TIFFA NEWSTIFFA NEWS
  • HOME
  • BERITA
  • OLAHRAGA
  • KAMTIBMAS
  • POLITIK
  • PPS
  • NUSANTARA
  • GALERI
  • OPINI
  • OTHERS
    • PUSTAKA
    • BUDAYA
    • EKONOMI
    • HANKAM
    • HAM
    • JEJAK
    • GAYA HIDUP
    • INTAN JAYA
    • SOSOK
Search
Reading: Sisi lain: Pesta Babi, Serdadu dan Masyarakat Lokal Papua
Share
TIFFA NEWSTIFFA NEWS
Search
  • HOME
  • BERITA
  • OLAHRAGA
  • KAMTIBMAS
  • POLITIK
  • PPS
  • NUSANTARA
  • GALERI
  • OPINI
  • OTHERS
    • PUSTAKA
    • BUDAYA
    • EKONOMI
    • HANKAM
    • HAM
    • JEJAK
    • GAYA HIDUP
    • INTAN JAYA
    • SOSOK
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2022 RAKA for Tiffa Company. All Rights Reserved.
TIFFA NEWS > News > BERITA > Sisi lain: Pesta Babi, Serdadu dan Masyarakat Lokal Papua
BERITAKAMTIBMASNUSANTARAOPINI

Sisi lain: Pesta Babi, Serdadu dan Masyarakat Lokal Papua

Last updated: 20/05/2026 - 18:36
By Tiffa News
Share
Peter Tukan: Jurnalis 1990 – 2006 di Timor Timur dan perbatasan RI-RDTL dilanjutkan 2006 – sekarang di Papua. Sekretaris Komisi “Justice and Peace”, Keuskupan Dili, Timor Oriental,1993-1997.
SHARE

Oleh: Peter Tukan*

FILM  pendek dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita dengan mengambil lokasi di Papua (Selatan) telah ditayangkan di banyak tempat, ditonton berbagai orang dengan latarbelakang  pendididkan, usia, jenis kelamin, suku dan agama  yang berbeda, juga diperbincangkan dan diperdebatkan banyak kalangan seperti : akademisi/kaum cerdik-pandai, politisi, kaum muda, perempuan, aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), pegiat  kemanusiaan lainnya, pemuka agama, pelajar, polisi, jaksa,hakim,  serta tidak ketinggalan para serdadu (tentara/militer) .

Setiap  mereka tampil dengan cara, gaya  dan sudut pandang masing-masing, dengan berbekalkan pengetahuan dan pengalaman hidup yang dijalani di Tanah Papua dan/atau  di luar Tanah Papua.

Setidaknya, terdapat tiga hal yang Penulis kedepankan dalam artikel sangat sederhana ini yaitu film Pesta Babi itu sendiri, Serdadu  dan Masyarakat lokal di Papua. Tanpa mengurangi rasa hormat, Penulis sudah terbiasa menggunakan/menyebut  “Serdadu” ketimbang Tentara atau Milter. Ini semata-mata  karena kebiasaan saja. Sejak kecil di rumah sendiri, orangtua (almarhum)  yang hidup pada   zaman kolonial  Belanda dan Jepang selalu menyebut “Serdadu” untuk oknum dan kelompok orang  yang berprofesi Tentara atau anggota Militer.

  1. Pesta Babi

Film Pesta Babi karya  jurnalis Dandhy Dwi Laksono dan rekannya Cypri Paju Dale patut kita berikan apresiasi karena gagasan mereka yang cemerlang ini  yang melahirkan film dokumenter Pesta Babi didasari alasan/motivasi : Memperjuangkan dan menagakkan nilai  “Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab bagi masyarakat lokal di Tanah Papua!” Keduanya, baik Dandhy maupun Cypri  pada berbagai kesempatan, tempat dan media telah  cukup sering menyatakan itu, bahwa karya mereka ini untuk sebuah nilaii “Kemanusiaan”.

Namun demikian, masih juga banyak pihak   bersikap ragu sambil  bertanya sekaligus  meminta jawaban jujur  dari Dandhy dan Cypri,”apakah karya jurnalistik yang cukup menggemparkan (menghebohkan) ini,  benar-benar memiliki motivasi murni  untuk sebuah nilai kemanusiaan itu sendiri ataukah,…….. jangan-jangan ada  udang di balik batu?” Pertanyaan ini harus benar-benar dijawab secara jujur agar publik pun yakin dan percaya bahwa “Demi Kemanusiaan” itulah karya ini dilahirkan dan dipublikasikan. Kejujuran nurani menjadi taruhan sangat berharga dalam perjuangan menggapai nilai kemanusiaan  yang adil dan beradab.

Penulis sendiri belum pernah bertemu dan berbincang-bincang dengan Dandhy tetapi, pernah bertemu, berbincang dengan Cypri. Pernah pula mengikuti paparannya tentang sebuah program kerja kemanusiaan yang diselenggarakan Yayasan Teratai Hati Papua (YTHP) pimpinan Pastor John Djonga yang sama-sama kami dirikan  tahun 2017 di Jayapura, Papua.

Cypri dan John Djonga telah menulis buku berjudul “Paradoks Papua:  Pola-pola Ketidakadilan Sosial, Pelanggaran Hak tas Pembangunan dan Kegagalan Kebijakan Afirmatif, dengan Fokus di Kabupaten Keerom,Papua”.

Dalam biografinya yang tercantum dalam buku tersebut,  dapat diketahui bahwa Cypri menyelesaikan Pendidikan di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta dan The International Institute of Social Studies (ISS), Erasmus University, The Hague, The Netherlands. Sambil melakukan penelitian dan publikasi tentang persoalan hak asasi manusia, pembangunan dan Gerakan sosial.  Cypri aktif pada Lembaga Swadaya Masyarakat Sunspirit For Justice and Peace.

Kembali kepada kejujuran nurani Dandhy dan Cypri, publik pada hari-hari ini tentu saja cukup kritis mengajukan bebarapa pertanyaan dengan harapan, keduanya menjawab dan menjelaskan secara jujur pula.

Pertama: Apakah benar, perjuangan Dandhy dan Cypri  yang melahirkan flim dokumenter Pesta Babi  adalah  murni untuk sebuah nilai Kemanusiaan? Jangan sampai apa yang kalian lakukan ini adalah “jawaban atau pembayaran/pelunasan” dari sebuah harga jual yang hanya kalian berdua  bersama penyandang dana (pesan sponsor) dan Tuhan saja yang tahu? Masalahnya,menurut pendapat beberapa pihak, kerja-kerja seperti ini pada jaman sekarang, apalagi yang  nyerempet atau bersentuhan dengan  wilayah  politik praktis dan bisnis, sering tidak terlepas dari ungkapan: ”There is no free lunch – Tak ada makan siang gratis”.

Kata orang, untuk hari ini, “kita aru saja buka pintu taksi  saja, sudah terpatok harga argonya, apalagi kerja-kerja seperti ini, tidak mungkin gratis tanpa sedikit “uang pulsa”.

