TIFFANEWS.CO.ID – Calon Ketua Umum (Caketum) BPP HIPMI periode 2026-2029, Afifuddin Suhaeli Kalla atau yang akrab disapa Afie Kalla, tampil memukau dalam Forum Bisnis Daerah (FORBISDA) BPD HIPMI Papua Selatan di Ballroom Halogen Hotel, Selasa (19/5/2026).
Dengan mengusung semangat “Kita Bikin Jadi”, Afie membawa gagasan besar tentang masa depan ekonomi Papua Selatan melalui pendekatan berbasis data, hilirisasi industri, dan penguatan industri kecil menengah (IKM) lokal.
Paparan Afie membuat peserta forum terpaku mengikuti setiap pemaparannya. Suasana forum bahkan beberapa kali dipenuhi tepuk tangan saat ia memaparkan peta potensi Papua Selatan lengkap dengan data ekonomi, strategi implementasi bisnis, hingga simulasi pengembangan usaha masyarakat lokal.
Ketua Panitia FORBISDA, Dian Saputra, menyebut Afie Kalla sebagai sosok yang “lebih mengenal Papua Selatan” karena mampu menguraikan kondisi daerah secara detail dan realistis.
“Perjalanan belum usai. Ini tentang bertumbuh bersama, melangkah bersama, dan membangun masa depan bersama,” ujar Afie membuka pemaparannya.
Pria kelahiran Jakarta, 22 Juni 1985 itu bukan nama baru di tubuh HIPMI. Perjalanan organisasinya dimulai sejak menjadi anggota HIPMI pada 2008. Kariernya kemudian terus berkembang hingga dipercaya menjadi Ketua Umum BPC HIPMI Jakarta Timur, Ketua Umum BPD HIPMI Jaya, hingga Ketua Bidang di BPP HIPMI.
Pengalaman panjang tersebut membentuk karakter kepemimpinan Afie yang dikenal dekat dengan pengusaha muda, aktif mendorong kolaborasi, serta konsisten berbicara soal hilirisasi ekonomi nasional.
Dalam forum tersebut, Afie menegaskan Indonesia sebenarnya tidak kekurangan sumber daya alam.
“Yang hilang bukan sumber dayanya, yang hilang adalah IKM yang mengolahnya,” tegas Afie.

Ia kemudian membeberkan sejumlah data nasional, mulai dari 70 persen tekstil Indonesia yang masih bergantung pada impor kain dan benang, hingga 80 persen bahan aktif kosmetik lokal yang masih diimpor dari luar negeri.
Menurut Afie, persoalan terbesar bangsa saat ini bukan terletak pada kekurangan bahan baku, melainkan lemahnya industri pengolahan yang mampu menciptakan nilai tambah.
Karena itu, Papua Selatan disebutnya memiliki posisi strategis untuk menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru berbasis hilirisasi dan industri lokal.
Dalam pemaparannya, Afie memetakan kekuatan ekonomi empat kabupaten di Papua Selatan.
Kabupaten Asmat dinilai memiliki kekuatan besar pada sektor ekonomi kreatif berbasis budaya dunia melalui ukiran Asmat, ekonomi kreatif, perikanan rawa, hingga pengolahan sagu.
Kabupaten Mappi disebut memiliki peluang besar pada sektor sagu dan perikanan sungai yang dapat berkembang menjadi industri pangan lokal.
Sementara Kabupaten Boven Digoel dinilai strategis pada sektor sawit, kayu, perdagangan perbatasan, hingga peluang ekspor lintas Papua Nugini.
Sedangkan Kabupaten Merauke diproyeksikan menjadi lumbung pangan nasional sekaligus pusat hilirisasi hasil laut karena didukung sektor pertanian, peternakan, dan perikanan Arafura.
Afie juga menampilkan data ekonomi Papua Selatan berdasarkan rilis BPS Papua Selatan Triwulan I Tahun 2026.
Data tersebut menunjukkan struktur ekonomi Papua Selatan masih didominasi sektor konstruksi sebesar 23,78 persen, pertanian dan perikanan 21,61 persen, perdagangan 12,53 persen, serta transportasi dan pergudangan 7,39 persen.
Namun menurut Afie, nilai tambah ekonomi daerah belum maksimal karena sebagian besar hasil produksi masih diolah di luar Papua Selatan.
“Pangan ditanam di sini, tapi dimasak di provinsi lain. Pasarnya ada, bahannya ada, tetapi industri pengolahannya belum tumbuh maksimal,” ujarnya.
Ia juga menyoroti tingginya konsumsi rumah tangga Papua Selatan yang mencapai 73,56 persen dari PDRB, sementara kebocoran ekonomi akibat impor barang dan jasa masih berada di angka 54,56 persen.
Di sisi lain, sektor industri pengolahan baru menyumbang sekitar 5,63 persen terhadap PDRB Papua Selatan. Menurut Afie, kondisi tersebut merupakan peluang besar bagi HIPMI untuk melahirkan pengusaha muda baru di sektor industri pengolahan lokal.
Dalam kesempatan itu, Afie memperkenalkan konsep pembangunan ekonomi bertajuk “5 Program, Satu Cerita” yang berfokus pada Digital Academy, akses permodalan, hilirisasi mandiri, HIPMI Go Export, serta replikasi komunitas usaha.
Ia bahkan menghadirkan simulasi nyata tentang seorang pelaku usaha perempuan asal Mappi bernama Maria, pengolah sagu dan ikan, yang melalui ekosistem program tersebut dapat berkembang dari usaha kecil kampung hingga menembus pasar nasional dan ekspor hanya dalam waktu 18 bulan.
“Bukan lima tahun. Delapan belas bulan cukup untuk membuktikan bahwa ini bukan sekadar janji, tetapi kerja nyata,” kata Afie disambut tepuk tangan peserta forum yang dihadiri pelaku UMKM lokal, BPD HIPMI Papua Selatan, dan HIPMI PT.
Paparan yang dipenuhi visual data, strategi ekonomi, dan semangat kolaborasi itu membuat FORBISDA BPD HIPMI Papua Selatan 2026 menjadi salah satu forum paling berkesan dalam rangkaian RAKERDA dan DIKLATDA HIPMI Papua Selatan perdana.
Melalui slogan “Kita Bikin Jadi”, Afie Kalla tidak hanya tampil sebagai calon pemimpin HIPMI, tetapi juga membawa optimisme baru bahwa pengusaha muda mampu menjadi motor penggerak hilirisasi dan kebangkitan ekonomi daerah dari Papua Selatan untuk Indonesia.
(Djo)




