TIFFANEWS.CO.ID – Program pendidikan berasrama yang diterapkan Sekolah Rakyat Terintegrasi 77 Merauke mulai menunjukkan hasil positif. Dalam delapan bulan terakhir, para siswa mengalami perkembangan signifikan, baik dari sisi kemampuan akademik maupun pembentukan karakter.
Perubahan tersebut terlihat dari kebiasaan para siswa selama tinggal di asrama. Mereka kini terbiasa mencuci pakaian sendiri, membersihkan kamar, menjaga kebersihan lingkungan, mengatur waktu belajar, hingga menjalankan berbagai aktivitas harian secara mandiri di bawah pendampingan wali asuh dan wali asrama.
Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 77 Merauke, Budi Sutomo, menjelaskan bahwa sekolah yang saat ini menempati fasilitas Gedung SMK Negeri 2 Merauke itu hadir untuk memberikan kesempatan pendidikan yang setara bagi anak-anak dari keluarga kategori desil 1 dan desil 2 berdasarkan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).
“Sekolah rakyat ini diperuntukkan bagi anak-anak yang selama ini belum tersentuh layanan pendidikan secara optimal. Kami melakukan survei langsung ke rumah calon siswa untuk memastikan kondisi keluarga dan kesiapan mereka mengikuti pendidikan berasrama,” ujar Budi kepada wartawan Tiffa News, Senin (15/6/2026).
Pada tahun ajaran pertama, Sekolah Rakyat Merauke menerima 100 siswa yang terdiri dari 50 siswa jenjang SD dan 50 siswa jenjang SMP. Dalam perjalanannya, sebanyak 14 siswa memilih kembali ke kampung halaman sehingga saat ini tersisa 86 siswa yang masih aktif mengikuti seluruh kegiatan pendidikan dan pembinaan.
Menurut Budi, tantangan terbesar pada masa awal program adalah proses adaptasi siswa yang harus berpisah dari orang tua dan tinggal di lingkungan asrama. Namun, perkembangan yang ditunjukkan para siswa dinilai menjadi bukti bahwa program tersebut mampu memberikan dampak nyata bagi kehidupan mereka.
Selain pendidikan formal, pembentukan karakter menjadi fokus utama melalui sistem pendampingan selama 24 jam. Para siswa dibimbing oleh wali asuh yang berperan sebagai orang tua selama mereka berada di lingkungan sekolah.

Wali Asuh Sekolah Rakyat Merauke, Marli Heluka, mengatakan pembiasaan sehari-hari menjadi bagian penting dalam membangun karakter siswa. Para siswa diajarkan mengurus kebutuhan pribadi seperti mencuci pakaian, menyetrika, melipat pakaian, membersihkan kamar, menjaga kebersihan lingkungan, hingga menerapkan pola hidup sehat.
“Kalau ada yang belum bisa menyapu atau mencuci, kami dampingi sampai mereka bisa. Setelah makan mereka wajib sikat gigi. Semua diajarkan secara bertahap agar mereka terbiasa hidup mandiri,” ujarnya.

Pembinaan juga dilakukan pada aspek akademik. Setelah jam sekolah berakhir, para siswa kembali mengikuti kegiatan belajar malam, membaca, menulis, berhitung, serta menyelesaikan tugas sekolah dengan pendampingan para wali asuh. Sejumlah siswa yang sebelumnya belum lancar membaca, menulis maupun berhitung kini mulai menunjukkan perkembangan yang cukup signifikan.
Perubahan tersebut turut dirasakan langsung oleh para siswa. Salah satu siswi kelas VIII B asal Kampung Wambi, Adelaita Samkakai, mengaku memperoleh banyak pengalaman baru sejak tinggal dan belajar di Sekolah Rakyat Merauke. Selain belajar mandiri, ia juga aktif mengikuti kegiatan berkebun bersama teman-temannya di lingkungan sekolah.
“Kita harus menyiapkan cita-cita kita dan berusaha membangun masa depan. Kita harus terus berjuang untuk masa depan yang lebih baik dan ikut membangun negeri Indonesia,” pesannya.

Dengan perubahan yang mulai terlihat, baik dari sisi akademik maupun karakter, Sekolah Rakyat di Merauke perlahan membuktikan bahwa pendidikan berasrama tidak hanya memberikan akses belajar bagi anak-anak Papua, tetapi juga membentuk generasi yang lebih disiplin, mandiri, dan siap menghadapi masa depan. (Djo)