Kedua: Apakah yakin bahwa tidak ada tangan-tangan  jahil yang tidak kasat mata alias “invisible hand”  memotivasi dan menyertai pembuatan film pendek dokumenter Pesta Babi?

Terlepas dari benar atau tidak, ada atau tidak hadirnya  “tangan-tangan halus” itu,  namun dalam hal kita ikut membantu menyelesaikan berbagai permasalahan di Tanah Papua yang “kenyang”  dengan konflik politik dan pertikaian senjata yang kronis  itu, kita pun harus tetap memiliki  kewaspadaan  tinggi terkaitnya hadirnya tangan-tangan halus itu.  “Eternal vigilance is the price of liberty” demikian Thomas Jefferson Presiden Amerika Serikat yang ke tiga. Kewaspadaan yang terus-menerus adalah harga dari sebuah kebebasan.

Ketiga: Sudah bukan rahasia lagi bahwa dengan mata telanjang kita melihat  Andi Syamsuddin Arsyad yang lebih dikenal dengan sapaan  Haji Isam adalah seorang pengusaha papan atas yang saat ini berada di garis depan dalam menangani  Proyek Strategis Nasional (PSN) cetak sawah jutaan hektare di wilayah Papua Selatan.

Orang sedikit curiga, jangan-jangan pembuatan film  dokumenter Pesta Babi diboncengi oleh pebisnis-pebisnis papan atas lainnya yang tidak mendapatkan kesempatan dan peluang untuk ikut mengelola pekerjaan yang nilai rupiahnya diketahui jumbo. Orang curiga, jangan sampai para pesaing (rival) bisnisnya Haji Isam  dengan tangan-tangan halusnya, berada di barisan belakang dari proses lahirnya film dokumenter yang telah berhasil membangkitkan dan mengobarkan  emosi penonton.

Keempat: Program Strategis Nasionel (PSN) cetak sawah dilaksanakan dalam masa Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. PSN adalah salah satu program  primadona  pembangunan lima tahun Kabinet Merah Putih. Pertanyaannya adalah,   apakah tidak ada samasekali keikutsertaan kelompok, oknum atau partai politik yang menjadi rival politiknya rejim yang sedang berkuasa saat dalam proses lahirnya film Pesta Babi? Apakah ini bukan merupakan sebuah agenda politik praktis menuju perhelatan demokrasi siklus lima tahunan pemilihan umum legislatif (Pileg), pemilihan umum Presiden (Pilpres) dan Pemilihan kepala daerah (Pilkada) pada 2029 nanti?

Kelima: Apakah benar bahwa pembuatan film dokumenter Pesta Babi merupakan salah satu niat baik dan upaya  para sutradara film ini untuk memberikan peringatan dini kepada  para panglima  serdadu kita agar berani melakukan refleksi dan evaluasi menyeluruh  terkait tingkah laku, jumlah dan lokasi  bertugasnya  para serdadu  di Tanah Papua?

Keenam: Apakah benar dugaan beberapa pihak dalam masyarakat bahwa pembuatan film  dokumenter Pesta Babi mendapat dukungan finansial  dari beberapa LSM/NGO mancanegara atau /dan LSM Dalam Negeri  yang selama ini mengelola dana besar dari Luar Negeri. LSM-LSM  ini sudah dikenal bersikap kritis  (baca: berseberangan) dengan  Pemerintah terutama dalam hal program pembangunan lingkungan hidup, dan hak asasi manusia.

Benarkah, pertimbangan sutradara mengambil lokasi pembuatan film Pesta Babi  di Papua lantaran Tanah Papua yang dikenal sebagai wilayah rawan konflik politik dan kekerasan bersenjata merupakan lokasi dan  yang tepat  untuk “dijual” laris-manis demi satu keuntungan tertentu? Apalagi diketahui bahwa, Cypri Dale – salah seorang  pemrakarsa lahirnya film Pesta Babi,  dari rwayat kariernya adalah seorang aktivis  LSM/NGO.

Ketujuh: Apakah benar bahwa film Pesta Babi luput dari permainan halus para pengeksport beras dari mancanegara yang khawatir bahwa  apabila pada satu ketika Indonesia  akhirnya mampu berswasembada  beras maka Indonesia tidak lagi atau paling tidak akan mengurangi pembelian beras dari pebisnis beras berskala besar ini?

Kedelapan: Apakah benar, lahirnya film Pesta Babi bertujuan membuka  mata publik untuk  memandang juga  ke wilayah lain di Tanah Papua yang lingkungannya telah dirusakkan dan dihabisi oleh kegiatan eksploitasi tambang emas, perak dan tambaga yang berlangsung sejak tahun 1960-an hingga sekarang? Apakah yang merusak lingkungan itu  hanya kegiatan  PSN di Papua Selatan saja sedangkan eksploitasi sumber daya alam  tambang emas, perak dan tembaga di Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah, misalnya, bukanlah termasuk kegiatan  merusak lingkungan? Kapan film documenter yang topiknya sama dibuat juga di areal tambang Freeport, misalnya?

Kesembilan: Apakah benar bahwa lahirnya film Pesta Babi merupakan perwujudan keberpihakan yang jujur dari para sutradara pada masyarakat lokal Papua yang dikatagorikan sebagai miskin, terpinggirkan, korban yang harus dilindungi, diperjuangkan hak-haknya,  ataukah   hanya menjadikan masyarakat lokal Papua sebagai “jualan” dari satu agenda lain yang tidak ingin dikedepankan ke arena publik? Jangan sampai,  kita hanya menjadikan masyarakat lokal Papua sebagai aktor dan aktris  film  Pesta Babi  sementara sutradaranya bergelimang di atas penderitaan mayoritas masyarakat lokal di Papua.

Tentu saja, masih banyak pertanyaan, kecemasan  dan keragu-raguan banyak pihak yang bermunculan silih berganti,   yang dapat disampaikan  pada kesempatan ini namun demikian,  apabila sembilan   point ini dapat secara jujur, bijaksana dan sejuk  dijelaskan atau dijawab para pembuat film dokumenter Pesta Babi maka publk akan  percaya bahwa perjuangansutradara  film  Pesta Babi benar-benar memiliki motivasi sangat tulus dan murni untuk sebuah nilai kemanusiaan yang adil dan beradab. Benar juga kapa orang:  “teman boleh saja berteman – tetapi curiga akan terus berjalan. Masih lebih baik bertanya sekarang, daripada gigit jari karena dibohongi!”

 

  1. Serdadu

 

Setelah Film Pesta Babi lahir dan ditayangkan di banyak tempat dan kesempatan, pihak yang paling banyak dan secara terbuka melarang penayangan flim tersebut adalah para serdadu (baca: TNI). Sepertinya mereka tersinggung apabila film ini ditayangkan dan menjadi perdebatan umum di dalam masyarakat. Berbagai alasan dikemukakan seperti alasan menjaga  keamanan dan ketertiban dalam hidup berbangsa dan bernegara, stabilitas pembangunnan, persatuan dan kesatuan anak-anak bangsa serta menjaga toleransi umat beragama di seluruh wilayah Indonesia.

