Oleh: Ir. Yan Ukago, MT*
Dekan Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Katolik Fajar Timur Papua
Ada sesuatu yang tidak biasa sedang terjadi di Tanah Papua. Di satu tempat, air mulai menghilang, di lain lokasi, titik panas dan kebakaran mulai bermunculan.
Di kawasan Wissel Meren — Danau Paniai, Danau Tage, dan Danau Tigi — air danau menyusut mengering hingga beberapa meter, tanah dasar pinggiran danau mengering dan retak. Misalnya, air Danau Paniai mengalami penyusutan yang mengkhawatirkan dari ±1.750 mdpl turun menjadi 1.746 meter. Dasar danau yang biasanya tertutup air mulai terlihat dari perahu. Dan penyusutan ini diperkirakan akan berlangsung jika tidak segera turun hujan.
Sementara itu, di wilayah lain, tanda kekeringan mulai muncul dalam bentuk berbeda. Dari pantauan satelit, titik panas meningkat. Hutan dan lahan menjadi semakin mudah terbakar. Kabut asap mulai terlihat di mana-mana. Ini bukan lagi cerita satu kabupaten, tetapi menjadi alarm untuk Tanah Papua.
Bagi masyarakat yang hidup di sekitar danau, hutan, kebun, dan sumber air, kondisi ini bukan sekadar perubahan pemandangan. Namun, ini gejala El Nino sedang bekerja. Kita perlu menghadapinya dengan tenang, tetapi serius.
Apa itu gejala El Nino dan mengapa bisa terjadi di Tanah Papua?
El Nino itu gejala kekeringan yang panjang. El Nino diawali dengan fenomena naiknya suhu air laut Samudra Pasifik dari biasanya. Suhu normal air laut bagian tengah dan timur laut Pasifik selama ini 28–30 °C, tetapi saat ini naik menjadi 32,7 °C.
Karena laut Pasifik menjadi lebih panas, maka awan pembawa hujan di atas Tanah Papua tertarik ke arah lautan Pasifik. Hasilnya, kondisi langit di Papua dan Indonesia cerah, tidak ada awan selama beberapa bulan. Terjadi musim kemarau dan kering yang lebih panjang.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat El Nino 2026 termasuk kategori sangat kuat. Pada awal Agustus, suhu permukaan di laut Pasifik naik 2,7 derajat Celcius dari rata-rata normalnya. Hal yang sama pernah terjadi pada tahun 2015, suhunya naik ke angka 3,1 °C dan untuk tahun 2026 diprediksi bisa naik sampai 3,8 derajat Celcius pada dua tiga bulan mendatang.
BMKG juga memperingatkan bahwa puncak musim kemarau tahun ini terjadi pada periode Juli–September 2026, dengan sebagian besar wilayah Papua ikut memasuki periode kering. Artinya, kekeringan yang kita lihat bukan sekadar perasaan masyarakat, tapi benar-benar sedang terjadi perubahan kondisi iklim yang nyata.
Musim kemarau sering terjadi, namun ketika bertemu dengan El Nino, dampaknya menjadi lebih terasa. Hari tanpa hujan bertambah panjang, sumber air berkurang, tanah mengering. Dan ketika tanah, rumput, daun, dan lahan menjadi kering, risiko kebakaran meningkat.
Papua mulai menghadapi ancaman titik panas
Hasil pemetaan satelit pada Agustus 2026 memperlihatkan beberapa titik panas (hotspot) di beberapa wilayah di Tanah Papua. Data yang disampaikan BMKG, terdapat 179 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi di wilayah Papua. Sebarannya meliputi Papua, Papua Barat, Papua Barat Daya, Papua Pegunungan, Papua Selatan, dan Papua Tengah. Konsentrasi terbesar berada di Papua Selatan.
Memang, titik panas dalam peta citra belum tentu berarti kebakaran besar. Namun, tetap harus dimonitor di lapangan oleh masyarakat dan petugas Badan Penanggulangan Bencana. Ketika titik panas muncul dalam jumlah banyak bersamaan dengan kondisi yang sangat kering, itu adalah tanda yang tidak boleh diabaikan.
Perkembangan seminggu terakhir semakin menunjukkan bahwa ancaman ini nyata. Di Nabire, misalnya, pada tanggal 20 Agustus tercatat lonjakan hingga 224 titik panas dalam satu hari. Kabut asap juga mulai terlihat di beberapa titik wilayah Nabire sehingga pemerintah daerah harus melakukan langkah tanggap darurat.
Di Papua Selatan, terutama wilayah Merauke, risiko kebakaran juga menjadi perhatian serius. Data yang dihimpun menunjukkan bahwa pada awal Juli terdapat ribuan titik api yang terdeteksi. Sebelumnya BMKG juga telah memberikan peringatan dini mengenai tingginya risiko kebakaran di wilayah tersebut.
