TIFFA NEWSTIFFA NEWS
  • HOME
  • BERITA
  • OLAHRAGA
  • KAMTIBMAS
  • POLITIK
  • PPS
  • NUSANTARA
  • GALERI
  • OPINI
  • OTHERS
    • PUSTAKA
    • BUDAYA
    • EKONOMI
    • HANKAM
    • HAM
    • JEJAK
    • GAYA HIDUP
    • INTAN JAYA
    • SOSOK
Search
Reading: Anak Papua Di Kampung Pun Bisa Jadi Programmer
Share
TIFFA NEWSTIFFA NEWS
Search
  • HOME
  • BERITA
  • OLAHRAGA
  • KAMTIBMAS
  • POLITIK
  • PPS
  • NUSANTARA
  • GALERI
  • OPINI
  • OTHERS
    • PUSTAKA
    • BUDAYA
    • EKONOMI
    • HANKAM
    • HAM
    • JEJAK
    • GAYA HIDUP
    • INTAN JAYA
    • SOSOK
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2022 RAKA for Tiffa Company. All Rights Reserved.
TIFFA NEWS > News > OPINI > Anak Papua Di Kampung Pun Bisa Jadi Programmer
OPINI

Anak Papua Di Kampung Pun Bisa Jadi Programmer

Last updated: 02/10/2026 - 16:27
By Tiffa News
Share
Agus Sumule
SHARE

Oleh : Agus Sumule (Universitas Papua)

TIFFANEWS.CO.ID – Anak-anak di kampung Papua berhak memperoleh kesempatan untuk mengenal teknologi, memahami cara kerjanya, dan menciptakan sesuatu dengannya. Jarak dari kota tidak boleh menjadi batas bagi kesempatan mereka untuk belajar.

Gagasan menarik datang dari Manu Nauw, mantan guru pendamping Sekolah Sepanjang Hari (SSH) yang berlatar belakang ilmu komputer dan kini melanjutkan studi S2 di IPB University. Ia mengusulkan pembelajaran pemrograman bagi anak-anak SSH, dimulai dengan uji coba di Hariti, Kabupaten Nabire.

Usulan ini datang pada waktu yang tepat. Disdikbud Papua Tengah, melalui SSH telah menyediakan sekitar 30 tablet per sekolah. Dengan dukungan internet yang dipasang di setiap SSH, papan pintar interaktif, dan guru pendamping, perangkat tersebut dapat digunakan untuk kegiatan belajar yang lebih kreatif.

Apakah anak SD sudah bisa belajar pemrograman? Bisa, asalkan cara mengajarnya sesuai dengan usia dan kemampuan mereka.

Trending Now:  Mencermati (Lagi) Gonjang-Ganjing Sayembara Logo Provinsi Papua Selatan

Manu mengusulkan MIT App Inventor, sebuah alat untuk membuat aplikasi dengan menyusun blok-blok perintah. Bentuknya menyerupai kepingan puzzle. Anak-anak tidak harus langsung mengetik kode yang rumit. Mereka belajar menyusun instruksi: ketika sebuah tombol disentuh, gambar muncul; ketika jawaban benar dipilih, nilai bertambah.

Di balik kegiatan sederhana itu, anak belajar berpikir runtut, memahami hubungan sebab dan akibat, mencari kesalahan, dan mencoba memperbaikinya. Mereka juga belajar bahwa kegagalan pertama bukan alasan untuk menyerah.

Bayangkan anak-anak Hariti membuat kuis berhitung, permainan mengenal ikan, atau aplikasi sederhana berisi gambar dan kosakata bahasa daerah. Teknologi menjadi dekat dengan kehidupan mereka, sekaligus membuka ruang untuk merawat bahasa dan pengetahuan lokal.

Tentu, memiliki tablet saja belum cukup. Guru perlu disiapkan, perangkat harus diuji, dan pelajaran perlu dirancang bertahap. Pembelajaran dapat dimulai dari permainan logika tanpa layar, kemudian dilanjutkan dengan menyusun blok perintah dan membuat aplikasi sederhana.