Larangan disertai pembubaran kelompok “nonton bareng” (Nobar) oleh para serdadu itu,  sontak mengundang reaksi negatif, tidak hanya dari penyelenggara dan peserta Nobar tetapi juga kalangan akademisi, LSM dan sebagainya.

Menurut mereka, sebaiknya para  serdadu tidak perlu melarang pemutaran film dokumenter itu, sebaliknya membuka diskusi cerdas dan dialog demi mendapatkan pemahaman bersama tentang isi film tersebut. Membubarkan penonton yang berkmpul menyaksikan film tersebut merupakan tindakan yang membuat kegaduhan,  tindakan yang tidak cerdas dan sepertinya kita kembali ke zaman Orde Baru (Orba) yang diselimuti praktek-praktek militerisme yakni: represi-intimidasi, penghadangan dan dapat berujung pada konflik  kekerasan fisik. “Menang jadi arang – kalah jadi abu!”

Trending Now:  Kodam Cenderawasih Bersama Pemuda Gelar Kirab Pengibaran 1000 Bendera di Pantai Holtekamp

Mantan wartawan senior The Jakarta Post, Lela E.Madjiah  dalam bukunya “Timor Timur : Perginya Si Anak Hilang” menulis sebagai berikut :”Media juga mempunyai kecenderungan membela yang lemah dan tertindas. Dalam kasus Timor Timur, kelompok pro-kemerdekaan diyakini sebagai pihak yang tertindas, yang haknya dirampas. Terlepas dari kepentingan nasional masing-masing media, keberpihakan media, terutama media asing, terhadap kelompok pro-kemerdekaan merupakan sesuatu yang sangat wajar”.

Lebih lanjut Lela menulis, “Peran dan sifat media inilah yang rupanya kurang dimengerti oleh TNI. TNI tidak hanya gagal memanfaatkan media menjadi alat dalam perang informasi dan perang opini, tetapi juga bertindak reaktif dan baru bertindak hanya setelah suatu peristiwa berkembang kea rah yang kurang menguntungkan institusi itu. Hal ini diperparah oleh kecenderungan atau kebiasaan TNI untuk menutup-nutupi kesalahan atau kebrengsetan yang dilakukan oleh anggotanya. Dalam dunia yang semakin transparan, kebiasaan ini tidak bisa dipertahankan lagi,” kata Lela.

Pihak lain berpendapat bahwa para  serdadu sampai membubarkan Nobar di banyak tempat lantaran judul film tersebut tercantum kata “Kolonialisme” ( Pesta Babi di Zaman Kolonialisme Kita).

Jika kita menelusuri sejarah lahirnya LSM di Indonesia, maka kita dapat menemukan kata “kolonial” itu. Selanjutnya, jika kita mengetahui latarbelakang “habitat” awal dari salah seorang sutradara film ini yakni Cypri Dale yang aktif pada LSM Sunspirit For Justice and |Peace maka penggunaan kata “kolonial” baginya merupakan kata yang lumtrah dan familiar, biasa-biasa saja, bukan sebuah kata yang sensitif yang dapat mengundang rasa tersinggung oleh oknum atau institusi apapun.

Muhammad AS Hikam ketika menyampaikan makalah kunci dalam pembukaan “Non-Governmental Organization Management Certificat Program” FISIP Universitas Indonesia, 7 Juli 202 di Jakarta menjelaskan pertumbuhan dan perkembangan LSM di Indonesia yang secara umum dapat dipilah-pilah melalui beberapa tahapan atau generasi.

Pertama adalah tahap embrionik yang disusul dengan tahap kedua yaitu pembentukan organisasi LSM modern di awal abad keduapuluh. Pada tahap ini berbagai organisasi kemasyarakatan dan juga organisasi politik muncul di hampir seluruh wilayah tanah air sebagai hasil dari tumbuhnya kesadaran baru di kalangan masyarakat, khususnya kaum terdidik untuk melakukan perubahan terhadap kondisi keterjajahan.

“Oleh sebab itu tidak mengherankan apabila wacana utama (mainstream discourse) pada masa pembentukan ini adalah pembebasan dari cengkeraman zaman kolonial,” kata Muhammad AS Hikam.

Mungkin saja, dengan hadirnya para serdadu di Papua dalam jumlah yang sangat banyak itu dan kondisi kehidupan mayoritas warga masyarakat lokal Papua yang pada hari ini secara umum  masih dililit tali-temali kemiskinan sembari masih diliputi ketakutan pada para serdadu maka,  Cypri  kembali ke bayang-bayang masa lalunya Indonesia yaitu di zaman kolonial Belanda dan Jepang. Cypri dan rekannya Dandhy Laksono ingin agar melalui film berjudul Pesta Babi  Di Zaman Kolonialiesme Kita akan terjadi perubahan dan  pembebasan rakyat Papua dari lingkaran kemiskinan, keterbelakangan dan kekurangan pendidikan serta  militerisme.

Patut diketahui bahwa kehadiran serdadu di Papua dalam jumlah yang sangat  banyak serta berbagai konflik bersenjata yang melibatkan para serdadu selama ini,  sudah merupakan sebuah realitas hidup di wilayah paling Timur dari NKRI ini yang dari hari ke hari dikenal sebagai sebuah wilayah rawan konflik politik dan pertikaian bersenjata, baik antara serdadu dengan para pejuang kemerdekaan Papua (TPN/OPM)  di hutan belantera maupun antarsesama anggota warga masyarakat lokal dalam tragedi perang suku.

Tentang kehadiran dan tindakan serdadu di Tanah Papua, Cypri J.P.  Dale menulis hasil penelitiannya dalam buku “Paradokos Papua” sebagai berikut: “Kemampuan Negara untuk menghadirkan pelayanan Pendidikan dan Kesehatan di daerah pedalaman dan tempat hidup orang asli Papua berbanding terbalik dengan kemampuan menghadirkan  aparat militer. Makin ke pedalaman, makin sulit menemukan dokter atau guru, tetapi semakin mudah menemukan aparat keamanan. Selain aparat organik, ada juga aparat non-organik yang jumlah dan jenis kegiatannya sulit diketahui public; dengan implikasi juga bahwa sulit dikontrol”. (Hal.57).

Lebih lanjut Cypri menjelaskan bahwa kehadiran aparat keamanan di kampung asli orang Papua memberi dampak secara langsung bagi situasi kehidupan masyarakat. Kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia oleh aparat militer di Papua tidak menunjukkan tanda-tanda pengurangan sampai buku ini ditulis. Bentuk pelanggaran HAM itu sangat bervariasi, mulai dari pembatasan kebebasan berkumpul dan berpendapat, ancaman kekerasan dan kekerasan terhadap masyarakat sipil, penyiksaan, penangkapan secara sewenang-wenang, pembunuhan, kekerasan seksual hingga perampasan harta benda.

