TIFFANEWS.CO.ID — Di tengah hiruk pikuk agenda-agenda pemerintahan di Kabupaten Asmat, ada satu momen yang tidak tertulis dalam susunan acara, tetapi justru paling membekas di hati banyak orang.
Gubernur Papua Selatan, Apolo Safanpo, berdiri berdampingan dengan Bupati Asmat, Thomas Safanpo. Keduanya menggenggam mikrofon, lalu mengalunkan lagu “Gandong Ee”, lagu legendaris dari Maluku yang selama puluhan tahun menjadi simbol persaudaraan.
“Katong dua cuma satu…”
Lirik sederhana itu meluncur pelan, namun seolah menembus batas suku, bahasa, bahkan wilayah administratif. Di hadapan masyarakat yang memenuhi lokasi acara tersebut, lagu itu tidak sekadar menjadi hiburan. Ia berubah menjadi pesan. Sebuah pesan bahwa Papua Selatan dibangun di atas semangat kebersamaan persaudaraan yang sejati.
Dalam budaya Maluku, gandong berarti saudara. Bukan hanya saudara sedarah, melainkan ikatan persaudaraan yang mengajarkan bahwa suka dan duka dipikul bersama. Karena itu, lahirlah ungkapan yang begitu dikenal:
“Ale rasa, beta rasa.”
Apa yang engkau rasakan, aku juga merasakannya. Nilai itu terasa begitu dekat dengan kehidupan masyarakat Papua yang selama ini menjunjung tinggi gotong royong, kekeluargaan, dan hidup dalam satu komunitas.
Maka ketika bait “Katong dua cuma satu” dinyanyikan oleh dua pemimpin daerah, maknanya menjadi lebih luas. Lagu itu seperti mengingatkan bahwa pemerintah dan masyarakat tidak berjalan sendiri-sendiri. Mereka adalah bagian dari keluarga besar yang memiliki tujuan yang sama: Membangun Papua Selatan, dengan slogan “Maju Bersama”.
Persaudaraan tidak selalu lahir karena kesamaan asal-usul. Ia tumbuh karena adanya saling menghargai, saling menjaga, dan saling menguatkan.
Suara Apolo Safanpo dan Thomas Safanpo mungkin hanya berlangsung beberapa menit. Namun, bagi mereka yang hadir, momen itu menjadi simbol bahwa pembangunan bukan hanya tentang jalan, gedung, atau infrastruktur. Pembangunan juga tentang merawat rasa memiliki satu sama lain.
Di bagian paling depan, dua pemimpin menyanyikan lagu tentang persaudaraan. Di bagian berlawanan arah, masyarakat menyaksikan sebuah pesan yang jauh lebih besar daripada sekadar alunan musik.
Bahwa di tengah keberagaman Papua Selatan, semangat “Katong dua cuma satu” layak terus dijaga.
Sebab ketika persaudaraan tetap hidup, perbedaan bukan lagi menjadi batas, melainkan kekuatan yang menyatukan. (Djo)




