TIFFANEWS.CO.ID – Alarm handphone (HP) berdering menunjukkan pukul 05.30 pagi. Bagi Eter Batmanlussy, bunyi itu menjadi penanda dimulainya rutinitas yang sudah dijalani selama bertahun-tahun sebagai pengemudi Hilux di jalur Merauke-Asiki-Boven Digoel.
Udara subuh masih terasa dingin ketika pria 48 tahun itu beranjak dari ranjang. Secangkir kopi Rusa menjadi teman sebelum ia memeriksa kembali kendaraan yang akan membawanya menempuh perjalanan ratusan kilometer.
Sekitar 15 tahun Eter menggantungkan penghidupan di balik kemudi Hilux. Jalan panjang Merauke-Asiki-Boven Digoel bukan lagi sekadar lintasan untuk mencari nafkah. Dari perjalanan yang berulang itu, ia belajar mengenali banyak hal yang bisa muncul di jalan, mulai dari kondisi kendaraan, perubahan permukaan jalan, asap yang mengganggu pandangan, hingga perilaku pengguna jalan lain.
Bagi Eter, perjalanan sebenarnya belum dimulai ketika mesin dinyalakan. Sebelum kunci diputar, ada beberapa hal yang tidak pernah ia lewatkan. Tekanan angin ban diperiksa, rem dipastikan berfungsi, begitu pula kondisi kendaraan secara keseluruhan. Sabuk pengaman pun menjadi bagian dari persiapannya.
Sebab, ketika kendaraan mulai bergerak, yang dipertaruhkan bukan hanya keselamatannya sendiri. Ada penumpang dan barang yang ikut menjadi tanggung jawabnya sepanjang perjalanan.
Nama Eter cukup dikenal di kalangan sesama sopir jalur ini. Selain memiliki jam terbang panjang, ia dipercaya menjadi ketua koperasi para pengemudi. Kepercayaan itu bukan semata karena siapa yang paling lama berada di jalan, tetapi karena kemampuan membawa orang melewati perjalanan panjang dan kembali dengan selamat.

Ketika BBM Menjadi Penentu
Orang mungkin mengira perjalanan darat dari Merauke menuju Boven Digoel hanyalah perjalanan antarkota biasa. Padahal jaraknya sekitar 425 kilometer. Dalam kondisi normal, perjalanan bisa memakan waktu hingga tujuh jam.
Karena itu, kesiapan kendaraan, kondisi fisik pengemudi, ketersediaan bahan bakar, hingga kewaspadaan sepanjang perjalanan menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan.
Menariknya, yang menentukan keberangkatan tidak selalu soal kendaraan siap atau tidak. Penumpang bisa saja sudah menunggu sejak pagi, barang sudah dinaikkan, dan kendaraan dalam kondisi baik. Namun, ketika BBM belum tersedia, perjalanan bisa tertunda begitu saja.
Bagi sopir yang menempuh ratusan kilometer, bahan bakar bukan perkara sepele. Eter selalu memastikan BBM cukup untuk perjalanan, termasuk menyiapkan cadangan karena di tempat tujuan belum tentu tersedia pasokan.
“Kalau kita punya perjalanan ini jauh, di tempat tujuan yang kita tuju juga kadang minyak tidak ada. Jadi kita harus siapkan cadangan,” ujarnya.
Setelah semuanya siap, barulah roda mulai berputar. Perjalanan sekitar tujuh jam, termasuk beristirahat sebentar di Simpati, menuntut kewaspadaan yang tidak boleh putus. Mata harus terus memperhatikan jalan, kendaraan lain, kondisi kendaraan sendiri, dan situasi yang dapat berubah sewaktu-waktu.
Bahaya di jalur ini pun tidak selalu terlihat sejak awal perjalanan.
Eter masih mengingat asap kebakaran yang biasanya muncul menjelang akhir tahun. Ketika asap menutup pandangan, jarak pandang pengemudi ikut berkurang dan kewaspadaan harus ditingkatkan.
Ada pula lampu kendaraan yang tidak sesuai standar dan dapat mengganggu penglihatan ketika berpapasan. Kendaraan perusahaan dengan muatan besar juga membutuhkan perhatian ekstra. Begitu pula tumpahan minyak di badan jalan yang membuat permukaan menjadi licin.
Bagi pengemudi, jalan licin dan kecepatan tinggi merupakan kombinasi yang tidak bisa dianggap sepele.
Lima belas tahun berada di balik kemudi tidak membuat Eter menganggap risiko sebagai sesuatu yang biasa. Justru pengalaman panjang membuatnya semakin memahami bahwa bahaya tidak hanya berasal dari kendaraan yang ia kemudikan, tetapi juga dari pengguna jalan lain yang tidak selalu bisa ia kendalikan.
