Oleh : Agus Sumule – Universitas Papua
Sekolah Sepanjang Hari (SSH) telah membuktikan bahwa pendidikan dasar yang bermutu dapat diselenggarakan hingga ke kampung-kampung terpencil di Papua. Melalui pendampingan guru, pembinaan karakter, pelayanan kesehatan, makanan bergizi, serta dukungan internet berbasis Starlink, SSH tidak hanya membangun sekolah, tetapi juga membangun harapan.
Namun, sebuah pertanyaan besar segera muncul: Setelah anak-anak lulus SD, lalu ke mana mereka akan melanjutkan pendidikan?
Di banyak kampung Papua tidak terdapat SMP, apalagi SMA atau SMK. Akibatnya, anak-anak yang baru berusia 12 atau 13 tahun harus meninggalkan keluarga, meninggalkan kampung, dan hidup jauh dari lingkungan adatnya demi memperoleh pendidikan. Tidak sedikit yang akhirnya putus sekolah. Bukan karena mereka tidak ingin belajar, melainkan karena sekolah terlalu jauh dari kehidupan mereka.
Padahal, Undang-Undang Otonomi Khusus Papua telah memberikan arah yang sangat jelas. Dalam Pasal 56 ayat (3) ditegaskan bahwa setiap penduduk Provinsi Papua berhak memperoleh pendidikan yang bermutu sampai dengan tingkat sekolah menengah dengan beban masyarakat serendah-rendahnya. Amanat ini mengandung makna yang sangat mendalam. Pendidikan menengah bukanlah kemewahan, melainkan hak setiap warga Papua.
Tantangannya adalah bagaimana mewujudkan hak tersebut di ribuan kampung yang tersebar di wilayah pegunungan, pesisir, pulau-pulau kecil, dan daerah-daerah yang sangat sulit dijangkau.
Di sinilah muncul gagasan SSH-2.
SSH-2 merupakan pengembangan dari Sekolah Sepanjang Hari menuju pendidikan menengah berpola homeschooling berbasis kampung. Anak-anak tetap tinggal bersama orang tua dan masyarakatnya, tetapi memperoleh pendidikan setara SMP melalui pembelajaran yang didampingi guru, didukung teknologi digital, serta tetap berakar pada budaya lokal.
Ini bukan homeschooling seperti yang selama ini dikenal di kota-kota, di mana seorang anak belajar sendiri di rumah. SSH-2 adalah homeschooling ala Papua.
Guru-guru pendamping SSH yang selama ini telah membimbing kehidupan anak-anak dapat berperan sebagai orang tua pendidikan. Mereka mendampingi proses belajar, membentuk karakter, menanamkan disiplin, membangun kebiasaan belajar, dan memastikan setiap anak terus berkembang. Orang tua kandung tetap menjadi pendidik utama, sementara guru pendamping menjadi mitra yang berjalan bersama keluarga dan masyarakat.
Yang membuat SSH-2 semakin mungkin diwujudkan adalah kenyataan bahwa fondasinya sesungguhnya telah tersedia.
Setiap SSH telah memiliki akses internet berbasis Starlink. Tablet pembelajaran telah digunakan. Dunia pengetahuan kini sudah hadir di kampung-kampung. Guru terbaik dari berbagai daerah dapat mengajar secara daring. Dosen perguruan tinggi dapat berbagi ilmu tanpa harus datang setiap hari. Video pembelajaran berkualitas dapat diakses kapan saja. Bahkan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dapat membantu menjelaskan materi, memberikan latihan, mengoreksi pekerjaan siswa, serta menjadi pendamping belajar yang selalu tersedia.
Namun, teknologi bukanlah pusat SSH-2. Pusatnya tetap manusia.
Teknologi hanyalah alat untuk memperluas kesempatan belajar. Yang membentuk manusia tetaplah kasih sayang orang tua, keteladanan guru pendamping, kebijaksanaan para tetua adat, kehidupan bergereja, serta pengalaman hidup di dalam komunitas kampung. AI dapat membantu anak memahami matematika, sains, atau bahasa Inggris, tetapi AI tidak pernah dapat menggantikan kasih seorang ibu, nasihat seorang kepala suku, atau keteladanan seorang guru.
Justru karena itu, SSH-2 memanfaatkan teknologi untuk memperkuat budaya, bukan menggantikannya.
Anak-anak dapat mempelajari ilmu pengetahuan modern tanpa kehilangan bahasa ibunya. Mereka dapat mengenal dunia tanpa tercerabut dari tanah ulayatnya. Mereka dapat menguasai teknologi tanpa kehilangan jati dirinya sebagai Orang Asli Papua.
SSH-2 juga menawarkan cara baru dalam memandang pembangunan pendidikan. Selama ini, kita cenderung berpikir bahwa anak harus pergi mencari sekolah. Sudah waktunya kita membalik cara berpikir tersebut. Sekolahlah yang harus hadir mendekati kehidupan anak.
Jika pendidikan dasar telah berhasil dibawa ke kampung melalui SSH, mengapa pendidikan menengah tidak dapat dilakukan dengan pendekatan yang sama, diperkuat oleh teknologi digital, internet satelit, dan pendampingan guru?
Dengan demikian, SSH-2 bukan sekadar sebuah inovasi pendidikan. Ia merupakan salah satu strategi untuk menghadirkan pendidikan menengah yang lebih mudah dijangkau masyarakat sekaligus membantu mewujudkan amanat Undang-Undang Otonomi Khusus Papua bahwa setiap warga Papua berhak memperoleh pendidikan yang bermutu hingga jenjang sekolah menengah.
Pada akhirnya, tujuan SSH-2 bukan hanya meluluskan siswa setara SMP.
Tujuan akhirnya adalah melahirkan generasi Papua yang beriman, sehat, cerdas, berkarakter, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, mencintai budaya serta tanah leluhurnya, dan siap melanjutkan pendidikan ke SMA, SMK, perguruan tinggi, atau mengabdikan dirinya bagi pembangunan kampung.
Barangkali, inilah babak baru pendidikan di Tanah Papua. Bukan lagi kampung yang ditinggalkan demi memperoleh ilmu. Melainkan ilmu yang datang membangun kampung. Karena sesungguhnya, pendidikan yang paling berhasil bukanlah pendidikan yang menjauhkan anak dari akar budayanya, melainkan pendidikan yang membuat mereka mampu menjangkau masa depan tanpa kehilangan jati dirinya.
Walaupun di Kampung Terpencil, Setiap Anak Papua (Bisa) Tetap Bersekolah
[email protected]