“Pertanyaan dari sudut pandang penelitian ini adalah kalau Negara berhasil secara konsisten menghadirkan tentara di kampung-kampung asli orang Papua, mengapa tidak ada konsistensi yang sama untuk menghadirkan dokter dan giri?” tulis Cypri. (58)

Apa yang dipaparkan Cypri ini paling tidak telah dijawab juga oleh para  serdadu yang siang dan malam tak kenal lelah bersimbah keringat dan air mata melaksanakan tugas Negara  di tengah hutan rimba Papua. Jawaban atau penjelasan serdadu ini pun dapat diterima akal sehat  juga.

Bagi para serdadu, lebih baik kami dikritik seperti itu,  daripada membiarkan saudara-saudara warga sipil yang bekerja di Tanah Papua seperti guru, perawat, dokter, tukang ojek  yang sedang melayani masyarakat di kampung-kampung terpencil dan terisolasi itu,  dibunuh sia-sia  oleh kelompok orang yang tidak bertanggungjawab. Padahal mereka ini sudah mengorbankan diri habis-habisan untuk melayani saudara-saudaranya yang adalah warga  masyarakat kampung yang sakit, yang melahirkan, yang ingin diajarkan membaca dan berhitung, yang membutuhkan sarana transprtasi dari pasar ke rumah, dan sebagainya.

Dan, biarkan saja kami dicaci-maki karena  itu merupakan resiko menjadi serdadu di hutan belantera daripada membiarkan warga sipil tak berdosa yang adalah juga Saudara kami sendiri,  tidak mendapatkan pelayanan medis di Pos Kesehatan kami. Pos Kesehatan di barak-barak para serdadu  dibangun untuk melayani dan merawat anggota serdadu yang sakit namun apakah kami harus  menutup mata dan hati, menolak saudara-saudara kami  warga kampung terpencil  yang  sedang sakit, yang meminta diobati, ditensi darahnya, dirawat dan dibawa ke Puskesmas atau  rumah sakit yang letaknya  nun jauh di sana?

Saudara-saudara yang bermukim  di kampung-kampung terpencil membutuhkan pertolongan untuk menyelamatkan nyawa mereka, apakah kami harus bersikap masa bodoh hanya karena jarak tempuh kampung dengan Puskesmas sangatlah jauh? Tergeraklah Hati kami untuk membantu sebagai sasama manusia maka kami harus membopong Saudara yang sakit ini melewati hutan yang sangat lebat, mendaki gunung dan bukit serta menuruni lembah dan ngarai mengarungi malam yang kelam dinaungi langit telanjang diterangi cahaya bintang dan rembulan HANYA  unutk selamatkan nyawa warga kampung ini.

“Kami para serdadu tidak akan melukai mereka jika mereka tidak lebih dahulu menyerang untuk menghabisi nyawa kami. Kami juga manusia yang punya Nurani, agama kami mengajarkan harus menghormati hak-hak hidup  manusia. Kami  punya anak dan istri di rumah yang siang dan malam khususk berdoa kiranya Allah  memberikan kesempatan bagi kami untuk pulang ke rumah dalam keadaan bernyawa dan tidak cacat. Istri dan anak-anak, orangtua kami,  terus bersujud menyembah sembari memohon  semoga  Allah Maha Besar  melindungi kami  di Tanah Papua. Semoga kami  tidak pulang membawa nama diapit kembang duka bela sungkawa,” kata seorang serdadu.

Usul Tim Kecil Pemuka Agama

Menyadari realitas kehadiran para serdadu yang bertugas di Papua, Tim kecil Pemuka Agama ketika beraudiensi dengan Wakil Presiden K.H.Ma’ruf Amin pada 17 Desember 2020 di Istana Wapres, Jakarta  sempat memberikan beberapa usul-saran yang konstruktif.

(Tim kecil pemuka agama yang dibentuk secara spontan oleh beberapa tokoh/pemuka agama di Jayapura untuk melaksanakan diskusi rutin antara lain: Uskup Leo Laba Ladjar,OFM, Pdt Herman Saud, T.H.Pasaribu, Petrus Banyadone dan KH Saiful Islam Al-Payage).

Di hadapan Wapres Ma’ruf Amin, Ketua Tim Kecil Pemuka agama, Uskup Leo Laba Ladjar,OFM tidak menafikan kehadiran serdadu di Papua. Papua tetap membutuhkan serdadu mengingat wilayah ini sering terlibat perang suku dan konflik kekerasan lainnya. Selain itu, wilayah Papua pun cukup sering terjadi bencana alam, tanah longsor, kecelakaan pesawat dan sebagainya. Di dalam situasi tanah longsor yang mencekam, justru para serdadu tiba lebih paling awal di lokasi bencana. Mereka itu yang paling pertama menyingsingkan lengan baju sesegara mungkin memberikan bantuan darurat dan penanganan kemanusiaan  pasca bencana. Sedangkan kita warga  sipil ini, kebanyakan menjadi “penonton setia” menyaksikan dari jauh para serdadu menggali tanah, mengangkat mayat, menyelamatkan korban yang masih hidup  akibat longsor atau kecelakan pesawat dan bencana lainnya. Namun demikian,harus diatur posisi serdadu yang bertugas di wilayah ini.

“Dimana posisi aparat keamanan TNI dan Polri?? Dalam situasi normal, kita mengandaikan bahwa di kabupaten, cukuplah ada Polres dan Kodim. Kapolres dan Dandim adalah rekan kerja Bupati atau Kepala Daerah. Dalam situasi luar biasa, diperlukan pasukan-pasukan khusus dari Polisi yakni Brimob. Pasukan khusus TNI membantu Polisi apabil diminta bantuan oleh Polisi ketika eskalasi keamanan dirasakan semakin runyam,” kata Uskup Leo.

Lebih lanjut Uskup Leo mengatakan, pasukan-pasukan khusus itu tidak perlu berpos di kampung-kampung, tetapi tinggal di satu markas di pusat kabupaten. Kalau ada kampung-kampung yang diganggu keamanannya, Bupati dapat meminta pasukan di markas itu untuk patroli ke kampung-kampung itu, lalu kembali lagi ke markasnya.

Aparat keamanan itu juga membantu dan menjaga keamanan Bupati dalam membangun masyarakat. Karena itu, jadikanlah kegiatan seperti program TNI Manunggal Masuk Desa/TMMD sebaiknya diagendakan secara teratur dan berkesinambungan agar apart itu semakin dekat dan bersahabat dengan masyarakat.

Trending Now:  Kontingen Papua Selatan Siap Berlaga di Pornas Korpri 2025

“Bupati jangan hanya menonton ketika terjadi bentrokan antara KKB/OPM dengan aparat keamanan, atau kerusuhan dan perang antarsuku dan warga masyarakat. Bupati sebagai Kepala Daerah yang bertanggungjawab untuk keamanan daerahnya, harus mencari jalan untuk memulihkan suasana yang terganggu. Maka kehadiran seorang Bupati di tempat tugasnya amat dituntut oleh masyarakat,” kata Uskup Leo pada kesempatan pertemuan dengan Wapres kala itu.

