TIFFANEWS.CO.ID — Anggota MPR RI, Frits Tobo Wakasu, kembali melanjutkan Giat Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan ke-IV kepada Himpunan Pelajar dan Mahasiswa Tolikara Kota Studi Merauke. Kegiatan ini dilaksanakan di Gereja GIDI Pison Merauke, pada pukul 16.30–18.00 WIT, Jumat (12/12/2025).
Dalam kegiatan tersebut, Frits menegaskan bahwa pemahaman terhadap Empat Pilar Kebangsaan sangat penting bagi mahasiswa Papua, khususnya mahasiswa Tolikara, sebagai bagian dari generasi muda yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan bangsa.
Ia kembali mengibaratkan negara sebagai sebuah bangunan yang harus dirawat bersama. Menurutnya, menjaga keutuhan bangsa bukan hanya tugas pemerintah atau aparat negara, melainkan tanggung jawab seluruh warga negara.
“Kalau negara ini goyang karena masalah suku atau agama, itu tandanya ada yang rusak dan kita semua punya tugas untuk memperbaikinya,” ujarnya.
Frits menekankan bahwa konflik kecil yang diabaikan dapat berkembang menjadi persoalan besar yang mengancam persatuan bangsa.
“Lebih baik kita perbaiki kerusakan kecil sekarang, supaya tidak jadi kerusakan besar di kemudian hari,” tegasnya.
Dalam konteks kebinekaan, Frits mengajak mahasiswa untuk memandang perbedaan sebagai kekuatan, bukan sebagai sumber perpecahan.
“Perbedaan itu indah. Kalau hanya satu warna, hidup ini akan membosankan. Tapi perbedaan harus dijaga dengan nilai Pancasila,” katanya.
Ia juga menyinggung pentingnya toleransi antarumat beragama. Menurutnya, intoleransi tidak mewakili ajaran agama mana pun dan dapat terjadi pada siapa saja.
“Agama tidak pernah mengajarkan kebencian. Kalau ada intoleransi, itu karena manusia yang tidak menjaga nilai-nilai kebangsaan,” ujarnya.
Frits berharap mahasiswa Tolikara dapat menjadi agen persatuan, baik di lingkungan kampus maupun di tengah masyarakat, dengan menjadikan Empat Pilar Kebangsaan sebagai pedoman hidup.
“Empat Pilar ini bukan hanya untuk dihafal, tapi untuk dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari,” pungkasnya.
Kegiatan ditutup dengan komitmen bersama untuk terus menjaga persatuan, toleransi, dan semangat kebangsaan demi masa depan Papua dan Indonesia. (Djo)




