TIFFANEWS.CO.ID — Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Papua Selatan, Apolo Safanpo, menekankan pentingnya menjadikan bulan suci sebagai momentum memperbaiki kualitas diri, hubungan sosial, dan kedekatan dengan Tuhan.
Hal tersebut disampaikannya dalam sambutan pada kegiatan silaturahmi dan buka puasa bersama yang digelar di Aula Jorgen Sai Ahmad Yani, Merauke, Selasa (17/3/2026).
Dalam pembukaannya, Apolo Safanpo menyampaikan apresiasi kepada seluruh undangan yang telah hadir.
“Atas nama pengurus dan seluruh jajaran DPD Partai Golkar Provinsi Papua Selatan, kami mengucapkan terima kasih atas kehadiran Bapak/Ibu yang telah meluangkan waktu untuk bersilaturahmi dan berbuka puasa bersama,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga toleransi antarumat beragama, mengingat saat ini berbagai umat beragama di Indonesia tengah menjalani ritual bulan suci masing-masing.

“Kita harus senantiasa saling menghargai dan menghormati dalam menunaikan ibadah sesuai keyakinan masing-masing,” katanya.
Dalam sambutannya, Apolo Safanpo menekankan bahwa bulan suci merupakan waktu yang tepat untuk memperbaiki tiga relasi utama dalam kehidupan.
Pertama, hubungan dengan diri sendiri yang dilakukan melalui puasa. Menurutnya, puasa mengajarkan pengendalian diri dari hawa nafsu, ketamakan, dan keinginan duniawi.
Kedua, hubungan dengan sesama manusia yang diwujudkan melalui sedekah dan amal kasih.
“Kita menyisihkan sebagian harta yang kita miliki untuk membantu meringankan beban saudara-saudara kita yang kurang mampu,” jelasnya.
Ketiga, hubungan dengan Tuhan yang diperkuat melalui doa.
Ia menegaskan bahwa bulan suci bukanlah ajang kompetisi atau sekadar seremoni keagamaan, melainkan waktu untuk melatih kebajikan agar menjadi bagian dari karakter diri.
“Kebajikan bukan hanya untuk dipahami, tetapi harus dilatih dan dilaksanakan hingga menjadi kebiasaan dalam kehidupan kita,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia mengibaratkan kebajikan seperti ilmu terapan yang tidak cukup hanya dipahami secara teori, tetapi harus dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
Apolo Safanpo juga menyoroti makna doa yang lebih mendalam. Menurutnya, doa bukan sekadar komunikasi dengan Tuhan, tetapi juga sarana membentuk akal sehat di tengah derasnya arus informasi dan pengaruh media sosial.
“Doa mengingatkan kita bahwa tidak semua yang viral itu benar, dan tidak semua yang bisa kita lakukan harus kita lakukan,” ungkapnya.
Ia menambahkan, melalui doa seseorang belajar mengendalikan diri agar tidak terjebak dalam sikap berlebihan dan kerakusan.
Menutup sambutannya, Apolo Safanpo mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan bulan suci sebagai ajang melatih diri dalam berbuat kebajikan secara nyata, sehingga nilai-nilai tersebut dapat tertanam dan menjadi karakter dalam kehidupan sehari-hari. (***)