Dilema di Bak Terbuka
Ada satu persoalan yang paling dekat dengan keseharian Eter sebagai sopir, yakni penumpang yang memilih naik di bak terbuka Hilux.
Secara keselamatan, Eter tidak pernah menyarankan hal tersebut. Namun, kenyataan di lapangan tidak selalu sesederhana aturan. Ada warga dengan keterbatasan biaya, anak sekolah yang pulang berlibur, hingga orang yang memiliki kebutuhan mendesak dan harus segera tiba di tempat tujuan.
Di situlah Eter menghadapi dilema.
Ia memahami risiko membawa penumpang di bak terbuka. Namun, pada saat yang sama, ia juga melihat kebutuhan masyarakat yang masih bergantung pada moda transportasi tersebut.
Ketika kondisi itu terjadi, yang bisa ia lakukan adalah meningkatkan kewaspadaan dan mengurangi kecepatan.
“Kalau memang harus ada penumpang di bak, kami usahakan mengurangi kecepatan dan lebih berhati-hati,” katanya.
Bagi Eter, persoalannya bukan sekadar berapa orang yang bisa dimuat dalam kendaraan. Begitu mobil bergerak, ada nyawa manusia yang ikut menjadi tanggung jawabnya.
Cerita dari Sisi Penumpang
Kekhawatiran yang sama juga dirasakan dari sisi penumpang.
Yoppy Leo Fernando Alua, 29 tahun, sudah berkali-kali menjalani perjalanan Merauke-Boven Digoel. Ia memahami bahwa perjalanan darat sejauh itu memiliki tantangan sendiri, mulai dari kondisi jalan yang dapat membuat penumpang mual hingga kekhawatiran ketika kendaraan mengalami ban pecah atau bocor di tengah perjalanan.

Namun, ada satu hal yang paling membuatnya was-was: ketika kendaraan melaju terlalu kencang.
Duduk di dalam kabin memang terasa lebih aman dibandingkan berada di bak terbuka. Tetapi kabin pun tidak selalu nyaman. Bangku yang idealnya diisi tiga orang terkadang harus menampung empat penumpang. Ditambah anak-anak dan barang bawaan, ruang gerak menjadi semakin terbatas.
Di sisi lain, penumpang yang berada di bak terbuka menghadapi risiko berbeda. Mereka harus menjaga keseimbangan selama perjalanan. Ketika duduk di atas barang atau sepeda motor, kondisi itu menjadi semakin tidak nyaman.
Menurut Yoppy, tidak semua orang memilih bak terbuka semata-mata karena biaya. Sebagian penumpang justru lebih mudah mabuk ketika berada di dalam kabin sehingga memilih berada di luar karena merasa memiliki ruang gerak lebih leluasa. Meski demikian, faktor biaya tetap menjadi pertimbangan bagi sebagian warga.
Ia sendiri pernah merasa cemas ketika kendaraan melaju kencang, terutama saat mendekati tikungan atau melewati ruas jalan yang kurang baik.
Jalur tersebut juga tidak hanya digunakan Hilux. Sepeda motor dan truk pengangkut material proyek berbagi ruang jalan yang sama.
Tidak jarang, penumpang akhirnya meminta sopir mengurangi kecepatan. Menurut Yoppy, para sopir biasanya cukup responsif terhadap teguran tersebut karena mereka juga memahami bahwa keselamatan penumpang berada di tangan mereka selama perjalanan.
Meski memiliki berbagai risiko, Hilux tetap menjadi pilihan transportasi masyarakat di jalur tersebut. Bagi Yoppy, kendaraan itu dianggap paling sesuai dengan kondisi jalan, mampu membawa barang lebih banyak, dan biayanya lebih terjangkau dibandingkan pesawat yang tidak terbang setiap hari.
Karena itu, menurutnya, keselamatan tidak semestinya hanya dibebankan kepada sopir. Penumpang, terutama mereka yang baru pertama kali melewati jalur tersebut, juga perlu memahami risiko sejak awal.
Ia berharap informasi mengenai keselamatan dapat lebih mudah ditemukan di titik-titik keberangkatan, termasuk mengenai kapasitas kendaraan, posisi duduk yang aman, serta risiko membawa penumpang di bak terbuka.
“Keselamatan lebih penting daripada mengejar waktu,” ujarnya.
Ketika Kecepatan Menjadi Persoalan
Dari kacamata kepolisian, persoalan keselamatan di jalur Merauke-Boven Digoel tidak hanya berkaitan dengan kondisi jalan. Perilaku pengemudi juga menjadi salah satu faktor yang perlu mendapat perhatian.
Faisal, Banit Regident Lantas Merauke, mengatakan terdapat beberapa titik jalan yang cukup sempit sehingga membutuhkan kewaspadaan ekstra. Kondisi tersebut menjadi semakin berisiko ketika pengemudi tidak mematuhi batas kecepatan.

