TIFFANEWS.CO.ID – Transformasi pertanian melalui penerapan teknologi dan mekanisasi terus didorong di Kabupaten Merauke, Papua Selatan. Salah satunya melalui pendampingan panen padi menggunakan mesin combine harvester di lahan kelompok tani Kampung Candra Jaya, Distrik Kurik, Senin (24/8/2026).
Kegiatan tersebut dilakukan Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Kementerian Transmigrasi bersama IPB University sebagai bagian dari upaya mendorong modernisasi pertanian, meningkatkan produktivitas dan efisiensi usaha tani, sekaligus memperkuat kapasitas petani di kawasan transmigrasi.
Pendampingan dipimpin Ketua Tim TEP, Lilis Sucahyo, S.TP., M.Si., bersama anggota tim Thoriq Aziz Al Madani, S.T., Hafiz Damarjati, S.T., Novia Miftakhul Qisthi, S.Tr.Bns., Haura Alisya Sari, S.TrP., dan Hedera Muammad Thoriq, S.P.
Kegiatan itu turut didampingi Koordinator Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), Rizal, S.Pt., bersama anggota PPL, Umi.
Di Kampung Candra Jaya, kelompok tani telah menerapkan pendekatan PM-AAS (Pertanian Modern–Advanced Agriculture System), yakni model intensifikasi pertanian yang diarahkan untuk meningkatkan produktivitas sekaligus efisiensi penggunaan input dan biaya produksi.
Dari penerapan tersebut, potensi produksi petani saat ini berada pada kisaran 5,5 hingga 8 ton Gabah Kering Panen (GKP) per hektare.
Capaian tersebut menunjukkan potensi produktivitas yang cukup baik. Namun, peningkatan masih dapat dilakukan melalui perbaikan kualitas benih, pemupukan berimbang, pengelolaan air, pengendalian organisme pengganggu tanaman, ketepatan waktu tanam dan panen, serta peningkatan efisiensi penggunaan alat dan mesin pertanian.
Ketua Tim Ekspedisi Patriot IPB University, Lilis Sucahyo, mengapresiasi capaian petani di Kampung Candra Jaya.

Menurutnya, penggunaan mekanisasi pada tahap panen menjadi bagian penting karena dapat mempercepat proses pemanenan sekaligus menekan kehilangan hasil atau losses.
“Capaian hasil panen ini menunjukkan potensi yang baik. Ke depan masih terdapat ruang untuk meningkatkan produktivitas melalui perbaikan budidaya dari hulu hingga hilir, terutama kualitas benih, populasi tanaman, pemupukan, pengelolaan air, pengendalian hama dan penyakit. Mekanisasi harus menjadi bagian dari sistem produksi yang terintegrasi, bukan berdiri sendiri,” ujarnya.
Sementara itu, Koordinator PPL, Rizal, S.Pt., mengatakan penerapan teknologi pertanian modern membutuhkan proses pembelajaran yang berkelanjutan.
Menurutnya, petani perlu mendapatkan edukasi dan pendampingan secara intensif agar penerapan PM-AAS dapat dilakukan secara tepat dan konsisten.
Pendampingan, kata Rizal, tidak cukup hanya dilakukan pada saat tanam maupun panen, tetapi harus mencakup seluruh siklus produksi. Mulai dari perencanaan musim tanam, pemilihan varietas dan benih, persiapan lahan, pengaturan populasi tanaman, pemupukan, pengelolaan air, pengendalian hama dan penyakit, pemantauan pertumbuhan tanaman, penentuan waktu panen, mekanisasi, hingga pengelolaan pascapanen dan pemasaran.
Pengembangan pertanian di Merauke juga sejalan dengan arah kebijakan baru Kementerian Transmigrasi. Paradigma transmigrasi kini tidak lagi semata-mata berorientasi pada pemindahan dan penempatan penduduk, tetapi diarahkan pada pengembangan kawasan berdasarkan potensi ekonomi dan sumber daya lokal.

Pendekatan tersebut mencakup peningkatan kualitas sumber daya manusia, industrialisasi, hilirisasi serta penciptaan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru.
Dalam visi Kementerian Transmigrasi 2025-2029, transformasi transmigrasi diarahkan sebagai instrumen untuk mendorong pemerataan dan pertumbuhan ekonomi baru melalui Kawasan Ekonomi Transmigrasi Terintegrasi yang didukung sumber daya manusia unggul.
Misi tersebut antara lain mencakup optimalisasi lahan, pengembangan berbasis sumber daya lokal, pembangunan pusat pertumbuhan melalui industrialisasi dan hilirisasi, serta penguatan sinergi dan kolaborasi multisektor.
Kawasan transmigrasi juga diarahkan menjadi salah satu basis produksi pangan nasional. Pada 2026, pengembangan kawasan transmigrasi tidak lagi hanya berorientasi pada komoditas padi, tetapi juga mencakup perikanan dan berbagai komoditas lokal lainnya.

Arah tersebut terlihat dalam pengembangan Kawasan Transmigrasi Salor, Merauke, yang mulai diarahkan menjadi kawasan ekonomi produktif berbasis riset, teknologi, sarana produksi, sumber daya manusia dan penguatan rantai nilai.
Pemerintah juga tengah mendorong kerja sama pengembangan riset dan teknologi pertanian di kawasan tersebut.
Pengembangan pertanian Merauke ke depan membutuhkan kolaborasi yang lebih luas dan tidak dapat hanya mengandalkan satu sektor. Persoalan produktivitas pertanian bukan hanya berkaitan dengan teknologi produksi, tetapi juga menyangkut infrastruktur, kualitas sumber daya manusia, kelembagaan petani, akses pembiayaan, kepastian pasar, kebijakan, pengelolaan sumber daya alam serta kemampuan menyesuaikan teknologi dengan kondisi sosial dan budaya masyarakat setempat.
Dengan dukungan pemerintah, perguruan tinggi, penyuluh, pelaku usaha, kelompok tani dan masyarakat, pengembangan pertanian modern di Merauke dapat terus diperkuat. Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya meningkatkan produktivitas petani dan memperkuat peran Merauke dalam pembangunan pertanian serta ketahanan pangan nasional. (***)