Apa yang disampaikan Uskup Leo  sejalan dengan pemikiran Letjen TNI (Purn) Kiki Syahnaki :”Tugas pokok TNI tidak bisa dijalankan secara berdiri sendiri. Karena sifatnya yang interdependen dan komplementer, maka harus terpadu dengan tugas penyelenggaraan pemerintahan negara lainnya di bidang kesejahteraan, pendidikan, penegakan hukum, diplomasi dan sebagainya,” tulisnya dalam “Teropng Prajurit TNI”, 2015 Hal.237.

Dari paparan singkat di atas, kiranya kita tidak memandang kehadiran serdadu di Tanah Papua secara “Hitam-Putih”. Perlu pengaturan, butuh evaluasi dan introspeksi terus-menerus, kecuali kita punya niat dan agenda lain dari yang terpapar di atas. Kita juga tidak bisa seratus prosen memandang serdadu itu sebagai manusia tak berdosa, sebagai orang baik-baik saja, mereka juga kadang  tidak sedang  baik-baik saja.

Para serdadu  punya kekurangan juga , dan itu harus dikritik namun kritik yang yang diberikan adalah kritik  konstruktif demi  kebaikan bersama, bukan kritik destruktif, kritik asal kritik hanya karena rasa tidak suka, dendam dan benci. Sebaliknya, Serdadu pun harus dapat introspeksi diri, melakukan evaluasi dan memperbaiki diri dan institusi  demi kebaikan bersama juga. Serdadu harus mampu merebut Hati dan pikiran rakyat bukan bersikap arogan, keras kepala dan merasa benar sendiri.

Ironisnya, ada juga serdadu yang bertugas di Papua untuk mempercepat kenaikan pangkatnya. Bagi serdadu ini, pangkat cepat dinaikkan bukan karena berhasil menyatu dengan rakyat  bergandengan tangan membangun  kesejahteraan dan perdamaian bersama,  tetapi karena dia  berhasil merebut sekian banyak pucuk senjata dan berhasil pula mengajak warga untuk mencium Bendera Merah Putih. Apakah benar,  Mabes TNI di Jakarta menaikkan pangkat serdadu yang bertugas di Papua jika serdadu itu berhasil merebut puluhan senjata dari tangan warga yang dianggap musuh  dan berhasil mengajak warga mencium Bendera Merah Putih?

Letjen TNI (Purn) Kiki Syahnakri – Panglima Penguasa Darurat Militer Pascareferendum Timor Timur 1999  selalu mengatakan:”Keberhasilan seorang prajurit TNI dinilai dari keberhasilan dia merebut Hati dan pikiran rakyat!”

Hal yang sama disampaikan juga Letjen TNI (Purn) Doni Monardo (sudah alm): ”Tentara itu berhasil bukan karena dia berhasil menembak  musuh – tetapi berhasil mengajak dan  merangkul musuh menjadi sahabat sejati dan saudaranya sendiri!”.

Hal yang dapat kita belajar dari Papua adalah “janganlah kita cepat-cepat memaksa orang Papua utuk menjadi Indonesia. Menjadi Indonesia itu adalah sebuah proses panjang. Butuh waktu dan kesabaran yang tidak terbatas”.

Kembali kepada kejujuran dan kemurnian motivasi Dandhy dan Cypri melahirkan film Pesta Babi. Bahwa apabila  flim dokumenter yang mereka lahirkan ini benar-benar merupakan sebuah perjuangan demi kemanusiaan masyarakat Papua maka menurut pendapat Penulis, kritikan mereka terhadap militerisme di Tanah Papua adalah  hal yang positif juga.

Kedua sutradara ini mungkin saja ingin mengatakan kepada Pemerintah dan seluruh anak Bangsa dari Sabang hingga Merauke, dari Sangir Talaud sampai Rote-Ndao bahwa :”Tidak perlu  menempatkan para serdadu, baik organik, non-organik maupun Batalyon Pembangunan  dalam jumlah yang sangat banyak dan terus menerus di Tanah Papua selama  masalah Papua yang kronis dan mendasar itu belum diselesaikan melalui dialog  tanpa  masing-masing peserta dialog membawa bendera dan semboyan “ NKRI Harga Mati dan Merdeka Harga Mati!” Jika dua belah pihak datang ke meja dialog dengan membawa “Harga Mati” itu  maka,  keduanya akan Mati Harga!

Bangunkanlah rumah di atas fondasi batu padas bukan di atas pasir agar ketika badai menerpa maka bangunan itu tidak roboh. Batu padas itu adalah Dialog yang tulus untuk kebaikan bersama. Pertanyaannya,  ”Siapakah  badai itu?” Badai yang dimaksud adalah kekuatan utama (global major power) yang mengembangkan pengaruh dan kepentingannya di kawasan seperti yang pernah terjadi di Timor Timur (sekarang: Timor Leste)  dan Papua New Guinea (PNG).

  • Masyarakat Lokal

Film dokumenter “Pesta Babi : Kolonialisme Zaman Kita”  yang  berdurasi 90 menit ini    mengambil lokasi  di wilayah Kabupaten Merauke, Boven Digoel dan Mappi, Provinsi  Papua Selatan terkait pelaksanaan PSN  yang  menggarap  2,5 juta hektare  hutan untuk dijadikan perkebunan industri berskala besar,  terutama  produkdi biodiesel sawit, bioethanol tebu serta program food estate demi  ketahanan pangan dan transisi energi.

Ketika film dokumenter ini mulai ditayangkan, sontak para cendekiawan kampus beramai-ramai masuk ruang baca perpustakaan. Mereka  membolak-balik buku-buku tua,  mencari pendapat para ilmuwan tersohor berbagai disiplin ilmu  guna menyandingkan  dan memberikan pembobotan atas komentar, dan  kajian ilmiah    tentang situasi di Tanah Papua Selatan  yang menurut mereka dan para sutradara film Pesta Babi itu sedang dilanda  kemiskinan kronis, perusakan lingkungan, dan militerisasi.

Selain cendekiawan kampus, tidak ketinggalan pula  para politisi, aktivis, mahasiswa, pebisns, LSM dan pengamat sosial-budaya   beramai-ramai memberikan komentar  penuh semangat  gegap gempita bahwa kita harus bergandengan tangan – menyatukan langkah,  menumpas habis kolonialsme dan militerisme di Tanah Papua dan  megaproyek PSN yag merusak lingkungan itu  harus ditolak.

Sungguh luar biasa! Film dokumenter ini telah sukses membangkitkan dan mengobarkan bara api  emosi  penonton yang mungkin selama ini  tidur nyenyak  untuk bangkit berdiri guna  mengambil posisi berpihak, bersolider atau berbelarasa dengan masyarakat lokal di Tanah Papua  Selatan   yang menurut mereka —  sedang ditindas dan digilas  oleh penjajah (kolonial)  zaman ini.

