan untuk mencegah isolasi.
Keseimbangan Hidup dan Pelayanan: Perlu adanya evaluasi berkelanjutan terhadap distribusi tugas agar tidak ada imam yang memikul beban berlebih (work overload). Manajemen waktu yang sehat antara karya pelayanan dan waktu pribadi (me time) untuk istirahat dan doa adalah kunci keberlanjutan.
Formasi Berkelanjutan (On Going Formation): Keuskupan dan tarekat diharapkan dapat mengintegrasikan materi pelatihan resiliensi, manajemen stres, dan refleksi pastoral ke dalam program pembinaan para imam. Hal ini penting agar para imam memiliki “alat” psikologis dan spiritual untuk menghadapi tekanan zaman.
Atas semua ini, apresiasi yang setinggi-tingginya patutlah kita berikan kepada RD. Theodorius Amelwatin atas dedikasi dan ketelitiannya dalam melakukan penelitian ini. Hasil penelitian yang dipaparkan bukan hanya memetakan kondisi psikologis para imam, tetapi juga memberikan landasan objektif bagi Keuskupan untuk mengambil kebijakan pastoral yang tepat sasaran.
Semua ini menunjukkan dalam kaca mata iman, bahwa Tuhan menyertai sungguh para imam Keuskupan Agung Merauke, dalam segala keterbatasan manusiawi yang dimiliki. Dalam segala tantangan dan keterbatasan yang dialami di medan pastoral, khususnya para imam yang bekerja di pedalaman, sukacita masih dialami. Sukacita yang lahir dari pengalaman yang meneguhkan iman bahwa Sang Gembala Agung masih senantiasa menyertai dan menguatkan; tidak meninggalkan para imam berjalan sendirian.
Semoga Musyawarah Pastoral (MUSPAS) Pastores Keuskupan Agung Merauke 2026 yang tengah berlangsung ini menghasilkan buah-buah roh yang menyegarkan, demi terwujudnya pelayanan pastoral yang semakin tangguh, penuh sukacita, dan memuliakan Allah di Bumi Anim Ha.
Ad Maiorem Dei Gloriam.




