TIFFANEWS.CO.ID – Pagi 7 Juli 2005, suasana di Pelabuhan Merauke terlihat seperti hari-hari biasa. Aktivitas penumpang berlangsung seperti biasa. Ada yang membawa barang, ada yang mengantar keluarga, sementara awak kapal menyiapkan KM Digoel yang akan berangkat menuju Tanah Merah, Kabupaten Boven Digoel.
Tidak ada yang tahu bahwa perjalanan itu kelak menjadi salah satu tragedi pelayaran yang dikenang di Papua.
Sekitar pukul 07.00 WIT, KM Digoel meninggalkan Merauke. Kapal membawa penumpang sekaligus berbagai kebutuhan untuk perjalanan menuju Tanah Merah. Di dalamnya terdapat manusia dengan tujuan masing-masing, juga barang dan muatan yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di wilayah yang ketika itu sangat bergantung pada jalur transportasi laut.
Hari mulai berganti malam ketika perjalanan memasuki perairan Arafura. Sekitar 11 mil dari Merauke, kondisi cuaca memburuk. Angin bertiup kencang. Gelombang dilaporkan mencapai sekitar lima meter.
Bagi orang yang berada di darat, angka lima meter mungkin hanya sebuah ukuran. Tetapi bagi orang yang berada di atas kapal ini lebih dari kata “sepele”. Gelombang sebesar itu adalah penghancur yang langsung menghantam tubuh kapal dan segala sesuatu yang ada di dalamnya.
Salah satu penumpang KM Digoel malam itu, Obet Kanikatu, yang mengingat bagaimana keadaan berubah ketika gelombang besar mulai memorakporandakan kapal.
“Saat ombak setinggi lebih kurang lima meter memorakporandakan kapal itu, lampu di kapal tersebut langsung padam dan kapal menjadi gelap gulita. Kami tidak dapat melihat sama sekali. Kami saling berpegangan, kemudian berhasil mengambil dua jeriken air minum yang sudah hampir habis di samping kami,” ujar Obet (Kompas,13/7/2025).
Dalam gelap, keselamatan bukan lagi soal kenyamanan perjalanan. Penumpang hanya berusaha bertahan.
KM Digoel akhirnya TENGGELAM !
Ketika Pencarian Dimulai
Musibah tersebut segera mengubah suasana di Merauke, pelabuhan yang biasanya hanya ramai saat kapal tiba, penuh sesak oleh perahu dari tim penyelamat gabungan. Operasi pencarian dan pertolongan dilakukan. Tim SAR dikerahkan untuk mencari penumpang yang masih hidup maupun korban yang belum ditemukan.
Tiga hari setelah kecelakaan, pada 10 Juli 2005, pencarian masih berlangsung. Petugas SAR Merauke, Sarina, menyampaikan bahwa tim masih berada di lapangan.
“Tim kita masih di lapangan. Hingga kini belum menemukan korban kembali. Masih sama dengan kemarin, 16 orang yang ditemukan,” kata Sarina.
Kalimat itu menggambarkan situasi pencarian pada saat itu. Tim masih bekerja, tetapi jumlah orang yang ditemukan belum memberikan jawaban atas seluruh penumpang yang berada di dalam kapal.
Di tengah operasi pencarian, muncul persoalan lain yang hingga kini layak menjadi pelajaran: sebenarnya berapa jumlah orang yang berada di dalam KM Digoel?
Lain Angka Diatas Kertas, Lain Jumlah Diatas Kapal
Dalam laporan mengenai tragedi tersebut terdapat perbedaan data.
Sarina menyebut manifest berjumlah 47 orang termasuk awak kapal. Sementara Bupati Merauke saat itu, Tedjo Soeprapto, menyebut berdasarkan manifest terdapat 35 penumpang. Laporan lainnya menyebut jumlah orang yang berada di atas kapal jauh lebih banyak, bahkan mendekati 200 orang.
Kapasitas kapal sendiri disebut sekitar 156 orang.
Angka-angka tersebut berasal dari laporan dan sumber yang berbeda. Karena itu, tidak tepat jika seluruhnya dipaksakan menjadi satu angka pasti.

Namun justru di situlah titik masalahnya !
Dalam sebuah kecelakaan pelayaran, manifest bukan sekadar kertas administrasi. Manifest adalah daftar manusia yang harus diketahui keberadaannya : Siapa yang berada di kapal? Siapa yang sudah ditemukan? Siapa yang masih hilang?
Bagi petugas pencarian dan pertolongan, jawaban atas pertanyaan tersebut sangat penting. Bagi keluarga, jawabannya jauh lebih penting lagi.
Satu nama dalam manifest bukan sekadar satu baris tulisan. “Di balik nama itu ada keluarga yang menunggu, ada rumah yang kehilangan kepastian, dan ada orang-orang yang membutuhkan jawaban”.
