Oleh : Agus Sumule (Universitas Papua)
TIFFANEWS.CO.ID – Anak-anak di kampung Papua berhak memperoleh kesempatan untuk mengenal teknologi, memahami cara kerjanya, dan menciptakan sesuatu dengannya. Jarak dari kota tidak boleh menjadi batas bagi kesempatan mereka untuk belajar.
Gagasan menarik datang dari Manu Nauw, mantan guru pendamping Sekolah Sepanjang Hari (SSH) yang berlatar belakang ilmu komputer dan kini melanjutkan studi S2 di IPB University. Ia mengusulkan pembelajaran pemrograman bagi anak-anak SSH, dimulai dengan uji coba di Hariti, Kabupaten Nabire.
Usulan ini datang pada waktu yang tepat. Disdikbud Papua Tengah, melalui SSH telah menyediakan sekitar 30 tablet per sekolah. Dengan dukungan internet yang dipasang di setiap SSH, papan pintar interaktif, dan guru pendamping, perangkat tersebut dapat digunakan untuk kegiatan belajar yang lebih kreatif.
Apakah anak SD sudah bisa belajar pemrograman? Bisa, asalkan cara mengajarnya sesuai dengan usia dan kemampuan mereka.
Manu mengusulkan MIT App Inventor, sebuah alat untuk membuat aplikasi dengan menyusun blok-blok perintah. Bentuknya menyerupai kepingan puzzle. Anak-anak tidak harus langsung mengetik kode yang rumit. Mereka belajar menyusun instruksi: ketika sebuah tombol disentuh, gambar muncul; ketika jawaban benar dipilih, nilai bertambah.
Di balik kegiatan sederhana itu, anak belajar berpikir runtut, memahami hubungan sebab dan akibat, mencari kesalahan, dan mencoba memperbaikinya. Mereka juga belajar bahwa kegagalan pertama bukan alasan untuk menyerah.
Bayangkan anak-anak Hariti membuat kuis berhitung, permainan mengenal ikan, atau aplikasi sederhana berisi gambar dan kosakata bahasa daerah. Teknologi menjadi dekat dengan kehidupan mereka, sekaligus membuka ruang untuk merawat bahasa dan pengetahuan lokal.
Tentu, memiliki tablet saja belum cukup. Guru perlu disiapkan, perangkat harus diuji, dan pelajaran perlu dirancang bertahap. Pembelajaran dapat dimulai dari permainan logika tanpa layar, kemudian dilanjutkan dengan menyusun blok perintah dan membuat aplikasi sederhana.
Karena itu, usulan Manu layak diberi kesempatan melalui uji coba kecil. Misalnya, 12–16 anak kelas atas SD belajar selama enam minggu, didampingi dua guru. Anak-anak dapat bekerja berpasangan agar mereka saling membantu dan bergantian menggunakan tablet.
Keberhasilannya jangan hanya diukur dari aplikasi yang selesai dibuat. Lebih penting lagi: apakah anak mampu menjelaskan perintah yang disusunnya? Apakah ia dapat menemukan kesalahan dan memperbaikinya? Apakah ia semakin percaya diri untuk mencoba?
Manu juga dapat membantu melatih guru setempat sehingga kegiatan ini dapat berlanjut ketika ia sedang menjalankan kewajiban studinya.
SSH ingin membuka kesempatan belajar yang lebih luas bagi anak-anak Papua. Membaca, menulis, dan berhitung tetap menjadi dasar. Pemrograman dapat menjadi salah satu kegiatan yang memperkuat dasar tersebut melalui pengalaman yang menyenangkan.
Tidak semua anak harus menjadi programmer. Tetapi setiap anak patut memperoleh kesempatan untuk menemukan kemampuan dan minatnya.
Anak kampung pun bisa jadi programmer—jika kita menyediakan kesempatan, pendampingan, dan ruang untuk mencoba.




