TIFFA NEWSTIFFA NEWS
  • HOME
  • BERITA
  • OLAHRAGA
  • KAMTIBMAS
  • POLITIK
  • PPS
  • NUSANTARA
  • GALERI
  • OPINI
  • OTHERS
    • PUSTAKA
    • BUDAYA
    • EKONOMI
    • HANKAM
    • HAM
    • JEJAK
    • GAYA HIDUP
    • INTAN JAYA
    • SOSOK
Search
Reading: Sepenggal Kisah Jenderal Ternate, Saleh Mustafa
Share
TIFFA NEWSTIFFA NEWS
Search
  • HOME
  • BERITA
  • OLAHRAGA
  • KAMTIBMAS
  • POLITIK
  • PPS
  • NUSANTARA
  • GALERI
  • OPINI
  • OTHERS
    • PUSTAKA
    • BUDAYA
    • EKONOMI
    • HANKAM
    • HAM
    • JEJAK
    • GAYA HIDUP
    • INTAN JAYA
    • SOSOK
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2022 RAKA for Tiffa Company. All Rights Reserved.
TIFFA NEWS > News > HANKAM > Sepenggal Kisah Jenderal Ternate, Saleh Mustafa
HANKAMJEJAKSOSOK

Sepenggal Kisah Jenderal Ternate, Saleh Mustafa

Last updated: 02/10/2026 - 16:34
By Tiffa News
Share
SHARE

Catatan Egy Massadiah

Ada saatnya seorang prajurit meletakkan peta operasi, lalu membuka peta yang lain: peta sawah, ladang, kebun, irigasi dan lumbung pangan.

Dan tanggal 1 Oktober 2026, Letjen TNI Muhammad Saleh Mustafa membuka peta yang baru itu. Presiden Prabowo Subianto melantiknya sebagai Wakil Menteri Pertanian, menggantikan Sudaryono — mendampingi Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.

Bagi saya, kabar itu menyingkap lorong panjang kenangan. Saya mengenal Saleh bukan ketika tiga bintang sudah bertengger di pundaknya. Saya mengenalnya ketika masih Letnan Dua, perwira remaja lulusan Akmil 1991 yang bertugas di Grup 1 Parako Kopassus, Serang, Banten.

Sahabat saya sesama asal Sengkang Wajo, almarhum Kolonel Andi Sirajuddin Kube Dauda—Aju—yang memperkenalkan kami. Melalui Aju pula saya mengenal lingkaran perwira muda Kopassus masa itu: Saleh, Maruli Simanjuntak, Iwan Setiawan, Richard Tampubolon, Mohamad Hasan, Mohammad Fadjar dan banyak lainnya.

Saya melihat mereka sebagai anak-anak muda berseragam loreng yang hidupnya diisi latihan dan gemblengan. Sebagian kemudian tumbuh menjadi jenderal dan menempati berbagai posisi penting. Saleh salah satunya.

Kini, lebih tiga dasawarsa kemudian, prajurit yang saya kenal itu memasuki “medan operasi” yang sama sekali berbeda.

Musuhnya bukan lagi kelompok bersenjata. Tantangannya adalah air, pupuk, benih, perubahan iklim, produktivitas, harga gabah, kesejahteraan petani, hingga keberlanjutan swasembada pangan.

Ia hanya berpindah cara memandang tanah.

Dulu tanah dipertahankan sebagai wilayah kedaulatan. Kini tanah harus dijaga agar terus melahirkan kehidupan.

Sebab pangan, pada hakikatnya adalah benteng pertahanan sebuah negara.

Tifa dari Ternate

Saleh adalah putra Ternate, sebuah pulau kecil yang berlimpah cengkeh dan pala. Kini, salah satu putra terbaiknya dipanggil negara ikut mengurus pertanian Indonesia Dari cengkeh menuju padi. Dari jalur rempah menuju jalan kedaulatan pangan.

Saya mengenal Saleh sebagai sosok yang tekun lagi santun. Murah senyum, gemar menyanyi, tetapi tegas ketika bertugas.

Trending Now:  Kisah Jenderal Maruli Memimpin Judo

Karakter itu selalu mengingatkan saya kepada salah satu warisan budaya Ternate: Dalil Tifa, tradisi lisan berisi petuah kehidupan yang dilantunkan bersama irama tifa.

Salah satu nasihatnya berbunyi:

Moku-moku kore mie. Paga gudu yo sose gudu. Jaga doro laha-laha kara no toro. Afa mara sala doro. Juanga ruba toma luleo.

