TIFFA NEWSTIFFA NEWS
  • HOME
  • BERITA
  • OLAHRAGA
  • KAMTIBMAS
  • POLITIK
  • PPS
  • NUSANTARA
  • GALERI
  • OPINI
  • OTHERS
    • PUSTAKA
    • BUDAYA
    • EKONOMI
    • HANKAM
    • HAM
    • JEJAK
    • GAYA HIDUP
    • INTAN JAYA
    • SOSOK
Search
Reading: Papua Kaya, Tetapi Siapa Yang Menikmatinya?
Share
TIFFA NEWSTIFFA NEWS
Search
  • HOME
  • BERITA
  • OLAHRAGA
  • KAMTIBMAS
  • POLITIK
  • PPS
  • NUSANTARA
  • GALERI
  • OPINI
  • OTHERS
    • PUSTAKA
    • BUDAYA
    • EKONOMI
    • HANKAM
    • HAM
    • JEJAK
    • GAYA HIDUP
    • INTAN JAYA
    • SOSOK
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2022 RAKA for Tiffa Company. All Rights Reserved.
TIFFA NEWS > News > OPINI > Papua Kaya, Tetapi Siapa Yang Menikmatinya?
OPINI

Papua Kaya, Tetapi Siapa Yang Menikmatinya?

Last updated: 10/09/2026 - 11:37
By Tiffa News
Share
SHARE

Oleh : Agus Sumule (Universitas Papua)

TIFFANEWS.CO.ID – PAPEDA Summit 2026, 2-4 September, di Sorong, tidak dapat berlangsung sampai tuntas.

Demonstrasi yang berlangsung di sekitar tempat pertemuan menunjukkan bahwa pembicaraan tentang pembangunan, investasi, konservasi, karbon, dan ekonomi hijau di Tanah Papua tidak dapat dilepaskan dari satu pertanyaan yang sangat mendasar: di manakah posisi masyarakat adat Papua dalam semua itu?

Pertanyaan tersebut patut kita dengarkan.

Tanah Papua memiliki mineral, gas, hutan, laut, sungai, keanekaragaman hayati, karbon, serta kekayaan budaya yang nilainya luar biasa. Tetapi kekayaan suatu wilayah tidak dengan sendirinya membuat penduduknya sejahtera.

Selama masih ada anak Papua yang sulit memperoleh pendidikan bermutu, ibu yang sulit mendapatkan pelayanan kesehatan, kampung yang tidak mempunyai air bersih, listrik dan internet, serta masyarakat adat yang kehilangan manfaat atas tanah dan sumber daya alamnya, kita belum dapat mengatakan bahwa kekayaan Papua telah sepenuhnya menjadi kesejahteraan manusia Papua.

Karena itu, perdebatan kita seharusnya tidak berhenti pada pilihan sederhana: eksploitasi atau konservasi; investasi atau menolak investasi; tambang atau hutan.

Ada pertanyaan yang lebih penting:

Jika sumber daya alam dimanfaatkan, berapa besar manfaat yang diterima masyarakat adat pemilik wilayah tersebut? Dan jika hutan, laut dan biodiversitas Papua harus dijaga untuk kepentingan Indonesia dan dunia, berapa besar manfaat ekonomi dari konservasi itu yang kembali kepada masyarakat yang menjaga hutan dan laut tersebut?

Trending Now:  Refleksi Singkat untuk Anak-anak Pengungsi Intan Jaya di Biara Susteran PRR, Arso 6 Keerom

Masyarakat adat tidak seharusnya hanya menerima kompensasi sekali bayar ketika tanah mereka digunakan. Jika perusahaan memperoleh manfaat selama puluhan tahun dari wilayah adat, masyarakat adat juga harus mempunyai kemungkinan memperoleh manfaat jangka panjang melalui sewa lahan yang adil, profit sharing, dan—apabila memungkinkan secara hukum dan ekonomi—kepemilikan saham.

Tetapi uang yang diterima hari ini juga tidak boleh habis hari ini.

Sebagian pendapatan dari sewa, bagi hasil, dividen saham dan manfaat ekonomi lainnya perlu ditempatkan dalam Dana Abadi Masyarakat Hukum Adat. Pokok dananya dijaga dan hasil pengembangannya digunakan untuk pendidikan anak-anak, kesehatan, kebudayaan, perlindungan wilayah adat, dan pengembangan ekonomi masyarakat.

Dengan demikian, ketika tambang suatu hari berhenti beroperasi atau sumber daya tertentu telah habis, anak cucu masyarakat pemilik wilayah masih menikmati manfaatnya.

Prinsip yang sama berlaku bagi konservasi.

Jika dunia membutuhkan hutan Papua untuk menyimpan karbon, menjaga biodiversitas dan membantu mengendalikan perubahan iklim, maka masyarakat adat Papua tidak boleh hanya diberi gelar sebagai “penjaga hutan”.

Konservasi harus menghasilkan dividen kesejahteraan: pendidikan yang lebih baik, pelayanan kesehatan, air bersih, energi, konektivitas, pekerjaan, dan pendapatan bagi masyarakat pemilik wilayah.

Trending Now:  Kepemimpinan Merakyat Tarsisius Melly Jupjo : Teladan dalam Pembangunan

Dengan kata lain, hutan yang tetap berdiri pun harus dapat menghasilkan kesejahteraan bagi masyarakat yang menjaganya.

Di sinilah pemerintah, perusahaan, lembaga konservasi, LSM, perguruan tinggi, gereja dan lembaga-lembaga keagamaan serta para mitra pembangunan perlu melakukan koreksi bersama. Jangan hanya bertanya berapa hektar yang ditambang, berapa investasi yang masuk, berapa karbon yang disimpan, atau berapa hektar hutan yang berhasil dipertahankan.