Karena itu, perbedaan data penumpang dalam tragedi KM Digoel tidak seharusnya hanya dibaca sebagai persoalan angka dari sebuah kecelakaan masa lalu, namun, pelajaran tentang bagaimana keselamatan seharusnya dimulai bahkan sebelum kapal meninggalkan pelabuhan.
Kapal Tidak Hanya Membawa Manusia
KM Digoel juga membawa berbagai jenis muatan. Di dalam kapal terdapat dua bulldozer dan satu alat berat lainnya. Ada sekitar 600 sak semen, bahan bakar, besi beton, beras serta kebutuhan pokok lainnya.
Ini kemudian menjadi bagian penting dalam pembahasan mengenai penyebab kecelakaan. Dalam laporan dan bahan investigasi saat itu, kelebihan muatan disebut sebagai penyebab utama musibah.
Dapat kita bagi dalam beberapa mata rantai yang saling mengikat, putus satu, keselamatan ikut dipertaruhkan : Kapal memiliki kapasitas. Barang memiliki berat. Penumpang membutuhkan ruang. Muatan memengaruhi keseimbangan kapal. Semua harus diperhitungkan sebelum keberangkatan.
Sebab kapal yang membawa manusia bukan sekadar alat angkut.
Pertanyaannya sederhana: berapa orang yang naik? Berapa barang yang dibawa? Apakah kapasitasnya sesuai? Bagaimana kondisi kapal? Bagaimana kesiapan awak? Bagaimana cuaca? Apakah kapal memang layak berangkat pada saat itu?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut semestinya dijawab di darat, sebelum kapal berhadapan dengan laut.
2026 : Dua Puluh Satu Tahun Kemudian
Dua puluh satu tahun telah berlalu sejak KM Digoel tenggelam. Namun Papua Selatan masih menghadapi kenyataan yang sama dalam satu hal: transportasi laut tetap penting.
Papua Selatan terdiri atas Merauke, Boven Digoel, Mappi dan Asmat. Kondisi geografis yang luas membuat kebutuhan konektivitas tidak dapat hanya mengandalkan satu moda transportasi.
Kapal masih dibutuhkan untuk mengangkut manusia dan barang. Kebutuhan pokok, bahan pembangunan, hasil perdagangan dan berbagai kebutuhan masyarakat harus bergerak dari satu wilayah ke wilayah lainnya.
Pemerintah juga terus mendorong konektivitas antardaerah. Pelabuhan, transportasi darat, laut dan udara menjadi bagian dari upaya membuka akses masyarakat serta memperkuat hubungan antarkawasan.
Artinya, semakin berkembang sebuah wilayah, semakin besar pula pergerakan manusia dan barang. Tetapi ada satu hal yang tidak boleh ikut tertinggal: KESELAMATAN.
Konektivitas yang baik bukan hanya membuat seseorang bisa berangkat lebih cepat atau mencapai wilayah yang sebelumnya sulit dijangkau.
Konektivitas yang baik harus membuat orang bisa berangkat, melakukan perjalanan dan kembali dengan selamat.
“HARUS Beli Tiket, HARUS Terdaftar”
Pelajaran itu masih relevan ketika melihat aktivitas pelabuhan hari ini.
Dalam wawancara eksklusif TIFFANEWS, Kepala KSOP Kelas IV Merauke Capt. Julivan Charlie L. Salindeho menyoroti pentingnya pencatatan penumpang, terutama ketika terjadi lonjakan penumpang pada periode tertentu seperti Natal dan Tahun Baru maupun Idulfitri.
Masih ada masyarakat yang berusaha naik kapal tanpa tiket.
Bagi sebagian orang, membeli tiket dan memastikan nama tercatat mungkin dianggap sebagai urusan administrasi. Namun dari sudut pandang keselamatan, persoalannya jauh lebih besar.
“Harus beli tiket, harus terdaftar,” kata Julivan Jumat (11/9/2026) di Merauke.
Ketika seorang penumpang membeli tiket dan namanya tercatat, keberadaannya masuk ke dalam sistem. Jika terjadi keadaan darurat, petugas memiliki data untuk melakukan pencarian dan pertolongan.
Sebaliknya, penumpang yang tidak tercatat dapat menciptakan persoalan serius ketika terjadi kecelakaan.
Pengalaman KM Digoel memperlihatkan mengapa hal itu penting.
Ketika data mengenai jumlah orang di atas kapal berbeda-beda, pertanyaan mengenai siapa yang berada di kapal dan siapa yang belum ditemukan menjadi semakin sulit dijawab.
Karena itu, manifest seharusnya tidak dipandang sebagai beban birokrasi. Manifest adalah bagian dari sistem keselamatan.
Keselamatan Mulai Bahkan Sebelum Kapal Berangkat
Ada kecenderungan untuk menganggap kecelakaan transportasi sebagai sesuatu yang terjadi ketika kendaraan sudah bergerak. Padahal, banyak keputusan yang menentukan keselamatan justru dibuat sebelum perjalanan dimulai.