Kurang lebih maknanya: ombak boleh pecah dan bertebaran, tetapi tunggulah ombak yang baik untuk diikuti. Jangan salah memilih, sebab bahtera bisa hancur.

Itulah filsafat kepemimpinan.

Pemimpin bukan hanya harus berani berlayar. Ia harus pandai membaca gelombang.

Di Kementerian Pertanian, gelombang itu bernama iklim, air, pupuk, harga, distribusi, teknologi, hilirisasi dan nasib jutaan petani.

Salah membaca ombak, kebijakan bisa karam sebelum sampai ke sawah.

Belajar dari Medan

Saleh telah melewati banyak medan. Ia pernah menjadi Dan Grup 1 Kopassus, bertugas di Aceh, menjadi Danrem 132/Tadulako di tengah operasi Poso, Pangdam XVII/Cenderawasih, Kaskostrad, Pangkostrad, Irjen TNI hingga Wakil KSAD.

Ketika bertugas di Poso, ia menulis buku berjudul “Menuai Damai di Tanah Poso.” Saya menyukai kata menuai itu. Damai rupanya seperti padi. Ia harus ditanam, dirawat dan dijaga sebelum akhirnya dipanen.

Kini metafora itu menjadi nyata. Saleh benar-benar memasuki dunia orang menanam dan menuai.

Saya kembali banyak berinteraksi dengannya ketika pandemi Covid-19. Saat itu saya mendampingi Kepala BNPB sekaligus Ketua Satgas Covid-19 Letjen TNI Doni Monardo. Saleh, yang menjabat Kasdam Jaya, mendapat tanggung jawab besar dalam penanganan Rumah Sakit Darurat Covid-19 Wisma Atlet Kemayoran. Nyaris hampir setiap hari kami bersama. Apalagi saya dan Doni Monardo menginap di lantai 10 Graha BNPB.

Ia bahkan ikut terpapar Covid.

Setelah pulih, ia kembali bekerja.

Trending Now:  Sampaikan Aspirasi Masyarakat, Komisi A DPRD Merauke Audensi ke Korem 174/ATW

Dari pandemi itu ada pelajaran sederhana, bahwa operasi sebesar apa pun akan lumpuh tanpa logistik dan kolaborasi.

Pertanian pun demikian. Benih membutuhkan pupuk. Pupuk membutuhkan distribusi. Tanaman membutuhkan air. Produksi membutuhkan pasar. Petani membutuhkan harga yang layak. Semua harus bergerak dalam satu irama.

Doni, Sagu dan Papua

Ada kenangan lain yang hari ini terasa seperti isyarat. Ketika Saleh menjadi Pangdam XVII Cenderawasih, Doni Monardo bertandang dalam bakti sosial operasi katarak “Kitorang Melihat Terang” di Puncak Jaya bekerjasama dengan PPAD.

Dari sana, Doni mengajaknya melihat sagu di Sentani. Keduanya ketika itu mengatakan tekad menjadikan Papua sebagai salah satu sentra pangan melalui sagu.

Saya tidak tahu apakah ia masih mengingat percakapan itu. Saya mengingatnya. Dulu ia berdiri di depan pengolahan sagu sebagai Pangdam. Kini ia masuk Kementerian Pertanian. Sejarah kadang menyambungkan titik-titik yang dahulu terlihat tidak berhubungan.

Dari Doni pula Saleh menyerap prinsip “kolaborasi tanpa batas” dan filosofi “kita jaga alam, alam jaga kita.” Dua kalimat itu rasanya pantas dibawa ke meja kerjanya yang baru.

Sebab pertanian bukan sekadar mengejar berapa ton produksi gabah kering. Tanah harus tetap subur, air harus tersedia, alam harus terjaga, dan orang yang mengolahnya harus hidup sejahtera.

Tifa Bertemu Siri’ na Pacce

Di Kementerian Pertanian, Saleh akan mendampingi Andi Amran Sulaiman. Secara semiotik, pertemuan keduanya menarik.

Saleh membawa Ternate dengan sejarah rempah dan Dalil Tifa. Amran membawa Sulawesi Selatan dengan nilai siri’ na pacce—harga diri yang berpadu dengan solidaritas dan kepedulian kepada sesama.

Jika dibawa ke dunia pertanian, siri’ dapat dimaknai sebagai harga diri bangsa untuk mampu memberi makan rakyatnya sendiri. Sedangkan pacce adalah keberpihakan kepada mereka yang menanam pangan.

Sebab petani tidak cukup dipuji ketika panen raya. Ia harus hadir dalam pikiran negara ketika pupuk sulit, air tak datang, harga jatuh, atau gagal panen.

