TIFFANEWS.CO.ID – Bantuan program Ayam Petelur Merah Putih dari pemerintah yang diterima pada 5 Desember 2025 menjadi titik awal berkembangnya usaha peternakan ayam petelur milik Yohanis Yandi Gebze, petani lokal Orang Asli Papua (OAP), pelaku usaha peternakan telur, sekaligus Ketua Marga Gebze Kampung Urumb, Kabupaten Merauke, Kamis (09/07/2026).
Yohanis mengatakan bantuan tersebut diterima melalui kelompok yang dibentuk untuk mengelola usaha peternakan ayam petelur. Dari bantuan awal sekitar 600 ekor ayam, kini jumlahnya bertambah menjadi 647 ekor setelah ia menambah 47 ekor ayam secara mandiri.
“Sejak menerima bantuan dari pemerintah pada 5 Desember 2025, kami membentuk kelompok untuk mengelola peternakan ini. Awalnya sekitar 600 ekor ayam, kemudian saya tambah lagi 47 ekor, sehingga sekarang total ada 647 ekor ayam,” ujarnya saat bertemu Tiffa News (30/06).

Meski memiliki ratusan ekor ayam, produksi telur belum maksimal karena tidak semua ayam berada pada masa bertelur. Saat ini, peternakannya mampu menghasilkan sekitar 200 butir telur setiap hari.
“Kalau dihitung dari jumlah ayam memang tidak semuanya langsung bertelur. Saat ini produksi sekitar 200 butir telur per hari,” katanya.
Menurut Yohanis, ayam petelur membutuhkan perawatan yang baik karena sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan. Suara keras maupun gangguan kecil dapat memengaruhi kondisi ayam hingga berdampak pada produksi telur.
“Ayam ini sangat sensitif. Kalau ada daun kelapa jatuh atau musik yang keras sehingga membuat mereka kaget, ayam bisa stres dan produksi telurnya ikut menurun,” jelasnya.
Selain itu, biaya pakan menjadi tantangan terbesar dalam menjalankan usaha peternakan ayam petelur. Setiap hari, ia menghabiskan sekitar 60 kilogram pakan, yang diberikan dua kali sehari, masing-masing 30 kilogram pada pagi hari dan 30 kilogram pada sore hari.
Untuk memenuhi kebutuhan pakan tersebut, Yohanis harus mengeluarkan biaya sekitar Rp500 ribu setiap hari.

“Saya pernah mencoba mengganti pakan dengan yang lebih murah, tetapi bulu-bulu ayam langsung gugur. Jadi menurut saya pakan itu tidak cocok. Mau tidak mau kami tetap menggunakan pakan yang kualitasnya lebih baik meskipun harganya cukup mahal,” ungkapnya.
Setelah dipanen, telur-telur tersebut langsung disusun ke dalam rak dan dipasarkan ke wilayah Kota Merauke. Harga jual telur saat ini berkisar antara Rp70 ribu hingga Rp85 ribu per rak, dengan satu rak berisi 30 butir telur.
Yohanis berharap usaha peternakan ayam petelur yang dikelolanya terus berkembang dan mendapat dukungan berkelanjutan, terutama dalam menekan biaya produksi. Menurutnya, usaha tersebut tidak hanya menjadi sumber penghasilan bagi keluarganya, tetapi juga berkontribusi memenuhi kebutuhan telur masyarakat di Kabupaten Merauke. (Djo)




