TIFFANEWS.CO.ID – Tim 18 Ekspedisi Patriot IPB University mendorong strategi pemberdayaan ekonomi Orang Asli Papua (OAP) berbasis potensi perikanan air tawar di Distrik Animha, Kabupaten Merauke, Papua Selatan.
Gagasan tersebut dibahas dalam Focus Group Discussion (FGD) yang digelar pada Senin (31/8/2026). Kegiatan ini dilakukan untuk memastikan program pemberdayaan yang dirancang bisa menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus memberikan dampak ekonomi yang berkelanjutan.
Distrik Animha yang merupakan kawasan Transmigrasi Lokal (Translok) memiliki potensi perikanan air tawar yang cukup besar. Sejumlah komoditas seperti kakap air tawar, mujair, dan ikan gastor banyak ditemukan di perairan kawasan tersebut.

Namun, potensi itu belum sepenuhnya memberikan nilai ekonomi yang optimal bagi masyarakat. Sebagian hasil tangkapan masih dijual dalam kondisi mentah kepada tengkulak dengan harga yang relatif rendah.
Koordinator Lapangan Tim 18 Ekspedisi Patriot IPB University, Ricky Astawan mengatakan, berdasarkan pemetaan potensi pasar, Distrik Animha merupakan salah satu wilayah pemasok ikan air tawar ke Kota Merauke.
Menurutnya, masyarakat, khususnya di Kampung Wayau dan Kampung Baad, bisa meningkatkan nilai jual hasil tangkapan dengan melakukan pengolahan sebelum dipasarkan.
“Jika masyarakat Distrik Animha, khususnya Kampung Wayau dan Kampung Baad, dapat bersabar dan mengolah hasil tangkapan sendiri menjadi ikan asin, maka nilai jualnya akan lebih tinggi dibandingkan ketika ikan baru ditangkap dan langsung dijual kepada tengkulak,” ujar Ricky.

Ia menilai, pengolahan hasil perikanan merupakan salah satu bentuk hilirisasi sederhana yang bisa dikembangkan masyarakat karena bahan bakunya tersedia di lingkungan sekitar.
Sementara itu, Kepala Seksi Penguatan Kelembagaan Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Kabupaten Merauke, Waluyo mengungkapkan sejumlah persoalan yang masih menjadi kendala dalam pengembangan UMKM masyarakat OAP di Distrik Animha.
“Pada tingkat kampung, belum tersedia kelembagaan ekonomi seperti BUMKam maupun kelompok usaha bersama. Masyarakat masih memiliki ketergantungan terhadap tengkulak karena hasil tangkapan umumnya dijual dalam bentuk mentah dengan nilai ekonomi yang relatif rendah. Di sisi lain, keterlibatan perempuan dalam aktivitas ekonomi produktif masih belum optimal,” ungkap Waluyo.
Menurutnya, salah satu solusi untuk meningkatkan perekonomian masyarakat adalah mendorong hilirisasi produk melalui pengolahan hasil tangkapan menjadi produk dengan nilai tambah.
Ikan yang sebelumnya dijual dalam kondisi mentah bisa dikembangkan menjadi ikan asin berkualitas maupun berbagai produk olahan turunan lainnya yang memiliki daya simpan dan nilai jual lebih tinggi.

Pemerintah Kabupaten Merauke melalui Disperindagkop, kata Waluyo, berkomitmen memfasilitasi pembentukan kelompok UMKM khusus OAP.
Fasilitasi tersebut mencakup kemudahan proses legalitas usaha, pendampingan pengemasan produk hingga dukungan terhadap pengembangan kelompok usaha.
Selain itu, pemerintah juga membuka peluang dukungan pendanaan bagi kelompok usaha yang bersumber dari Dana Otonomi Khusus (Otsus) Papua sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Tim Ekspedisi Patriot IPB University selanjutnya akan mendorong pendampingan kelembagaan, penguatan kapasitas usaha dan pengembangan produk hingga kelompok masyarakat mampu menjalankan kegiatan usaha secara mandiri.
Langkah tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan nilai ekonomi hasil perikanan, tetapi juga mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap tengkulak, membuka ruang keterlibatan perempuan dalam kegiatan produktif, serta memperkuat kemandirian ekonomi OAP di Distrik Animha. (Ron)