Trending Now:  Bersama Dinkes, Satgas 303/SSM Distribusikan Obat-Obatan dan Makanan Sehat Untuk Masyarakat Papua

Di situlah Ternate bertemu Bugis.

Tifa memberi irama. Siri’ memberi harga diri. Pacce memberi hati.

Dan sawah menjadi medan pengabdiannya.

Saleh mempunyai modal pengalaman yang relevan: kemampuan mengorganisasi manusia, logistik, wilayah dan kolaborasi.

Tetapi pertanian mempunyai hukum yang berbeda dari militer.

Sawah tidak mengenal komando.

Tanah tidak bisa dibentak. Musim tidak bisa diperintah. Semuanya harus dibaca, dirawat dan dihormati.

Saleh pernah mengutip petuah seniornya, almarhum Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo, “Jangan jauh dari anggota. Semakin dekat dengan anggota, semakin cepat kau ketahui masalah.”

Di Kementerian Pertanian kelak Saleh wajib duduk di pematang sawah dan bertanya kepada petani: setelah panen, berapa yang benar-benar dibawa pulang untuk keluarganya? Sebab setiap hamparan sawah mempunyai cerita.

Baret Merah di Hamparan Sawah

Saleh juga masih mengingat pesan Prabowo Subianto sejak masa mudanya di lingkungan pasukan khusus, “Jadilah prajurit menangan, jangan jadi prajurit kalahan.” Juga pesan berikutnya,

“Train hard, fight easy.”

Dulu Prabowo adalah jenderal yang menggembleng para perwira muda baret merah, termasuk Saleh. Hari ini, sebagai Presiden Republik Indonesia, Prabowo mengirim salah seorang bekas anak buahnya memasuki medan yang berbeda, kedaulatan pangan.

Seragam boleh berganti. Medan boleh berubah. Tetapi hakikat pengabdian tetap sama.

Jika dahulu Saleh menjaga mereka yang berada di garis depan pertahanan negara, kini ia ikut menjaga mereka yang berada di garis depan kedaulatan pangan.

Saya membayangkan sebuah gambar. Seorang putra Ternate berdiri di pematang sawah. Dari kejauhan terdengar tifa. Di sampingnya berdiri seorang lelaki Bugis bernama Amran Sulaiman. Di depan mereka padi mulai menguning.

Selamat bertugas, Bro Saleh. (*)

You Might Also Like

Kisah Jenderal Maruli Memimpin Judo

Ikhtiar Menjaga Nyawa di Jalur Merauke-Boven Digoel

1,49 Juta Rokok Ilegal Dimusnahkan, Apolo Safanpo Minta Pengawasan Rantai Distribusi Diperketat

Kodaeral XI Gelar Bakti Kesehatan, Warga RTS Suku Asmat Dapat Pengobatan Gratis

Tiffa News 02/10/2026
Share this Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Telegram Email Print
What do you think?
Love0
Sad0
Happy0
Sleepy0
Angry0
Dead0
Wink0
Previous Article Anak Papua Di Kampung Pun Bisa Jadi Programmer
Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow US

Find US on Social Medias
Facebook Like
Twitter Follow
Youtube Subscribe
Telegram Follow
- Advertisement -
Ad imageAd image
- Advertisement -
Ad imageAd image
newsletter featurednewsletter featured

Weekly Newsletter

Kirim Email Anda agar bisa kami infokan berita pilihan terpopuler

Popular News
BERITA

Yohanis Yandi Gebze Ajak Warga Kampung Urumb Manfaatkan Potensi Pangan Lokal

By Tiffa News 2 days ago
Yohanis Yandi Gebze Bagikan Paket Sembako kepada Warga Kampung Urumb
Papua Selatan Raih Penghargaan Pembangunan Progresif dari Bappenas
Anak Papua Di Kampung Pun Bisa Jadi Programmer
Sepenggal Kisah Jenderal Ternate, Saleh Mustafa

SUARNEWS.COM

about us

We influence 20 million users and is the number one business and technology news network on the planet.

  • BERITA
  • PON XX 2021
  • GALERI
  • KAMTIBMAS
  • NUSANTARA
  • PUSTAKA
  • GAYA HIDUP
  • JEJAK
  • SUARNEWS
  • INTAN JAYA
  • Susunan Redaksi
  • Tentang Kami
  • Contact
  • Privacy Policy
  • Disclaimer

Find Us on Socials

© TIFFANews Network. RAKA GENDIS.id Company. All Rights Reserved. Suar News

Removed from reading list

Undo
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?