Oleh : Ronny Imanuel Rumboy
TIFFANEWS.CO.ID — Paradigma karier pekerja muda kini mengalami pergeseran signifikan. Survei terbaru menunjukkan bahwa mayoritas anggota Generasi Z tidak lagi menempatkan jabatan tinggi di dunia kerja sebagai puncak ambisi profesional. Sebaliknya, mereka lebih memilih untuk memiliki side hustle atau pekerjaan sampingan yang dikombinasikan dengan pekerjaan utama sebagai strategi karier yang lebih fleksibel dan bermakna. Hasil ini mencerminkan perubahan nilai kerja di tengah dinamika ekonomi global dan perkembangan teknologi.
Tren Side Hustle: Bukan Sekadar Tambahan Penghasilan
Menurut data Harris Poll yang dikutip oleh Forbes, sekitar 57% pekerja Gen Z memiliki side hustle, jumlah yang lebih tinggi dibanding generasi lain seperti milenial (48%), Gen X (31%), dan baby boomer (21%). Tren ini menjadikan Gen Z sebagai generasi dengan partisipasi side hustle tertinggi di antara kelompok usia pekerja dewasa.
Lebih jauh, riset di Amerika Serikat menunjukkan bahwa side hustle bukan sekadar penghasilan tambahan, melainkan menjadi bagian penting dari struktur pendapatan. Untuk Gen Z, side hustle bahkan menyumbang 57% dari total pendapatan pekerja yang memiliki multiple income stream, jauh lebih besar dari sekadar penghasilan sampingan.
Mengapa Gen Z Menjauhi Career Ladder Tradisional
Perubahan preferensi ini mencerminkan definisi kesuksesan yang berbeda antara Gen Z dan pendahulunya. Tradisionalnya, kesuksesan diukur lewat kenaikan jabatan, status, dan stabilitas kerja. Namun kini, banyak pekerja muda melihat jabatan tinggi sebagai kurang relevan tanpa adanya fleksibilitas, kreativitas, dan otonomi yang mereka nilai penting.
Pakar karier dari Glassdoor, Morgan Sanner, menyebut pendekatan ini sebagai career lily pad, di mana pekerja tidak mengikuti jalur linear naik jabatan, namun pindah dari satu peluang ke peluang lain yang sesuai dengan tujuan dan minat mereka.
Data lain menunjukkan bahwa 68% Gen Z enggan mengejar posisi manajerial kecuali ada insentif signifikan seperti gaji atau judul, menegaskan bahwa motivasi jabatan tinggi kini semakin berkurang di kalangan ini.
Faktor Pendorong: Ekonomi, Teknologi, dan Nilai Kerja Baru
Pergeseran ini bukan terjadi tanpa alasan kuat. Ada beberapa faktor yang mendorong tren side hustle di kalangan Gen Z:
1. Ketidakpastian Ekonomi
Banyak generasi muda menghadapi realitas ekonomi yang tidak stabil, seperti pertumbuhan pendapatan yang stagnan, biaya hidup meningkat, serta pengalaman keluarga atau teman yang terkena PHK. Situasi ini mendorong mereka mencari lebih dari satu sumber penghasilan sebagai bentuk mitigasi risiko.
2. Dampak Teknologi dan AI
Kemajuan teknologi, khususnya kecerdasan buatan (AI) dan otomatisasi juga mengubah pandangan Gen Z terhadap keamanan pekerjaan tradisional. Kekhawatiran terhadap perubahan industri membuat mereka memandang side hustle sebagai bentuk strategi perlindungan pendapatan dan pembelajaran keterampilan baru.
3. Aspirasi terhadap Otonomi dan Kreativitas
Hasil survei lain menambahkan bahwa Gen Z juga terdorong oleh keinginan menjadi own boss, mengembangkan minat pribadi, dan membangun identitas profesional yang tidak sepenuhnya bergantung pada struktur korporat tradisional. Sekitar 49% responden ingin menjadi bos untuk diri mereka sendiri, menunjukkan motivasi kuat di balik fenomena side hustle.
Side Hustle sebagai Strategi Karier
Sementara beberapa generasi mungkin melihat pekerjaan sampingan sebagai pekerjaan sementara, Gen Z memandangnya sebagai strategi karier jangka panjang. Studi menunjukkan bahwa banyak di antara mereka menginvestasikan penghasilan dari side hustle, membangun keterampilan beragam yang tidak ditawarkan pekerjaan utama, dan bahkan melihat peluang ini sebagai fondasi untuk aktivitas kewirausahaan penuh waktu di masa depan.
Bagi banyak Gen Z, pekerjaan penuh waktu masih penting, namun peranannya kini berubah menjadi penyanggah stabilitas finansial yang digunakan untuk mendukung side hustle yang lebih fleksibel dan bermakna. Hal ini tercermin dalam istilah yang sering digunakan: the 9-to-5 funds the 5-to-9, di mana pekerjaan utama menjadi modal untuk aktivitas lain di luar jam kerja.
Dampak pada Dunia Kerja
Fenomena ini memaksa perusahaan dan pengusaha meninjau ulang cara mereka menarik dan mempertahankan talenta muda. Fleksibilitas kerja, peluang pengembangan keterampilan, dan dukungan terhadap inisiatif karyawan menjadi faktor semakin penting dalam strategi sumber daya manusia. Strategi karier yang semakin non-linear ini menunjukkan bahwa dunia kerja modern kini lebih mengutamakan keseimbangan hidup, otonomi, dan diversifikasi pendapatan daripada sekedar hirarki jabatan yang kaku.
Daftar Pustaka
• Castrillon, Caroline. 57% Of Gen Z Choose Side Hustles Over The Corner Office. Forbes, 2 Sep 2025.
• Gen Z Turns Side Gigs Into 57% of Total Income. PYMNTS.com, 2025.
• 49% of Gen Z-ers Want to Be Their Own Boss: Why Side Hustles Are Their New Escape from the 9-to-5. The Times of India, Nov 2025.
• Why Gen Z Side Hustles Are A Career Strategy, Not A Distraction. Forbes, 31 Jan 2026.




