TIFFANEWS.CO.ID – Universitas Katolik Fajar Timur Papua (Unika) memberikan pembekalan kepada mahasiswa-mahasiswi baru angkatan pertama tahun ajaran 2026–2027. Kegiatan tersebut diikuti mahasiswa dari jurusan Teknik Sipil, Arsitektur, Farmasi, dan Akuntansi.
Pembekalan disampaikan Dr. drg. Aloisius Giyai, M.Kes. Kepada peserta, Aloisius mengatakan, menjadi mahasiswa bukan sekadar memasuki sebuah kampus, tetapi merupakan tahap baru dalam kehidupan untuk menempa diri melalui proses perkuliahan.
Kepada Tiffa News, Aloisius menyampaikan beberapa hal penting yang menjadi bagian dari pembekalan. Menurutnya, mahasiswa hari ini adalah generasi yang hidup dalam perubahan teknologi yang sangat cepat. Mereka diperhadapkan pada dunia internet, media sosial, kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), perdagangan digital, dan berbagai teknologi baru.
Semua itu, kata Aloisius, telah mengubah cara manusia belajar dan bekerja.
Aloisius mengatakan, mahasiswa jangan hanya menjadi pengguna teknologi. Mereka diharapkan mampu memanfaatkan teknologi untuk menciptakan sesuatu.
Misalnya, mahasiswa Teknik Sipil dapat mengembangkan ilmu menjadi usaha jasa konstruksi, konsultan, pengembangan properti, hingga pengelolaan infrastruktur.
Mahasiswa jurusan Arsitektur memiliki peluang di bidang desain, perencanaan, konsultansi, pengembangan properti, dan berbagai jasa kreatif lainnya.
Begitu pula mahasiswa Farmasi dapat membuka peluang pengembangan pelayanan, produk, penelitian, dan inovasi di bidang kefarmasian sesuai ketentuan yang berlaku.
Sementara mahasiswa Akuntansi dapat membangun jasa profesional di bidang akuntansi, perpajakan, konsultasi keuangan, dan pengelolaan usaha.
“Universitas tidak boleh menghasilkan sarjana yang hanya pandai menjawab soal ujian. Setiap program studi harus kembali bertanya, apa yang dapat diciptakan oleh lulusan dari ilmu yang dipelajarinya?” ujarnya.
Menurutnya, ilmu jangan berhenti di ruang kelas. Universitas harus menghasilkan manusia yang mampu menjawab persoalan kehidupan.
Kepada Tiffa News, Aloisius mengaku, dari sudut pandangnya, ilmu yang diterima dari kampus harus berkembang menjadi keterampilan yang menghasilkan karya, memberikan solusi, dan bermanfaat bagi masyarakat.
Ditekankan pula, keterkaitan antarjurusan dengan entrepreneurship mesti berjalan bersama bidang ilmu masing-masing.
Aloisius berpandangan, cara pandang terhadap pendidikan tinggi perlu diubah.
“Kita perlu mengubah cara pandang tentang pendidikan tinggi. Kuliah jangan hanya dipahami sebagai jalan untuk mendapatkan ijazah dan mencari pekerjaan. Kuliah harus menjadi proses membangun manusia yang mampu berpikir, bekerja, menciptakan solusi, memimpin, berwirausaha, dan mengabdikan dirinya bagi masyarakat,” katanya.
Mantan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua ini berpesan agar setiap mahasiswa merenungkan satu kalimat sederhana, “Anak Papua harus naik kelas: dari pencari kerja menjadi pencipta kerja.”
Naik kelas yang dimaksud bukan sekadar menyandang gelar sarjana, memiliki pekerjaan, menduduki jabatan, atau memperoleh penghasilan yang tinggi. Perspektif lain yang ditawarkan pada kuliah perdana, 14 Agustus 2026, adalah melalui cara berpikir.
Dengan cara berpikir tersebut, mahasiswa diharapkan memiliki kemampuan dan keberanian dalam mengambil tanggung jawab serta mampu menciptakan manfaat bagi orang lain.
Sebagai Ketua Yayasan Sekolah Tinggi Teologi Katolik (STTK) yang menyelenggarakan Universitas Katolik Fajar Timur Papua, pihaknya berharap arah pendidikan di universitas tersebut tidak hanya menghasilkan lulusan yang memiliki ijazah.
