TIFFANEWS.CO.ID — Keluarga besar Komando Daerah Militer (Kodam) XXIV/Mandala Merauke menggelar ibadah perayaan Paskah bersama yang berlangsung penuh khidmat pada Jumat (5/6/2026). Perayaan keagamaan ini menjadi momen refleksi spiritual yang mendalam bagi para prajurit dan keluarga besar TNI di wilayah ujung timur Indonesia tersebut. Uskup Agung Merauke, Mgr. P.C. Mandagi, MSC, hadir secara khusus untuk menyampaikan khotbah yang tidak hanya menggugah iman, tetapi juga membakar semangat pengabdian para aparat keamanan.
Mengambil momentum perayaan kebangkitan Yesus Kristus, ibadah ini dihadiri oleh jajaran pimpinan serta ratusan prajurit yang bertugas di wilayah Papua Selatan. Kehadiran pemimpin umat Katolik tersebut memberikan warna tersendiri, mengingat sosoknya yang kerap menyuarakan nilai-nilai kemanusiaan, toleransi, dan pentingnya dialog di tanah Papua. Suasana ibadah terasa khusyuk namun tetap membumi melalui penyampaian khotbah yang relevan dengan realitas tugas kemiliteran.

Dalam pesan pastoralnya, Mgr. Mandagi menekankan secara lugas mengenai esensi dan panggilan sejati seorang prajurit militer di tengah dinamika masyarakat. Ia mengingatkan bahwa prajurit TNI memikul tanggung jawab yang sangat besar, tidak sekadar mengangkat senjata, melainkan menjadi pelindung utama bagi rakyat kecil. Profesi militer, menurutnya, adalah sebuah panggilan mulia yang membutuhkan fondasi moral yang kuat.
“Militer adalah agen keamanan, agen perdamaian, dan pelindung kebebasan rakyat. Namun ingat, jika salah langkah, militer yang seharusnya menjadi agen perdamaian bisa berubah menjadi ‘agen kebakaran’ atau pembuat keonaran,” tegas Uskup Mandagi di hadapan jajaran Kodam XXIV/Mandala Merauke, mengingatkan agar setiap prajurit senantiasa mawas diri dalam setiap tindakan penugasan mereka.
Meneladani Sosok Kristus Sebagai Tokoh Perdamaian
Untuk dapat menjalankan tugas mulia tersebut tanpa kehilangan arah, Uskup Mandagi mengajak para prajurit untuk menjadikan Yesus Kristus sebagai panglima dan tokoh utama perdamaian. Mengutip Injil Lukas, ia memaparkan bahwa kehadiran Kristus ke dunia memiliki misi yang jelas: membebaskan mereka yang tertindas, membawa kabar gembira bagi kaum papa, dan memberikan penglihatan bagi yang buta. Visi pembebasan inilah yang seharusnya diresapi dan diadopsi oleh setiap anggota TNI dalam melindungi masyarakat.
Lebih lanjut, Mgr. Mandagi menyoroti krisis spiritual yang kerap melanda manusia modern, di mana popularitas dan gemerlap duniawi sering kali lebih diutamakan daripada kehadiran Tuhan. Ia menceritakan kembali sebuah peristiwa kelam di Los Angeles beberapa tahun silam, di mana masyarakatnya lebih mengagungkan selebriti dan menempatkan Tuhan di urutan paling bawah dalam hidup mereka. Akibat dari melupakan Tuhan dan merusak tatanan tersebut adalah datangnya kehancuran dan kerusuhan besar yang melumpuhkan kota.
Berangkat dari peristiwa tersebut, Uskup memberikan peringatan keras namun penuh kasih bagi bangsa Indonesia, khususnya masyarakat dan aparat di Papua Selatan. Ia menegaskan bahwa keangkuhan manusia yang melupakan Sang Pencipta hanya akan mengundang malapetaka. Keamanan dan kedamaian di tanah Papua hanya bisa dijaga apabila seluruh elemen, termasuk militer, senantiasa mengandalkan Tuhan dan tidak bertindak di luar batas moralitas.
Yesus menunjukkan peranNya sebagai agen perdamaian bukan melalui kekerasan, melainkan melalui jalan pengorbanan dan kebangkitan-Nya. Meskipun pada zaman-Nya kelompok Farisi berusaha menghancurkan dan menciptakan perpecahan melalui tipu daya terhadap orang yang tidak bersalah, Yesus berhasil mengalahkan kejahatan itu. Uskup Mandagi memotivasi para prajurit agar tidak pernah takut untuk berbuat kebenaran, karena kuasa kebangkitan akan selalu menyertai mereka yang berjuang demi perdamaian.

Kedamaian Dimulai dari “Barak” Terkecil: Keluarga
Uskup yang dikenal vokal dan humanis ini kemudian menyentuh ranah yang sangat personal bagi para prajurit, yakni kehidupan rumah tangga. Ia menegaskan bahwa tugas menjadi agen perdamaian tidak hanya berlaku secara eksklusif di medan operasi atau di tengah masyarakat. Misi perdamaian itu justru harus berakar dan dimulai dari dalam rumah tangga masing-masing prajurit. Ia menyoroti fenomena kemiskinan modern, yang bukan lagi sekadar ketiadaan harta benda, melainkan “kemiskinan cinta” di dalam keluarga.