Tanyakan juga:

Berapa anak Papua yang menjadi lebih terdidik?

Berapa keluarga masyarakat adat yang pendapatannya meningkat?

Berapa kampung yang memperoleh pelayanan kesehatan, air, listrik dan internet?

Berapa masyarakat adat yang benar-benar menjadi pemilik manfaat ekonomi dari tanah dan sumber daya mereka sendiri?

Otonomi Khusus dan RIPPP sebenarnya menyediakan ruang untuk melakukan transformasi itu melalui Papua Cerdas, Papua Sehat dan Papua Produktif.

Kita sudah mempunyai berbagai gagasan dan inovasi. Sekolah Sepanjang Hari (SSH), misalnya, dapat membantu anak-anak di kampung memperoleh pendidikan yang lebih baik.

Pelayanan kesehatan berbasis kader kampung, yang didukung internet dan sistem rujukan darat, laut dan udara, dapat mendekatkan pelayanan kepada masyarakat terpencil.

Penguatan konsumsi pangan lokal melalui program “One Day No Rice (ODNR)” dapat menciptakan pasar bagi petani Papua.

Dan pembayaran jasa lingkungan serta Dana Abadi dapat mengubah kekayaan alam hari ini menjadi kekayaan antargenerasi.

Trending Now:  Hak Siapa Calon Gubernur Dan Wakil Gubernur Berdasarkan UU Otsus Papua

Karena itu, mungkin pelajaran penting dari apa yang terjadi di Sorong bukanlah mencari siapa yang menang dan siapa yang kalah.

Demonstrasi adalah pengingat bahwa pembangunan kehilangan legitimasi apabila masyarakat pemilik tanah merasa tidak memperoleh manfaat dan tidak menentukan masa depannya sendiri. Tetapi kita juga membutuhkan ruang dialog yang aman, tempat perbedaan pendapat dapat dipertemukan tanpa intimidasi dan tanpa kekerasan.

Papua tidak harus memilih antara hutan yang lestari dan manusia yang sejahtera. Papua membutuhkan keduanya.

Tambang suatu hari akan habis. Gas akan habis. Hutan pun dapat hilang apabila kita gagal menjaganya. Tetapi sebelum semua itu terjadi, kekayaan Papua harus sudah berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih sulit habis: anak-anak Papua yang sehat dan berpendidikan, masyarakat adat yang kuat secara ekonomi, lembaga adat yang profesional, kampung yang maju, lingkungan yang tetap lestari, dan generasi Papua yang mampu menjadi tuan di atas tanahnya sendiri.

Pada akhirnya, mungkin hanya satu pertanyaan yang perlu terus kita ajukan:

Jika Papua memberikan mineral, gas, hutan, karbon, biodiversitas dan ruang hidup yang sangat bernilai bagi Indonesia dan dunia, berapa besar dari nilai itu yang sungguh-sungguh kembali menjadi masa depan manusia Papua?

(****)

You Might Also Like

QUO VADIS YPPK MERAUKE?

Papua Harus Siaga: Gejala El Nino, Kekeringan dan Ancaman Kebakaran Hutan di Tanah Papua

SSH-2: KETIKA PENDIDIKAN MENENGAH HADIR DI KAMPUNG

KEJERNIHAN BATIN DALAM MENEROPONG PEMBANGUNAN NASIONAL

Tiffa News 10/09/2026
Share this Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Telegram Email Print
What do you think?
Love0
Sad0
Happy0
Sleepy0
Angry0
Dead0
Wink0
Previous Article 80 Petani Dorong Hilirisasi Kopi Muting, Potensi Besar Jangan Hanya Jadi Wacana
Next Article 19 SPBU di Papua-Maluku Kena Sanksi Pertamina, Salah Satu di Merauke
Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow US

Find US on Social Medias
Facebook Like
Twitter Follow
Youtube Subscribe
Telegram Follow
- Advertisement -
Ad imageAd image
- Advertisement -
Ad imageAd image
newsletter featurednewsletter featured

Weekly Newsletter

Kirim Email Anda agar bisa kami infokan berita pilihan terpopuler

Popular News
BERITA

Tim Ekspedisi Patriot IPB University Kolaborasi dengan Yonif TP 801 Merauke, Perkuat SDM Unggul di Transmigrasi Salor

By Tiffa News 6 days ago
50 Kuota Beasiswa Magister Inggris Dibuka, Gubernur Apolo Dorong Putra-Putri Papua Selatan Manfaatkan Kesempatan
Koperasi Inggyash Ghuzi Bangun Kebun Sawit Mandiri di Ulilin, Siapkan 3.755 Hektare
Nelson Apresiasi Pekerjaan Gereja, Dinilai Turut Topang Pembangunan Papua Selatan
Gubernur Papua Selatan Bahas Penguatan Tata Kelola Hutan Bersama BPHL

SUARNEWS.COM

about us

We influence 20 million users and is the number one business and technology news network on the planet.

  • BERITA
  • PON XX 2021
  • GALERI
  • KAMTIBMAS
  • NUSANTARA
  • PUSTAKA
  • GAYA HIDUP
  • JEJAK
  • SUARNEWS
  • INTAN JAYA
  • Susunan Redaksi
  • Tentang Kami
  • Contact
  • Privacy Policy
  • Disclaimer

Find Us on Socials

© TIFFANews Network. RAKA GENDIS.id Company. All Rights Reserved. Suar News

Removed from reading list

Undo
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?