TIFFANEWS.CO.ID – Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB) Provinsi Papua Selatan, dr. Benedicta C. Herlina Rahangiar, MARS, mengingatkan masyarakat bahwa ibu hamil dan balita masih menjadi kelompok yang paling rentan mengalami komplikasi serius hingga kematian akibat malaria.
Menurutnya, malaria tidak hanya menyebabkan demam dan penurunan kondisi kesehatan, tetapi juga dapat memicu berbagai komplikasi berbahaya, terutama pada ibu hamil. Salah satu dampak yang paling sering ditemukan adalah anemia yang dapat meningkatkan risiko perdarahan saat persalinan.
“Kematian akibat malaria saat ini masih cukup tinggi, terutama pada ibu hamil dan balita. Jika ibu hamil terkena malaria, biasanya akan mengalami anemia. Ketika anemia terjadi, risiko pendarahan saat persalinan menjadi lebih besar,” kata dr. Herlina saat ditemui Tiffa News di lobi Hotel Swiss-Belhotel Merauke usai kegiatan pertemuan lintas sektor penanganan malaria, Selasa (23/06/2026).
Ia menjelaskan bahwa infeksi malaria selama masa kehamilan tidak hanya membahayakan kesehatan ibu, tetapi juga dapat berdampak pada janin yang sedang dikandung. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan gangguan pertumbuhan janin, kelahiran prematur, hingga meningkatkan risiko kematian bayi.
Karena itu, Dinkes Papua Selatan terus mendorong seluruh ibu hamil untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin sejak awal kehamilan, termasuk pemeriksaan malaria. Langkah tersebut dinilai penting sebagai upaya deteksi dini sehingga pengobatan dapat segera diberikan apabila ditemukan infeksi.
Menurut dr. Herlina, pemeriksaan malaria bagi ibu hamil tersedia di fasilitas pelayanan kesehatan dan dapat diakses secara gratis. Ia berharap para ibu hamil tidak menunggu hingga mengalami gejala berat untuk memeriksakan diri.
“Pemeriksaan sejak dini sangat penting. Dengan mengetahui lebih awal apakah seseorang terinfeksi malaria atau tidak, tenaga kesehatan dapat segera memberikan penanganan yang tepat sehingga risiko komplikasi dapat dicegah,” ujarnya.
Selain pemeriksaan rutin bagi ibu hamil, pemerintah juga terus memperkuat berbagai program pengendalian malaria di Papua Selatan. Upaya tersebut meliputi pembagian kelambu berinsektisida, skrining massal di masyarakat, edukasi pencegahan malaria, serta pengobatan segera bagi warga yang terdeteksi positif.

Ia menegaskan bahwa keberhasilan penanganan malaria memerlukan keterlibatan seluruh pihak, termasuk keluarga dan masyarakat. Dukungan keluarga dinilai penting untuk memastikan ibu hamil rutin memeriksakan kehamilan dan menjalani pengobatan sesuai anjuran tenaga kesehatan apabila terinfeksi malaria.
Lebih lanjut, dr. Herlina menekankan bahwa percepatan eliminasi malaria menjadi langkah penting dalam menurunkan angka kematian ibu dan balita di Papua Selatan. Dengan berkurangnya kasus malaria, kualitas kesehatan ibu dan anak diharapkan dapat meningkat secara signifikan.
“Kita ingin melindungi ibu dan anak dari risiko yang sebenarnya bisa dicegah. Karena itu, deteksi dini, pengobatan tepat waktu, dan pencegahan penularan harus terus diperkuat,” tutupnya.
(Djo)