Mgr. Mandagi mengkritik keras ironi kehidupan di mana seseorang bisa terlihat sangat gagah, memiliki pangkat, jabatan, dan dihormati di luar rumah, namun kondisi keluarganya justru hancur berantakan. Ia menggunakan analogi tajam mengenai “Keluarga Singa” untuk menggambarkan rumah tangga yang telah kehilangan kasih sayang. Dalam analogi tersebut, ayah, ibu, dan anak-anak terus-menerus saling menerkam dan memelihara amarah, sehingga rumah tak lagi menjadi tempat bernaung yang aman.
Ia memberikan peringatan bahwa prajurit yang kehilangan kedamaian di rumah akan sangat rentan menjadi sumber masalah di lingkungan tugasnya. Stres akibat pertengkaran suami-istri yang terus dibiarkan sering kali berujung pada pelarian yang merusak, seperti kebiasaan mabuk-mabukan dan tindakan indisipliner lainnya. “Jangan hebat di luar, tapi heboh di dalam. Jangan sampai kita ditembak di luar, tapi justru ‘dibom’ dari dalam rumah sendiri,” selorohnya yang disambut anggukan para hadirin.
Oleh karena itu, Uskup Mandagi mengajak seluruh prajurit beserta keluarga mereka untuk membuka pintu hati dan membiarkan Yesus masuk ke dalam dinamika rumah tangga. Kasih Kristus diyakini mampu menyembuhkan luka batin antara suami dan istri, melembutkan hati yang mengeras, serta membawa pertobatan. Dengan keluarga yang damai dan harmonis, seorang prajurit akan memiliki fondasi mental yang kokoh untuk menjalankan tugas negaranya.
Membela Prajurit di Tengah Stigma dan Hoaks
Dalam momen yang paling menyentuh pada khotbah tersebut, Uskup Mandagi secara terbuka menyatakan empatinya terhadap dedikasi serta tantangan psikologis yang dihadapi aparat keamanan di Papua. Ia sangat menyadari bahwa prajurit sering kali harus bekerja keras di medan yang sulit dengan mempertaruhkan nyawa, namun di saat yang bersamaan, mereka terus-menerus menjadi sasaran stigma negatif. Bahkan, banyak prajurit yang merasa tertindas di negaranya sendiri karena kerap dicap sebagai pasukan “kolonial” yang kejam.
Uskup Mandagi secara nyata membantah stigma miring tersebut dengan memuji kontribusi positif TNI yang ia saksikan langsung di Papua Selatan. Ia mengapresiasi langkah-langkah humanis kemiliteran yang merangkul masyarakat, seperti membangun fasilitas desa, mendirikan sekolah taruna, dan para prajurit yang rela menjadi tenaga pengajar bagi anak-anak di pedalaman. Menurutnya, pendekatan dari hati ke hati inilah yang membuat masyarakat Papua Selatan sungguh mencintai kehadiran TNI.
Di sisi lain, Mgr. Mandagi mengkritisi keras beredarnya berbagai narasi provokatif, kampanye hitam, dan karya dokumenter yang kerap memutarbalikkan fakta demi kepentingan tertentu. Ia mencontohkan bagaimana sebuah film baru-baru ini hanya fokus mengeksploitasi penderitaan dan kekurangan wilayah Papua Selatan, seperti isu deforestasi dan ketidakadilan, namun membumbui kritik tersebut dengan dusta dan fitnah terhadap berbagai pihak, termasuk institusi agama. Ia mengecam keras penggunaan teknologi modern, termasuk kecerdasan buatan yang disalahgunakan untuk memproduksi kebohongan masal yang bertujuan memecah belah.
Menghadapi tantangan era pasca-kebenaran tersebut, pesan Uskup sangat tegas: hiduplah dengan benar dan jangan membalas kebohongan dengan kebohongan. “Dusta sekarang merajalela. Fitnah bisa menyebar dengan sangat cepat. Namun jangan takut, hiduplah dengan benar karena kebenaran akan selalu muncul dengan sendirinya ke permukaan,” pesannya memberikan penguatan, seraya mengingatkan bahwa keberanian sejati berasal dari tuntunan Roh Kudus, bukan sekadar dari senjata di tangan.
Ibadah Paskah yang sarat dengan pesan moral dan kebangsaan ini pun diakhiri dengan suasana yang penuh kehangatan. Ketegangan dari tema-tema berat yang dibahas seketika cair ketika Uskup Mandagi menutup khotbahnya dengan kelakar jenaka khasnya. Menyadari durasi khotbahnya yang cukup panjang, ia bergegas mengakhiri pesannya sembari bergurau mengenai raut wajah para hadirin yang mulai terlihat mengantuk dan kelaparan, yang sontak disambut gelak tawa dari seluruh prajurit Kodam XXIV/Mandala Merauke. (***)




