TIFFANEWS.CO.ID – Komisi Penagulalagan AIDS (KPA) kabupaten Merauke melalui kelompok kerja (Pokja) Litbang, Dr Inge Silvia mengungkapkan jumlah kasus HIV/AIDS sejak tahun 1992 sampai dengan maret 2026 yang tercatat mencapai 3.195 kasus.
Dalam keterangannya, Silvia data tersebut merupakan hasil rekapitulasi yang di himpunan dari seluruh layanan kesehatan di Merauke, mulai dari puskesmas, rumah sakit hingga klinik kesehatan
“Data terakhir sejak tahun 1992 hingga Maret 2026 mencatat sebanyak 1.928 kasus HIV dan 1.267 kasus AIDS, sehingga total keseluruhan mencapai 3.195 kasus di Kabupaten Merauke. Data tersebut belum mencakup laporan bulan April karena masih menunggu rekapitulasi dari sejumlah layanan kesehatan,” ujarnya, Jumat (29/5).
Lebih lanjut, kata Silvia, selama periode Januari hingga Maret 2026 terdapat 39 kasus baru HIV/AIDS. Dari jumlah itu, sebanyak 29 orang masuk kategori HIV stadium awal dan 10 orang sudah berada pada stadium AIDS.
KPA Merauke menyebut kasus HIV/AIDS masih didominasi kelompok usia produktif, terutama usia 20 hingga 24 tahun. Meski demikian, kelompok usia remaja 15 hingga 19 tahun juga mulai ditemukan kasus positif HIV.
“Kelompok umur masih tetap didominasi usia dewasa muda, 20 sampai 24 tahun. Tetapi usia 15 sampai 19 tahun juga ada, walaupun tidak banyak,” jelasnya.
Bahkan berdasarkan data yang dimiliki KPA, terdapat sekitar 176 kasus positif HIV pada kelompok usia 15-19 tahun di Merauke dalam beberapa tahun terakhir, termasuk dari kalangan pelajar dan mahasiswa.
Menurut Inge Silvia, KPA memiliki fungsi utama dalam koordinasi dan pencegahan HIV/AIDS, sementara penanganan pengobatan menjadi ranah Dinas Kesehatan dan fasilitas pelayanan kesehatan.
Selain itu, KPA juga telah melaksanakan pelatihan Kompas (Komisi Penanggulangan AIDS Tingkat Sekolah) di enam sekolah dengan melibatkan 30 siswa. Program tersebut direncanakan kembali dilaksanakan pada Juni 2026 di enam sekolah lainnya.“Kita juga sudah koordinasi dengan beberapa OPD, swasta, BUMN, dan dunia pendidikan terkait penguatan edukasi HIV/AIDS,” katanya.
KPA Merauke juga berencana berkoordinasi kembali dengan Dinas Pendidikan terkait pengaktifan muatan lokal kesehatan reproduksi, IMS, dan HIV/AIDS yang sebelumnya telah diatur dalam Peraturan Bupati
“Kita akan diskusi lagi dengan Dinas Pendidikan apakah memungkinkan muatan lokal tentang kesehatan reproduksi dan HIV diaktifkan kembali, melihat kasus pelajar dan mahasiswa yang mulai meningkat,” jelasnya.
Selain dunia pendidikan, KPA juga akan menggandeng tokoh agama, tokoh masyarakat, Satpol PP, dan Kominfo dalam upaya pencegahan HIV/AIDS.Salah satu persoalan yang kini menjadi perhatian KPA Merauke adalah maraknya prostitusi online yang diduga turut berkontribusi terhadap penularan HIV/AIDS.
“Kami sudah lama mengetahui persoalan prostitusi online ini dan sudah beberapa kali dibahas bersama pihak terkait. Memang ini masalah yang cukup pelik dan perlu penanganan berkelanjutan,” kata Inge Silvia.
Ia mengaku terdapat sejumlah pasien HIV yang mengaku tertular melalui hubungan seksual yang berkaitan dengan praktik prostitusi online.
Karena itu, KPA berencana kembali melakukan pembahasan lebih mendalam bersama Satpol PP dan pihak terkait lainnya.
Inge Silvia juga mengungkapkan bahwa berdasarkan data sekitar 12 hingga 13 tahun terakhir, kelompok ibu rumah tangga justru menjadi penyumbang kasus HIV/AIDS terbesar di Merauke.“Kasus HIV paling banyak itu pada kelompok ibu rumah tangga. Setelah itu kelompok swasta, lalu ada ASN, pelajar, mahasiswa dan juga LSL,” ungkapnya.
Di akhir wawancara, KPA Merauke mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama mendukung upaya pencegahan HIV/AIDS melalui edukasi dan sosialisasi.“Kita perangi virusnya, bukan orangnya. Mari semua elemen masyarakat bergandengan tangan membantu pencegahan HIV/AIDS,” tutupnya. (JW)




