TIFFANEWS.CO.ID – Tuberkulosis (TBC) masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat di Provinsi Papua Selatan. Pada 2026, jumlah estimasi kasus TBC di provinsi ini mencapai 4.606 kasus, sehingga penguatan upaya pencegahan, penemuan kasus, dan pengobatan terus menjadi perhatian pemerintah.
Data tersebut disampaikan dalam Workshop Petunjuk Teknis Integrasi AIDS, Tuberkulosis, Malaria (ATM) dan Kebijakan Nasional Tingkat Provinsi yang diselenggarakan Asosiasi Dinas Kesehatan Seluruh Indonesia (ADINKES) Perwakilan Papua Selatan di Hotel Halogen Merauke, Selasa (14/7/2026).
Workshop tersebut merupakan tindak lanjut penugasan dari Kementerian Kesehatan bersama Kementerian Dalam Negeri kepada ADINKES untuk memperkuat penanggulangan tiga penyakit prioritas, yakni HIV/AIDS, tuberkulosis (TBC), dan malaria.
Mewakili Gubernur Papua Selatan, Staf Ahli Gubernur Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan, Nelson Sasarari, mengatakan tingginya angka kasus TBC, HIV/AIDS, dan malaria menunjukkan bahwa upaya pengendalian penyakit harus dilakukan secara lebih sistematis, terintegrasi, dan berkelanjutan.
Menurutnya, evaluasi terhadap seluruh program yang telah berjalan perlu terus dilakukan agar target eliminasi penyakit prioritas nasional pada 2030 dapat tercapai.
“Angka AIDS, malaria maupun TBC di Papua Selatan masih memprihatinkan. Jika tahun depan masih tetap tinggi maka perlu ditinjau kembali. Hal ini dipengaruhi oleh perilaku hidup masyarakat,” kata Nelson.
Ia menegaskan, perubahan perilaku hidup bersih dan sehat menjadi salah satu langkah penting dalam menekan penyebaran TBC. Di samping itu, kolaborasi lintas sektor dinilai menjadi kunci untuk mempercepat penemuan kasus, meningkatkan keberhasilan pengobatan, serta menurunkan angka penularan di Papua Selatan.

Nelson juga mengingatkan agar seluruh program kesehatan tetap memprioritaskan masyarakat Orang Asli Papua (OAP) sebagai bagian dari upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di Papua Selatan.
“Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Dibutuhkan dukungan seluruh pemangku kepentingan, termasuk masyarakat, agar upaya pengendalian HIV/AIDS, TBC, dan malaria dapat berjalan lebih efektif,” ujarnya.
Melalui workshop ini, pemerintah daerah diharapkan mampu memperkuat sinergi lintas sektor dalam mengintegrasikan program penanggulangan HIV/AIDS, TBC, dan malaria, sehingga target eliminasi nasional pada 2030 dapat diwujudkan di Papua Selatan. (Djo)