Ironsnya adalah bahwa : Ketika  berbagai komentar, debat kusir dan mungkin unjuk rasa memrotes pelaksanaan megaproyek itu dilakukan oleh orang-orang   dari luar wilayah Kabupaten Merauke, Boven Digoel dan Mappi — yang dijadikan lokasi pembuatan film dan lokasi pelaksanaan megaproyek  PSN.—- masyarakat di Ppaua Selatan  justru tampak tenang-tenang saja.

Malahan, ada pula di antara warga Papua Selatan  tampak adem ayem , malahan sedikit  sinis ketika membaca komentar-komentar ilmiah, mendengar dan menyaksikan debat kusir berbagai kalangan di  media. Mereka terlihat  tetap sibuk bekerja membangun kehidupan sehari-hari yang serba rutin itu. Sepertinya, mereka kurang  peduli dengan komentar-komentar dan kajian ilmiah  itu. Pertanyaannya: Mengapa itu sampai  terjadi? Apa gerangan di balik semuanya ini? Apakah masyarakat di Papua Selatan saat ini — karena katanya ditindas itu, sudah berubah menjadi warga masyarakat yang tidak mampu bersuara  sehingga mereka terpaksa berdiam diri dan  menyerah pada nasib bagaikan kerakap tumbuh di batu – hidup segan mati tak mau?

Pertama: Kata pepata tua :”Dimana bumi dipijak – disitu langit dijunjung. Jauh berjalan-banyak dilihat, lama hidup-banyak dirasakan!”

Apakah benar bahwa menonton sebuah  film dokumener berdurasi hanya 90 menit itu, serta merta kita  mendapatkan gambarn menyeluruh tentang situasi Papua Selatan yang sebenarnya,  baik :wilayahnya, orangnya berserta karakter dan budayanya? Lantas, aApa urgensi memahami budaya masyarakat di lokasi PSN itu bagi kita sebelum memberikan komentar dan kajian  atas film Pesta Babi?

Melville J.Herskotvits dan Bronisllaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki masyarakat itu sendiri (Cultural Determination). Selanjutnya, Samuel P.Huntington dalam suatu symposium yang dilaksanakan Universitas Harvard pada tahun 2000 dengan mengangkat tema “Culture Matters: How Values Shape Human Progress”, juga menegaskan bahwa kebudayaan merupakan unsur determinan maju atau mundurnya suatu bangsa (LP3ES, 2011 dalam Aan Rukmana,2013 bdk: Kiki Syahnakri Teropong Prajurit TNI, hal XIV-XV).

Apabila kita sependapat bahwa kebudayaan adalah setiap aspek kehidupan, ketrampilan, pengetahuan teknik, kebiasaan makan dan berbusana, agama, mentalitas, nilai-nilai, Bahasa, symbol-simbol, tingakh laku sosio-politik dan ekonomi, tata cara adat asli dalam mengambil keputusan dan melaksanakan kekuasaan, cara-cara berproduksi dan huubngan ekonomi, dan sebagainya maka setelah menyaksikan pemutaran film pendek dokumenter  Pesta Babi  yang hanya berdurasi 90 menit saja lantas kita tersulut api emosi memberikan komentar dan pendapat yang juga serba emosi tanpa memahami secara baik dan benar  karakter, tata kebiasaan (tabiat)  masyarakat lokal tempat pembuatan film itu, maka kita sudah setengah gagal dalam memandang manusia Papua Selatan pada umumnya yang sedang hidup dan berkarya  di lokasi PSN tersebut.

Bagaimana mungkin dalam kurun waktu 90 menit saja,  dimana pembuatan film itu merupakan hasil “rekayasa atau skenario” sutradara, kita sudah begitu cepat dan gegabahnya mengambil kesimpulan bahwa masyarakat Papua Selatan sedang hdup dalam penindasan kolonial, hutan lumbung kehidupan ekonominya dirampas membabi buta tanpa menghormati hak-hak asasi para  pemilik hutan tersebut?

Kita tidak bisa begitu saja menyaksikan film berdurasi 90 menit tanpa memahami secara baik budaya, karakater (tabiat sehari-hari) dari orang perorangan anggota masyarakat lokal  yang tanahnya dijadikan lahan proyek PSN. Terlepas dari kelemahan perencanaan dan pelaksanaan PSN itu sendiri tetapi memahami lebih dahulu karakter (tabiat) masyarakat pemilik lahan PSN harus menjadi sebuah kewajiban kita bersama.

Untuk itu, kalau hanya menyaksikan pemutaran film dokumenter Pesta Babi berdurasi 90 menit lantas kita beramai-ramai masuk  Perpustaaan membaca literatur-literarut ilmiah  tanpa lebih dahulu hidup bersama dalam waktu yang lama dan terus-menerus dengan masyarakat lokal di tempat mereka berada, maka kita sudah setengah gagal dalam memahami masyarakat Papua (Selatan) itu sendiri.

Kalau film Pesta Babi itu merupakan hasil penelitian para sutradara  selama lima tahun namun penelitinya hanya datang dan pergi secara sewaktu-waktu,  maka film tersebut belum dapat dikatakan sudah menggambarkann secara menyeluruh budaya/karakter masyarakat lokal dalam proses lahirnya megaproyek PSN. Orang harus dapat tinggal bersama masyarakat lokal secara terus menerus paling kurang selama lima tahun,  barulah dia dapat memahami bagaimana tanah dan hutan milik masyarakat lokal dijadikan lahan  proyek PSN.

Apakah para pemain film itu adalah benar-benar mewakili seluruh masyarakat pemilik hak ulayat lokasi PSN? Apakah benar bahwa para pemain film itu pun mengalami penindasan, hak-hak mereka diabaikan sehingga mereka mampu bersaksi di depan layar kaca itu? Ataukah mereka hanyalah seorang pemain film, tetapi bukan korban “penindasan”.

Trending Now:  KPU Merauke Ajukan Dana Rp 88 Miliar untuk Pilkada 2024

Apakah benar bahwa masyarakat lokal  memrotes PSN karena pengelola proyek nasional itu mendadak tiba di lokasi tersebut dan menghalau mereka keluar dari hutan dan  selanjutnya menebas pohon-pohon untuk dijadikan lokasi |PSN? Ataukah mereka melakukan protes karena pengelola PSN  tidak atau belum memenuhi kewajiban memberikan tali asih atau uang kompensasi  lahan PSN?

Tidak tertutup kemungkinan, warga lokal pemilik hak ulayat  areal PSN  berunjuk rasa lantaran mereka belum menerima pembayaran tali asih dari kepala suku yang mengkoordinir dan melakukan negosiasi dengan pengelola PSN terkait  harga tanah atau juga warga protes karena uang kompensasi tanah disunat oleh kepala sukunya sendiri? Kepada pihak pengelola PSN, kepala suku mengaku sudah membagi-bagikan uang kompensasi kepada warganya secara utuh tetapi kenyatannya, jumlah yang mereka terima tidak sesuai dengan kesepakatan bersamma dengan pengelola PSN.