Di atas kertas, batas kecepatan berada pada kisaran 60 hingga 80 kilometer per jam. Namun di lapangan, Faisal masih menemukan kendaraan yang melaju jauh lebih kencang, bahkan mencapai 100 hingga 120 kilometer per jam.
Selain kecepatan, petugas juga menemukan kendaraan dengan dimensi yang tidak sesuai, muatan berlebihan atau overload, hingga pengemudi yang berkendara dalam pengaruh minuman keras.
Untuk mengawasi jalur tersebut, patroli dilakukan sekitar lima hingga enam kali dalam sebulan. Namun, panjangnya jalur menjadi tantangan tersendiri bagi petugas.
Ketika menemukan pickup atau Hilux membawa penumpang di bak terbuka atau melebihi kapasitas, langkah awal yang dilakukan biasanya berupa edukasi dan teguran. Jika pelanggaran terus berulang, penindakan hukum dapat diberlakukan.
Faisal mengakui, membawa penumpang di bak terbuka masih dianggap sebagai hal yang biasa oleh sebagian masyarakat setempat. Kondisi tersebut tidak bisa dilepaskan dari kebutuhan transportasi warga di wilayah tersebut.
Karena itu, pendekatan keselamatan tidak hanya dilakukan melalui penindakan, tetapi juga melalui edukasi yang terus diberikan.
Menurut Faisal, tantangan terbesar bukan sekadar membuat pengemudi mendengar imbauan keselamatan, melainkan memastikan imbauan itu benar-benar diterapkan ketika mereka kembali berada di jalan.
Lantas juga berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan ketika menemukan kebutuhan rambu atau fasilitas keselamatan jalan yang perlu diperhatikan. Bagi Faisal, keselamatan seharusnya dimulai sebelum kendaraan bergerak.
Tubuh harus dalam kondisi sehat. Kendaraan harus layak jalan. Rem dan lampu harus berfungsi dengan baik. Dan yang tidak kalah penting, pengemudi tidak boleh berkendara dalam pengaruh alkohol.

Keselamatan yang Terus Diingatkan
Di tengah berbagai persoalan itu, Eter melihat kondisi jalan dalam beberapa tahun terakhir sudah mengalami perbaikan. Keberadaan rambu lalu lintas juga cukup membantu para pengemudi.
Namun, ia berharap perhatian terhadap kendaraan-kendaraan besar yang menggunakan badan jalan dapat terus ditingkatkan. Pengaturan lalu lintas kendaraan besar dan pelebaran jalan, menurutnya, dapat membuat perjalanan menjadi lebih aman.
Namun, bagi Eter, perjalanan yang aman tidak hanya membutuhkan kewaspadaan di balik kemudi. Pengetahuan tentang keselamatan juga perlu terus diingatkan.
Ia mengakui sosialisasi keselamatan dari Dinas Perhubungan tetap dilakukan. Namun, menurutnya, edukasi semacam itu perlu terus diperkuat dan menjangkau lebih banyak pengemudi maupun penumpang yang setiap hari mengandalkan jalur Merauke-Asiki-Boven Digoel.
Sebab, sebagian kesadaran keselamatan yang diterapkan para sopir juga tumbuh dari pengalaman mereka sendiri selama berhadapan langsung dengan berbagai risiko di jalan.
Lima belas tahun di balik kemudi tidak lantas membuat setiap perjalanan terasa biasa bagi Eter. Justru sebaliknya, setiap kilometer terus mengingatkannya bahwa jalan selalu menyimpan kemungkinan yang tidak bisa ditebak.
Ia mungkin sudah hafal setiap tikungan, mengetahui kondisi jalan, bahkan memahami kapan harus memperlambat laju kendaraan. Namun, ada satu hal yang tidak pernah bisa ia pastikan, apa yang akan ditemuinya ketika roda kembali berputar.
Karena itu, setiap kali mesin dinyalakan dan perjalanan dimulai, yang ia bawa bukan hanya penumpang, barang, dan bekal seadanya. Ada tanggung jawab untuk memastikan semuanya tiba di tujuan dengan selamat.
Di ujung setiap perjalanan, selalu ada rumah yang menunggu Eter pulang.
Keluarganya mungkin tidak pernah tahu persis seperti apa jalan yang baru saja ia lewati, seberapa jauh perjalanan hari itu, atau berapa kali ia harus menginjak rem menghadapi situasi di depan. Mereka hanya menunggu satu hal sederhana: Eter pulang dengan selamat.
Dan barangkali, di situlah makna keselamatan di jalur Merauke-Asiki-Boven Digoel.
Bukan sekadar tentang seberapa cepat seseorang sampai ke tujuan, melainkan tentang memastikan ada perjalanan pulang kepada orang-orang yang menunggu di rumah.
(Josua Wanma)




