TIFFANEWS.CO.ID – Koperasi Serba Usaha (KSU) Inggyash Ghuzi resmi memulai tahapan pembangunan kebun kelapa sawit kemitraan berbasis masyarakat adat di Distrik Ulilin, Kabupaten Merauke. Pembangunan kebun tersebut melibatkan sembilan marga pemilik hak ulayat yang tergabung dalam koperasi dan menjadi bagian dari upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pengelolaan usaha secara mandiri.
Ketua Koperasi Inggyash Ghuzi, Richard Nosai Koula, mengatakan pembangunan kebun sawit ini merupakan cita-cita yang telah direncanakan sejak koperasi didirikan pada 2016. Dari total areal Hak Guna Usaha (HGU) seluas 4.607,2 hektare, sekitar 3.755 hektare dialokasikan untuk kebun plasma masyarakat, sedangkan 852 hektare digunakan sebagai Nilai Konservasi Tinggi (NKT).
“Pembangunan kebun kemitraan atau plasma ini sudah lama ditunggu masyarakat. Kami bersyukur akhirnya dapat diwujudkan dan menjadi peluang peningkatan ekonomi bagi sembilan marga,” ujar Richard dalam acara adat yang digelar di Kampung Selil, Distrik Ulilin, Kamis (25/6/2026).
Sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai adat, pembangunan kebun diawali dengan upacara adat yang dihadiri para ketua marga, tokoh masyarakat, pemerintah daerah, dan pihak pendamping. Menurut Richard, upacara tersebut menjadi ungkapan syukur sekaligus penanda dimulainya pembangunan kebun secara resmi.

Untuk mendukung pelaksanaan program, Koperasi Inggyash Ghuzi menggandeng PT Bangun Papua Luhur Karya (BPL) sebagai pendamping teknis. Perusahaan tersebut akan membantu penerapan praktik budidaya pertanian yang baik atau Good Agricultural Practices (GAP) serta manajemen perkebunan yang ramah lingkungan.
Direktur PT BPL, Maria Andini, menjelaskan bahwa proses pembangunan kebun telah melalui berbagai tahapan, mulai dari sosialisasi kepada masyarakat adat, pencarian mitra pendamping, hingga pengurusan perizinan dan persiapan pembukaan lahan.
“Setelah mendapat persetujuan dari pengurus koperasi dan sembilan marga, PT BPL ditunjuk sebagai pendamping pembangunan kebun plasma. Selanjutnya dilakukan penandatanganan kerja sama dan koordinasi dengan Pemerintah Provinsi Papua Selatan,” jelasnya.
Ia menambahkan, pembangunan fisik kebun dapat segera dimulai setelah areal yang direncanakan memperoleh Hak Guna Usaha (HGU) dari Kementerian ATR/BPN melalui Kantor Pertanahan Kabupaten Merauke.
Richard menargetkan pada tahun pertama akan dilakukan pembukaan dan penanaman kebun seluas 500 hektare. Luasan tersebut akan terus ditingkatkan pada tahun kedua dan ketiga hingga mencapai sekitar 3.700 hektare sesuai rencana pengembangan koperasi.
Dukungan terhadap program ini juga datang dari Pemerintah Kabupaten Merauke.
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Merauke, Yosef J. Rumaseu, menilai model pembangunan kebun sawit berbasis masyarakat adat yang dijalankan Koperasi Inggyash Ghuzi dapat menjadi contoh bagi wilayah lain di Papua Selatan.
Menurutnya, keberhasilan program sangat bergantung pada peningkatan kapasitas masyarakat dalam pengelolaan perkebunan, mulai dari pemahaman agronomi hingga manajemen usaha, sehingga masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat tetapi juga pelaku utama pembangunan ekonomi.
Senada dengan itu, Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM Kabupaten Merauke menilai pola pembangunan yang dijalankan koperasi merupakan model kemandirian ekonomi masyarakat adat. Dalam skema tersebut, koperasi terlibat sejak tahap perencanaan, pembangunan hingga pengelolaan kebun, berbeda dengan pola konvensional yang menempatkan masyarakat hanya sebagai penerima hasil.
Tokoh masyarakat dan para ketua marga yang hadir menyatakan dukungan penuh terhadap pembangunan kebun plasma tersebut. Mereka berharap program ini dapat membuka lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, serta membawa manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi generasi mendatang.
Dengan dimulainya pembangunan kebun kemitraan ini, Koperasi Inggyash Ghuzi menargetkan terwujudnya pengelolaan perkebunan sawit yang mandiri, berkelanjutan, dan berbasis hak-hak masyarakat adat di Papua Selatan. (Djo)