Papua Pegunungan juga harus waspada. Wamena dan wilayah pegunungan lainnya mungkin belum mengalami kebakaran besar seperti yang terlihat di beberapa wilayah lain, tetapi kemarau panjang berarti risiko tetap ada.
Kita tidak boleh menunggu api muncul baru mulai bersiap. Persoalan ini bukan hanya persoalan Papua Tengah, Papua Selatan, atau satu kabupaten tertentu. Ini adalah persoalan Tanah Papua. Juga persoalan Indonesia dan kawasan Asia Pasifik.
Mengapa hutan menjadi mudah terbakar?
Hasil survei, hutan 99% dibakar manusia dan 1% terbakar sendiri. El Nino sendiri bukan penyulut api. El Nino membuat lingkungan menjadi kering. Manusia sering menjadi pemicunya. Ketika tanah, rumput, daun, dan semak sudah sangat kering, satu api kecil dapat berkembang menjadi kebakaran besar.
Upaya sengaja seperti membakar sampah, membuka lahan dengan api adalah pemicu utama. Ada juga aksi tidak sengaja seperti membuang puntung rokok, korsleting kabel, api unggun atau meninggalkan api tanpa pengawasan dapat menjadi awal persoalan. Selain ulah manusia, adanya petir, gunung meletus, gesekan antar benda kering serta sebuah pecahan kaca atau batu bening yang kena silauan matahari dapat menimbulkan api.
Dalam kondisi normal, api kecil mungkin mudah dipadamkan. Tetapi dalam kondisi sangat kering dan berangin, api dapat menyebar jauh lebih cepat. Karena itu, pada musim seperti sekarang, jangan membakar sembarangan. Api yang kita anggap kecil hari ini dapat menjadi kabut asap yang mengganggu kampung, membakar rumah atau sekolah, jalan, bahkan penerbangan.
Dari kekeringan menuju krisis pangan
Namun persoalan terbesar sebenarnya bukan hanya kebakaran tetapi soal ketersediaan air dan pangan. Bagi masyarakat Papua, terutama di wilayah pesisir dan pegunungan, kehidupan sangat bergantung pada air dan kebun. Petatas, keladi, singkong, sagu, dan berbagai tanaman pangan lainnya membutuhkan kondisi lingkungan yang mendukung.
Ketika hujan berkurang terlalu lama, tanah kehilangan kelembapan maka kebun mulai terganggu, tanaman jadi layu. Jika kondisi ini berlangsung berbulan-bulan, risiko gagal panen semakin besar. Dan ketika kebun gagal, persoalannya tidak berhenti di kebun, harga pangan naik dan pengeluaran keluarga bertambah. Anak-anak kekurangan makanan bergizi dan kesehatan terganggu. Bahkan pendidikan anak dapat ikut terdampak. Yang lebih parah jika terjadi kelaparan pada sebuah wilayah.
Kita harus bisa membaca bahwa air yang hilang hari ini dapat menjadi pangan yang hilang beberapa bulan kemudian. Karena itu, surutnya tiga danau Wissel Meren harus menjadi alarm khusus bagi wilayah pegunungan. Bagi masyarakat Mee, Danau Paniai, Danau Tage, dan Danau Tigi bukan sekadar bentang alam. Ketiganya adalah bagian dari ruang hidup, sumber pangan, ruang budaya, dan identitas masyarakat.
Pesan yang sama berlaku untuk seluruh Papua. Danau, sungai, rawa, hutan, mata air, dan kebun di seluruh Tanah Papua adalah bagian dari sistem kehidupan kita. Jika air hilang, kehidupan ikut terganggu.
Pertanyaannya, apa yang harus dilakukan masyarakat?
Kita tidak perlu panik. Tetapi kita harus siaga dengan melakukan beberapa langkah.
Pertama, hemat dan jaga air. Jangan menggunakan air secara berlebihan. Lindungi mata air dan kawasan yang menjadi sumber air. Jika memungkinkan, siapkan tempat penampungan air hujan.
Kedua, amankan pangan keluarga. Jangan menghabiskan seluruh hasil kebun hanya karena harga sedang baik. Sisihkan sebagian sebagai persediaan untuk waktu mendatang. Alternatif jika ada lahan yang bisa tanam pilih tanaman yang awet seperti kacang-kacangan berbiji atau boncis kering dan sagu.
Bila ada beras raskin jangan dihabiskan saat ini, itu disimpan saja. Sementara makan ubi jalar dan keladi yang tidak tahan lama. Kebun cadangan di lokasi yang masih memiliki sumber air perlu mulai dipikirkan. Ketahanan pangan tidak boleh hanya menjadi program pemerintah.