Dari urain sederhana di atas, kita lantas dapat memahami bahwa unjuk rasa dan pemalangan yang ditayangkan dalam film Pesta Babi sepertinya hanya menampilkan satu alasan  pemalangan lahan PSN yang sudah dirancang sutradara karena menurut sutradara,  telah terjadi penerobosan (secara paksa) hutan adat masyarakat pemilik hak ulayat tanpa permisi terlebih dahulu dan tanpa pemberian kompensasi apapun dan telah terjadi perusakan lingkngan alam  (hutan).

Unjuk rasa dan pemalangan yang ditayangkan dalam film tersebut adalah unjuk rasa terkait perusakan hutan adat, dan itu memang sesuai scenario sutradara, sebaliknya tidak ditayangkan unjuk rasa dan pemalangan karena belum terima uang tali asih atau uang tali asih diterima dalam jumlah yang kurang.

Tidak menutup kemungkinan pada sekitar 10 – 20 tahun mendatang akan ada lagi unjuk rasa  dan pemalangan babak baru, bukan karena telah terjadi kerusakan hutan atau militerisasi di lokasi PSN tetapi karena uang kompensasi tanah adat itu diterima oleh orangtua, kakek dan nenek yang di antaranya sudah meninggal dunia, sedangkan kami sebagai anak dan cucu belum menerimanya. Kesepakatan uang kompensasi diterima sebagai hasil kesepakatan antara pengelola PSN dengan  orangtua zaman itu, sedangkan kami anak dan cucu yang hidup zaman ini meminta untuk membuat kesepakatan baru lagi.

Kata orang, “Kayu yang paling mahal di Tanah Papua adalah kayu palang!”

Jika kita telah hidup bertahun-tahun dengan masyarakat lokal, memahami karakter (tabiat) mereka kelompok demi kelompok dan satu demi satu, sembari  mengukuti secara saksama proses hadirnya PSN maka kita dapat memahami secara baik, motivasi pembuatan dan penayanagn film Pesta Babi tersebut.

Lantas muncul pertanyaan susulan lagi, jika masyarakat  pemilik hak ulayat areal PSN telah  menerima uang tali asih, mengapa mereka masih tetap saja hidup miskin seperti sedia kala? Jawabannya dapat kita temukan jika kita sendiri datang ke tengah masyarakat lokal, tingal dan hidup bersama mereka dalam waktu yang lama dan  terus menerus, barulah kita dapat memahami dan menemukan jawaban,  mengapa mereka punya banyak duit setelah menerima tali asih tetapi kehidupan ekonomi mereka masih seperti sediakala. Ketika duitnya amblas, mereka pun akan  mulai kreatif merancang kayu palang. Kita perlu memahami secara baik dan bijaksana, karakter dan siklus hidup sebuah kelompok masyarakat.

Menyadari akan hal semuanya ini  maka, pepatah tua di atas menjadi jawabannya: ”Dimana bumi dipijak – disitu langit dijunjung. Jauh berjalan-banyak dilihat, lama hidup-banyak dirasakan!”

Kedua: “Jika biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati; ia akan menghasilkan banyak buah”. (Yoh 12:24).

Kita sudah saksikan film Pesta Babi. Sebaiknya kita tidak tergesa gesa dan penuh emosi  memberikan reaksi dan komentar berlebihan penuh emosi. Kita harus masuk ke dalam kehidupan masyarakat lokal papua Selatan dengan segala kelemahan dan kekuatan, segala kekurangan dan  kelebihannya. Sebelum masuk  ke dalam -membenamkan diri ke dalam lumpur kehidupan masyarakat lokal yang nyata hari ini, baiklah kita lebih dahulu  “mematikan”  segala sikap angkuh seolah-olah masyarakat lokal itu mejadi miskin dan lemah tidak mampu membela dirinya  hanya karena adanya penindasan oleh pihak/fakor  eksternal.  Tanggalkan pikiran bahwa orang Papua harus berkembang dan berpola pikir seperti orang Flores di Flores, misalnya.

Sebaiknya, kita tidak  membawa Flores ke Papua. Sebelum  hidup bersama orang Papua di Papua, kita harus lebih dahulu menaggalkan/mematikan  egoisme dan cara dan gaya  berpikir Flores. Datang dan hiduplah sebagai orang Papua di Papua dengan segala kelebihan dan kekurangannya maka  dari situlah kita  secara pelan-pelan, tahap demi tahap  bertumbuh dan berjalan bersama mereka untuk mencapai hidup bersama yang damai, adil dan sejahtera. Bagi para pemeluk agama Kristen pasti sudah memahami bahwa “Penebusan Tuhan itu berlangsung sepanjang masa tanpa henti dan tanpa mengenal waktu. Biarlah waktu Tuhanlah yang berbicara! Bagaimanapun juga masyarakat lokal punya harga diri. Jangan sampai kita beranggapan bahwa masyarakat lokal tidak mampu bangkit untuk mengghidupi diirnya sendiri.

Semua ini butuh waktu,kesabaran dan kebijaksanaan untuk secara perlahan-lahan berjalan bersama mereka tanpa memaksakan pikiran kita dari Flores ke dalam pikiran dan persaaan mereka. Belajar baik-baik dan kenal secara dekat sifat, karakter (tingkah laku)  kelompok demi kelompok, satu demi satu, barulah kita berjalan bersama mereka dalam Kasih dan Kerendahan Hati.

Ketiga: Baiklah juga bagi kita untuk menyaksikan film dokumenter Pesta Babi karena dengan itu, semua pihak menyadari bahwa membayar kompensasi atau tali asih kepada pemilik hak ulayat tidaklah cukup. Pemerintah jangan sampai berpendapat bahwa karena sudah membayar tali asih, maka selesailah sudah, biarkan saja mereka berjalan sendiri-sendiri. Pemerintah wajib tetap memberikan perhatian dan pendampingan kepada masyarakat lokal di areal PSN untuk kesejahteraan mereka dan anak cucunya. Memberikan tali asih saja, tidaklah cukup. Tanggungjawab sosial bagi masyarakat setempat tetap harus diberikan tanpa syarat.

Keempat: Lahirnya film Pesta Babi ini menjadi sebuah evaluasi bagi Pemerintah bahwa mendengarkan suara-suara rakyat untuk kebaikan masyarakat lokal dan kelestarian lingkungan menjadi sangat penting. Biarlah membuka lahan secara bertahap sambil melihat keberhasilan tanam sawah tahap demi taha[p. Bukan menebang hutan sekaligus dalam waktu yang singkat tanpa melihat dulu hasil awal dari cetak sawah tersebut. Jangan sampai pemerintah pusat menerapkan pepatah ini:”Anjing menggonggong – khafilah berlalu”.