Trending Now:  PASAL vs SAKRAL : Tragedi Kebutaan Hukum di Tanah Cenderawasih

Karena itu, usulan Manu layak diberi kesempatan melalui uji coba kecil. Misalnya, 12–16 anak kelas atas SD belajar selama enam minggu, didampingi dua guru. Anak-anak dapat bekerja berpasangan agar mereka saling membantu dan bergantian menggunakan tablet.

Keberhasilannya jangan hanya diukur dari aplikasi yang selesai dibuat. Lebih penting lagi: apakah anak mampu menjelaskan perintah yang disusunnya? Apakah ia dapat menemukan kesalahan dan memperbaikinya? Apakah ia semakin percaya diri untuk mencoba?

Manu juga dapat membantu melatih guru setempat sehingga kegiatan ini dapat berlanjut ketika ia sedang menjalankan kewajiban studinya.

SSH ingin membuka kesempatan belajar yang lebih luas bagi anak-anak Papua. Membaca, menulis, dan berhitung tetap menjadi dasar. Pemrograman dapat menjadi salah satu kegiatan yang memperkuat dasar tersebut melalui pengalaman yang menyenangkan.

Tidak semua anak harus menjadi programmer. Tetapi setiap anak patut memperoleh kesempatan untuk menemukan kemampuan dan minatnya.

Trending Now:  Ferdinandus Kainakaimu, Fajar Harapan Birokrasi di Papua Selatan*

Anak kampung pun bisa jadi programmer—jika kita menyediakan kesempatan, pendampingan, dan ruang untuk mencoba.

You Might Also Like

Papua Kaya, Tetapi Siapa Yang Menikmatinya?

QUO VADIS YPPK MERAUKE?

Papua Harus Siaga: Gejala El Nino, Kekeringan dan Ancaman Kebakaran Hutan di Tanah Papua

SSH-2: KETIKA PENDIDIKAN MENENGAH HADIR DI KAMPUNG

Tiffa News 02/10/2026
Share this Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Telegram Email Print
What do you think?
Love0
Sad0
Happy0
Sleepy0
Angry0
Dead0
Wink0
Previous Article Papua Selatan Raih Penghargaan Pembangunan Progresif dari Bappenas
Next Article Sepenggal Kisah Jenderal Ternate, Saleh Mustafa
Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow US

Find US on Social Medias
Facebook Like
Twitter Follow
Youtube Subscribe
Telegram Follow
- Advertisement -
Ad imageAd image
- Advertisement -
Ad imageAd image
newsletter featurednewsletter featured

Weekly Newsletter

Kirim Email Anda agar bisa kami infokan berita pilihan terpopuler

Popular News
BERITA

Yohanis Yandi Gebze Ajak Warga Kampung Urumb Manfaatkan Potensi Pangan Lokal

By Tiffa News 2 days ago
Yohanis Yandi Gebze Bagikan Paket Sembako kepada Warga Kampung Urumb
Papua Selatan Raih Penghargaan Pembangunan Progresif dari Bappenas
Anak Papua Di Kampung Pun Bisa Jadi Programmer
Sepenggal Kisah Jenderal Ternate, Saleh Mustafa

SUARNEWS.COM

about us

We influence 20 million users and is the number one business and technology news network on the planet.

  • BERITA
  • PON XX 2021
  • GALERI
  • KAMTIBMAS
  • NUSANTARA
  • PUSTAKA
  • GAYA HIDUP
  • JEJAK
  • SUARNEWS
  • INTAN JAYA
  • Susunan Redaksi
  • Tentang Kami
  • Contact
  • Privacy Policy
  • Disclaimer

Find Us on Socials

© TIFFANews Network. RAKA GENDIS.id Company. All Rights Reserved. Suar News

Removed from reading list

Undo
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?