Ketiga, jangan membakar sembarangan. Hindari membakar sampah atau membuka lahan dengan api ketika kondisi sangat kering. Jika harus menggunakan api, pastikan benar-benar terkendali dan tidak meninggalkan bara.
Keempat, jaga hutan dan danau. Ketika air surut, jangan menjadikan dasar danau sebagai tempat membuang sampah. Sampah plastik yang tertinggal akan menjadi persoalan ketika air kembali naik dan dapat merusak kualitas lingkungan serta kehidupan biota danau. Jaga sumber mata air dan kawasan tangkapan air yang ada.
Kelima, laporkan kondisi secara cepat. Jika mata air mulai mengering, sumur tidak lagi menghasilkan air, kebun mengalami gagal panen, muncul titik api, atau masyarakat mulai kesulitan mendapatkan air bersih, jangan menunggu sampai keadaan memburuk. Laporkan kepada kepala kampung, pemerintah distrik, puskesmas, gereja, BPBD, dan pemerintah daerah.
Pemerintah jangan menunggu sampai terlambat
Kepada pemerintah kabupaten dan provinsi di seluruh Tanah Papua, masyarakat sudah mulai melihat dan merasakan perubahan di lapangan. Sekarang waktunya pemerintah bergerak lebih cepat, jangan menunggu masyarakat kehabisan air. Jangan menunggu kebun gagal secara massal. Jangan menunggu kebakaran menjadi besar. Dan jangan menunggu korban jatuh baru kita menyebutnya sebagai bencana.
Pemerintah perlu memperkuat pemantauan kekeringan, muka air danau dan sungai, ketersediaan air bersih, cadangan pangan, serta titik panas. Sistem pelaporan kebakaran juga harus diperkuat sampai tingkat kampung. Khusus daerah yang mulai menghadapi kabut asap, kesehatan masyarakat harus menjadi perhatian utama.
Kualitas udara yang buruk dapat mengganggu pernapasan, terutama anak-anak, orang lanjut usia, dan masyarakat yang memiliki masalah kesehatan. Di Nabire, misalnya, munculnya kabut asap sudah mendorong pemerintah melibatkan sektor kesehatan dalam penanganan kondisi tersebut.
Kita juga membutuhkan kerja bersama. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Masyarakat tidak bisa bekerja sendiri. Gereja, masyarakat adat, aparat kampung, petani, tenaga kesehatan, dunia pendidikan, BPBD, dan lembaga terkait harus memiliki satu sistem kesiapsiagaan. Karena ketika kebakaran terjadi, yang dibutuhkan bukan hanya pemadam kebakaran. Yang dibutuhkan adalah kesiapan sebelum kebakaran terjadi.
Lantas, apa langkah selanjutnya?
Kita tidak dapat mengendalikan El Nino. Kita tidak dapat menghentikan El Nino. Kita juga tidak dapat memerintah hujan untuk turun ke bumi. Itu sudah hukum alam, hukum fisika. Tetapi kita dapat menentukan bagaimana kita menghadapi keadaan ini.
Kita dapat menghemat air, kita dapat mengamankan pangan, kita dapat menjaga mata air. Dan kita dapat mencegah pembakaran sembarangan, kita dapat menjaga hutan, kita juga dapat menjaga danau. Dan kita dapat bertindak sebelum keadaan menjadi lebih buruk.
Surutnya Danau Paniai, Tigi, dan Tage adalah alarm bagi wilayah Wissel Meren. Titik panas di Nabire adalah alarm bagi Papua Tengah. Kebakaran di Papua Selatan adalah alarm bagi wilayah selatan. Kekeringan di Papua Pegunungan adalah alarm bagi pegunungan. Sesungguhnya semua alarm itu sedang berbicara tentang hal yang sama: Tanah Papua sedang membutuhkan kewaspadaan kita.
Apabila hari ini air danau mulai surut dan titik panas mulai bermunculan, mungkin alam sedang memberi tanda. Pertanyaannya sederhana, apakah kita mau membaca tanda itu? Karena ketika air berkurang dan hutan mulai terbakar, yang terancam bukan hanya lingkungan. Yang terancam adalah air, pangan, kesehatan, ekonomi keluarga, dan kehidupan generasi berikutnya.
Bagi orang Papua, menjaga hutan dan air berarti menjaga masa depan Papua. Maka dari surutnya danau hingga munculnya titik panas, dari Wissel Meren hingga Nabire, dari Merauke hingga Wamena, mari kita membaca satu pesan yang sama bahwa Papua harus siaga. Jaga air, jaga danau, amankan pangan, lindungi hutan dan cegah kebakaran. Kita bergerak sekarang, sebelum terlambat!




