TIFFANEWS.CO.ID – Gubernur Papua Selatan, Apolo Safanpo, bersama Wakil Menteri Koordinator (Wamenko) Bidang Pangan RI, Hanif Faisol Nurofiq, membahas percepatan pembangunan Kawasan Swasembada Pangan, Energi, dan Air Nasional (KSPEAN) di Provinsi Papua Selatan.
Pertemuan tersebut berlangsung di Ruang Rapat Utama Kementerian Koordinator Bidang Pangan RI, Jakarta, Rabu (3/6/2026), sebagai tindak lanjut dukungan pemerintah pusat terhadap percepatan pembangunan kawasan strategis nasional di Papua Selatan.
Dalam kesempatan itu, Gubernur Apolo menyampaikan apresiasi kepada Presiden Prabowo Subianto dan Kementerian Koordinator Bidang Pangan RI yang telah menetapkan Papua Selatan sebagai salah satu lokasi Program Strategis Nasional (PSN).
“Kami sangat bersyukur kepada Pak Menteri, terutama kepada Presiden Prabowo Subianto yang telah menetapkan Papua Selatan sebagai salah satu Program Strategis Nasional,” kata Apolo.
Ia menjelaskan, terdapat dua program utama yang sedang dikembangkan, yakni program ketahanan pangan di Kampung Wanam, Distrik Ilwayab, Kabupaten Merauke, serta pengembangan perkebunan tebu untuk bioetanol di Kampung Sermayam, Distrik Jagebob.

Menurutnya, Pemerintah Provinsi Papua Selatan telah melakukan berbagai langkah untuk mendukung pelaksanaan program tersebut. Masukan yang disampaikan Wamenko Bidang Pangan dinilai penting sebagai bahan evaluasi guna mengantisipasi berbagai potensi konflik yang dapat menghambat pelaksanaan PSN.
“Pemaparan yang disampaikan oleh Wamenko sangat penting dan menjadi masukan agar dapat dilaksanakan untuk mengantisipasi potensi konflik yang mungkin terjadi dan menghambat program PSN ini,” ujarnya.
Terkait pengembangan tebu dan bioetanol, Apolo menjelaskan bahwa program tersebut diawali dengan riset sejak 2015. Selanjutnya pada 2025 dilakukan pembibitan berbagai varietas tebu yang disesuaikan dengan kondisi tanah dan iklim setempat.
“Saat ini sementara dilakukan persiapan produksi. Kalau tidak ada halangan, tahun depan sudah mulai produksi gula,” katanya.
Ia menyebut kebutuhan konsumsi gula nasional mencapai sekitar 5 juta ton per tahun. Dengan target produksi yang sedang dipersiapkan, Papua Selatan diharapkan dapat memberikan kontribusi besar terhadap upaya swasembada gula nasional.
“Kalau kita maksimalkan sampai tahun depan, maka kita bisa menghasilkan sekitar tiga setengah juta ton gula,” ujarnya.
Apolo optimistis Indonesia dapat mencapai swasembada gula pada 2029 sehingga anggaran yang selama ini digunakan untuk impor dapat dialihkan guna mendukung pembangunan sektor lainnya.
Sementara itu, untuk program ketahanan pangan, saat ini pemerintah tengah melakukan intensifikasi pertanian melalui optimalisasi lahan. Sejumlah lahan yang sebelumnya tidak digarap kembali dikembangkan, sementara pola tanam yang sebelumnya hanya sekali dalam setahun kini ditingkatkan menjadi tiga kali tanam.
“Tahun ini sudah sekitar 70 ribu hektare lahan dibuka untuk program ketahanan pangan dan akan terus dikembangkan secara bertahap setiap tahun,” katanya.
Meski mendapat dukungan dari sebagian masyarakat, Apolo mengakui masih terdapat kelompok masyarakat yang menyampaikan penolakan terhadap program PSN.
Menurutnya, kondisi tersebut perlu disikapi secara bijaksana melalui pendekatan komunikasi dan sosialisasi yang intensif agar masyarakat memahami manfaat program yang sedang dijalankan pemerintah.
“Ini yang perlu kita bijaki, dan bagaimana kita melakukan sosialisasi supaya dapat meminimalisir dampak-dampak negatif yang mungkin bisa terjadi dengan hadirnya PSN ini,” ujar Apolo Safanpo. (***)