Jangan sampai yang namanya “Proyek” maka ketika uang biaya  proyek habis dibelanjakan maka  habislah pula aktivitas di tepat itu. Semuanya diterlantarkan. Ganti Presiden- ganti pula kebijakan pembangunan. Belum tentu setelah masa kepemimpinanPresiden Prabowo, kebijakan PSN ini diteruskan oleh Presiden pengganti Presiden Prabowo.

Ketika ganti Presiden – ganti pula kebijakan PSN maka  ramalan banyak orang  menjadii benar yaitu megaproyek ini hanya berlaku semasa pemerintahan Prabowo saja. Setelah itu, “Semuanya balik kanan- maju jalan. Semuanya  tinggal kenangan!”

Kelima: Sudah banyak pemimpin pemerintahan dan pemuka agama  di Papua selalu meminta masyarakat lokal agar tidak menjual tanah sejengkalpun kepada siapapun. Himbauan ini memang baik adanya namun jika mereka hanya meminta atau menghimbau saja tanpa memberikan jalan keluar bagaimana  kebutuhan ekonomi keluarga dioenuhi, maka himbauan atau permintaan itu menjadi tidak berguna dan semuanya kembali ke titik Nol.

Kita sama-sama tahu bahwa secara ekonomis, mayoritas masyarakat lokal masih dililiti dan dihantui kemiskinan. Sementara, harta mereka satu-satunya yang berharga hanya sebidang tanah dengan berbagai ukuran. Pada saat yang sama, mereka butuh pemenuhan kebutuhan primer setiap hari di dalam keluarga selain kebutuhan sandang, pangan, papan juga kebutuhan kesehatan dan  pendidikan. Anak-anak butuh uang sekolah yang semakin mahal. Saat sakit butuh uang ke Puskesmas terdekat dan berbagai kebutuhan belanja  rumah tangga yang lainnya. Dalam keadaan kemiskinan ini, denga napa semua kebutuhan itu dipenuhi jika mereka tidak menjual tanah milik mereka satu-setunya itu? Suka atau tidak suka, setuju atau tidak setuju, mereka terpaksa harus menjual tanah agar dapat membiayai  pengobatan di Puskesmas, membiayai sekolah anak-anak di di semua tingkatan mulai dari TK hingga Pergurun Tinggi.

Pertanyaannnya, apakah pada saat  mereka menjual tanah untuk penuhi kebutuhan hidup dalam rumah tangga, pada saat yang sama mereka juga memikirkan dan mempertimbangkan kelestarian lingkungan? Apakah mereka pun sempat berpikir seperti yang dipikirkan dan dicemaskan oleh sutradara film dokumenter Pesta Babi dan dipikirkan dan dirasakan juga oleh para aktivis, dosen, peneliti  dan sebagainya?

Patut diketahui pula  bahwa konflik yang berkecamuk di Papua sejak dulu hingga sekarang, adalah konflik  multi kepentingan.

“Realitas kehidupan hari ini menegaskan bahwa di Tanah Papua sangat sering dilanda konflik multi kepentingan politik, budaya, ekonomi-bisnis, militer, ideologi, hegemoni Barat dan hegemoni Cina serta tidak tertutup kemungkinan Tanah Papua  dijadikan lahan subur berkembangnya paham-paham radikalisme, kutub Timur Tengah – ideologi transnasional, khilafaisme dan terorisme. Hegemoni Cina yang dimaksud adalah ancaman serbuan modal/jeritan hutang, serbuan penduduk dan serbuan budaya. Hal ini yang harus diwaspadai,” (Peter Tukan dalam Buku “Konflik Papua- Muliti Kepentingan dan Peluang Diadudomba”,  Penerbit Tolelegi, 2023 Hal.1).

Atas pemikiran ini, kelahiran dan  penanyangan  film Pesta Babi harus disikapi secara bijaksana, tenang, kritis, konstruktif dan prospektif.

Akhirnya, kita berdioa kepada Allah Maha Besar – Sang Pencipta alam semesta :  “Semoga Damai dan Keadilan membaharui wajah Bumi Cenderawasih  bersama penghuninya  dengan kegembiraan dan kesejahteraan berlimpah. Dan semoga Allah  menganugerahi keadilan dan damai sejahtera melimpah di atas Tanah Papua – sorga  kecil jatuh ke bumi   untuk selama-lamanya !” (bdk. Mzm 72:7)

*Peter Tukan: Jurnalis 1990 – 2006 di Timor Timur dan perbatasan RI-RDTL dilanjutkan  2006 – sekarang di Papua. Sekretaris Komisi “Justice and Peace”, Keuskupan Dili, Timor Oriental,1993-1997.

You Might Also Like

Kawal Penolakan Peternakan Kimaam, Charles Gomar Tegaskan Perusahaan Wajib Kantongi Izin Adat

Afie Kalla Gaungkan “Kita Bikin Jadi”, Bawa Gagasan Hilirisasi untuk Papua Selatan

Terima Massa Demo, Wagub Papua Selatan Dukung Penolakan Peternakan di Kimaam

Gelombang Penolakan Menguat, Masyarakat Kimaam Datangi DPRP Papua Selatan

Tiffa News 20/05/2026
Share this Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp Telegram Email Print
What do you think?
Love0
Sad0
Happy0
Sleepy0
Angry0
Dead0
Wink0
Previous Article Kawal Penolakan Peternakan Kimaam, Charles Gomar Tegaskan Perusahaan Wajib Kantongi Izin Adat
Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow US

Find US on Social Medias
Facebook Like
Twitter Follow
Youtube Subscribe
Telegram Follow
- Advertisement -
Ad imageAd image
- Advertisement -
Ad imageAd image
newsletter featurednewsletter featured

Weekly Newsletter

Kirim Email Anda agar bisa kami infokan berita pilihan terpopuler

Popular News
OPINI

MEMBACA “PESTA BABI”

By Tiffa News 6 days ago
KEADILAN YANG DIGEMBOK : Tirani Epistemik di Balik Pesta Babi
MRP Papua Selatan Desak Dua OAP Dikembalikan dalam Seleksi Jabatan
Gubernur Apolo Ajak Warga Kanis Kobat Dukung Pembangunan dan Siapkan Generasi Masa Depan
Rakerda, Diklatda dan Forbisda HIPMI Papua Selatan Akan Hadirkan Gubernur dan Caketum BPP HIPMI

SUARNEWS.COM

about us

We influence 20 million users and is the number one business and technology news network on the planet.

  • BERITA
  • PON XX 2021
  • GALERI
  • KAMTIBMAS
  • NUSANTARA
  • PUSTAKA
  • GAYA HIDUP
  • JEJAK
  • SUARNEWS
  • INTAN JAYA
  • Susunan Redaksi
  • Tentang Kami
  • Contact
  • Privacy Policy
  • Disclaimer

Find Us on Socials

© TIFFANews Network. RAKA GENDIS.id Company. All Rights Reserved. Suar News

Removed from reading list

Undo
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?