TIFFANEWS.CO.ID – Pengembangan lahan pertanian Cetak Sawah Rakyat (CSR) di Dusun Notif, Kampung Urumb, Distrik Semangga, masih menghadapi sejumlah kendala. Salah satunya pekerjaan pembersihan lahan yang dilakukan kontraktor sejak Maret hingga April 2026, namun kemudian terhenti sebelum seluruh pekerjaan diselesaikan.
Ketua Adat Mayo Kampung Urumb, Dusun Notif, Yosua Mowir Mahuze, mengatakan penghentian pekerjaan tersebut menjadi persoalan yang masih dirasakan masyarakat. Padahal, pembersihan lahan menjadi bagian penting untuk mendukung aktivitas pertanian masyarakat di wilayah tersebut, Sabtu (08/08/2026).
Menurut Yosua, pekerjaan pembersihan lahan tersebut merupakan permintaan masyarakat kepada Dinas Pertanian Kabupaten Merauke. Kontraktor yang mengerjakan pekerjaan itu juga merupakan pihak yang ditunjuk oleh Dinas Pertanian.
“Pembersihan lahan ini merupakan permintaan masyarakat kepada Dinas Pertanian. Karena kontraktor ditunjuk oleh dinas, kami berharap bisa ditambah kontraktor lagi supaya pekerjaan dapat diselesaikan dengan baik,” kata Yosua kepada Tiffa News, Jumat (31/07/2026).
Ia menjelaskan, pekerjaan yang berlangsung sejak Maret tersebut dihentikan kontraktor dengan alasan harus melakukan pembersihan lahan di kampung lain. Dari hasil pekerjaan di lokasi lain itu, kontraktor disebut akan menggunakan hasilnya untuk membeli solar (BBM) guna melanjutkan pekerjaan di Dusun Notif.
Selain pembersihan lahan, persoalan lain yang masih dihadapi masyarakat adalah belum tersedianya akses jalan pertanian yang memadai menuju areal persawahan. Kondisi tersebut menjadi kendala bagi petani dalam mengakses dan mengelola lahan pertanian mereka.
Yosua berharap Dinas Pertanian Kabupaten Merauke dapat menambah kontraktor sehingga pekerjaan pembersihan lahan tidak kembali terhenti dan dapat diselesaikan secara menyeluruh.
Di Dusun Notif saat ini terdapat tujuh kelompok tani dengan total sekitar 141 anggota. Empat kelompok tani masing-masing memiliki 24 anggota, sementara tiga kelompok tani baru masing-masing beranggotakan 15 orang.
Untuk mendukung aktivitas pertanian, dari tujuh kelompok tani tersebut baru tersedia empat unit alat pertanian jenis jonder. Ketersediaan alat tersebut diharapkan dapat terus ditambah seiring dengan semakin banyaknya kelompok dan anggota yang mengelola lahan pertanian.
Selain itu, masyarakat juga berharap adanya dukungan melalui program padat karya yang dapat diarahkan ke Kampung Urumb. Program tersebut dinilai dapat membantu masyarakat sekaligus mempercepat penyelesaian sejumlah pekerjaan pendukung pertanian yang masih terkendala.
Yosua menilai penyelesaian pembersihan lahan dan pembangunan akses jalan pertanian perlu menjadi perhatian pemerintah agar lahan yang telah disiapkan masyarakat dapat segera dimanfaatkan secara optimal. (Djo)