Kapal yang tidak layak dapat ditunda keberangkatannya, contohnya :
1. Muatan yang berlebihan dapat ditolak,
2. Jumlah penumpang dapat dibatasi sesuai kapasitas,
3. Kondisi cuaca dapat menjadi bahan pertimbangan,
4. Peralatan keselamatan dapat diperiksa,
5. Awak kapal dapat dipastikan siap menghadapi keadaan darurat,
6. Dan penumpang harus tercatat.
Manusia tidak dapat mengendalikan laut. Tidak ada petugas yang bisa memerintahkan angin berhenti atau meminta gelombang mengecil. Tetapi manusia dapat mengendalikan keputusan yang berada dalam kewenangannya.
“Di situlah inti keselamatan”.
Bukan menjanjikan bahwa kecelakaan tidak akan pernah terjadi, melainkan memastikan bahwa sebelum sebuah perjalanan dimulai, segala sesuatu yang dapat dikendalikan manusia sudah dipersiapkan sebaik mungkin.
Melaju, Tetapi Tetap Selamat
Tema Harhubnas 2026, “Melaju Untuk Transportasi Maju”, berbicara tentang kemajuan transportasi.
Di Papua Selatan, kemajuan itu memiliki arti yang sangat nyata.
Masyarakat membutuhkan konektivitas. Wilayah yang luas membutuhkan transportasi yang mampu menghubungkan satu daerah dengan daerah lainnya. Pembangunan membutuhkan distribusi barang. Perekonomian membutuhkan mobilitas manusia.
Transportasi harus terus bergerak maju.

Namun kemajuan tidak boleh hanya diukur dari bertambahnya kapal, pelabuhan, rute atau jumlah penumpang yang dapat diangkut.
Kemajuan juga harus terlihat dari semakin baiknya sistem keselamatan.
Semakin tertib manifest. Semakin baik pengawasan kapasitas. Semakin disiplin pengendalian muatan. Semakin siap awak kapal. Semakin baik peralatan keselamatan. Semakin tepat keputusan berdasarkan kondisi cuaca.
Sebab teknologi dan infrastruktur boleh berkembang, tetapi tujuan akhirnya tetap sama: manusia harus sampai ke tujuan dengan selamat.
KM Digoel Bukan Sekadar Cerita Lama
KM Digoel tenggelam pada 2005.
Bagi mereka yang mengalami langsung tragedi tersebut, peristiwa itu mungkin tidak akan pernah benar-benar menjadi masa lalu. Bagi generasi yang lahir setelahnya, KM Digoel mungkin hanya sebuah nama dalam arsip pemberitaan.
Tetapi tragedi tidak seharusnya berhenti sebagai angka korban atau cerita lama. Sebuah tragedi memiliki nilai ketika generasi setelahnya mau mengambil pelajaran.
Hari ini kapal masih berangkat dari Pelabuhan Merauke. Penumpang masih membawa tas, barang dan kebutuhan masing-masing. Ada yang hendak bekerja, pulang ke rumah, menemui keluarga atau mengirim barang ke daerah lain.
Pemandangan itu akan terus berlangsung.
Yang harus dipastikan adalah sistem keselamatan ikut berkembang bersama kebutuhan transportasi.
Tiket harus dibeli. Penumpang harus terdaftar. Manifest harus sesuai dengan kondisi sebenarnya. Kapasitas harus diperhitungkan. Muatan harus dikendalikan. Kapal harus diperiksa. Awak harus siap. Peralatan keselamatan harus tersedia. Kondisi cuaca harus menjadi pertimbangan sebelum keputusan keberangkatan dibuat.
Semua itu mungkin terlihat biasa ketika perjalanan berjalan lancar.
Tidak ada berita besar ketika sebuah kapal berangkat tepat waktu, membawa penumpang sesuai kapasitas, mengangkut muatan sesuai ketentuan dan tiba dengan selamat. Namun justru itulah tujuan utama keselamatan transportasi.
Pertanyaan yang lebih penting adalah: apa yang kita lakukan agar peristiwa seperti itu tidak terulang?
Yang bisa dilakukan adalah memastikan setiap keputusan sebelum berlayar dibuat dengan tanggung jawab.
Pada akhirnya, ukuran paling sederhana dari transportasi yang maju bukan hanya seberapa banyak orang dapat diberangkatkan.
Tetapi seberapa banyak dari mereka yang dapat kembali kepada keluarganya. Dengan selamat !
Catatan Penulis
Artikel ini disusun sebagai karya jurnalistik untuk mengikuti Lomba Jurnalistik Harhubnas 2026, dengan mengangkat kembali tragedi KM Digoel 2005 sebagai refleksi terhadap pentingnya keselamatan pelayaran dan pembangunan transportasi di Papua Selatan.
Oleh : Djohan Charles Rumboy, S.E. (Wartawan TIFFA NEWS, Peserta Lomba Jurnalistik Harhubnas 2026)