Namun, juga menghasilkan manusia Papua yang mampu berdiri di atas kemampuan sendiri dengan menciptakan nilai, membuka peluang, dan menciptakan lapangan pekerjaan sesuai dengan bidang ilmu yang dipelajarinya.
Ia mencontohkan, ketika seorang anak menyelesaikan pendidikan dari perguruan tinggi, tidak lantas harus dicerca dengan pertanyaan klasik, “Setelah lulus mau bekerja di mana?”
Diakuinya, pertanyaan semacam itu tidak salah. Sebab, setiap orang berhak memiliki masa depan yang baik melalui pekerjaan.
Namun, menurut Aloisius, ada satu pertanyaan yang perlu menjadi pemantik sekaligus refleksi bagi mahasiswa, “Setelah saya lulus, apa yang dapat saya ciptakan?”
“Apa yang dapat saya ciptakan untuk diri saya, keluarga, dan masyarakat? Dan yang paling penting, apa yang dapat saya ciptakan untuk Papua?” ujarnya.
Di sinilah, kata Aloisius, letak perubahan cara berpikir. Seorang pencari kerja terutama berpikir tentang bagaimana mendapatkan kesempatan kerja. Sementara orang yang berpikir untuk menciptakan pekerjaan akan melihat peluang dan mencari cara untuk membuka kesempatan bagi orang lain.
Dunia kerja telah berubah. Kondisi tersebut menuntut pemuda jeli melihat peluang lain. Mentalitas menunggu menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) bukan satu-satunya jalan menuju keberhasilan.
Lapangan pekerjaan di pemerintahan memiliki keterbatasan. Tidak semua sarjana harus menjadi ASN. Karena itu, perguruan tinggi harus mempersiapkan lulusan dengan pilihan yang lebih luas.
“Kita harus realistis melihat masa depan. Selama ini, menjadi ASN sering dipandang sebagai tujuan utama setelah menyelesaikan pendidikan. Menjadi ASN adalah pilihan yang baik bagi mereka yang memiliki panggilan dan kesempatan untuk mengabdi melalui jalur pemerintahan,” katanya.
Mentalitas itulah yang dirasa perlu dibangun sejak mahasiswa. Ber-entrepreneurship menjadi bagian penting dari pendidikan di Unika.
“Saya berpandangan bahwa kewirausahaan atau entrepreneurship harus menjadi bagian penting dan, idealnya, menjadi mata kuliah wajib di Universitas Katolik Fajar Timur Papua. Mengapa? Karena mahasiswa harus dibekali bukan hanya dengan pengetahuan akademik, tetapi kemampuan untuk mengubah pengetahuan menjadi sesuatu yang memiliki nilai ekonomis,” jelasnya.
Menurut Aloisius, entrepreneurship bukan hanya belajar bagaimana membuka toko atau berdagang. Entrepreneurship juga membuka wawasan mahasiswa untuk melek terhadap peluang usaha.
Mahasiswa perlu belajar melihat apa yang dibutuhkan masyarakat, menciptakan produk dan jasa, mengelola modal, menghitung risiko, membangun jaringan, menggunakan teknologi, menciptakan inovasi, dan membuka lapangan pekerjaan.
Mahasiswa, lanjutnya, tidak hanya diharapkan menghasilkan tulisan akademik pada tugas akhir, tetapi juga membuktikan karya nyata.
Sering kali, kata Aloisius, orang berpikir dengan kata “nanti”, seolah-olah semua bisa dilakukan setelah lulus. Mencari pekerjaan, membuka usaha, belajar teknologi, dan membangun jaringan.
“Padahal, masa mahasiswa adalah masa yang sangat baik untuk mulai belajar,” katanya.
Tidak harus langsung membangun perusahaan besar. Mahasiswa dapat memulainya dari sesuatu yang kecil. Memiliki ide, misalnya memulai usaha kecil dari keterampilan yang dimiliki, atau mengorganisir kegiatan sosial.
Semua dimulai dari sebuah niat, keseriusan, dan inovasi sederhana yang kemudian dapat berkembang menjadi sebuah proyek.
“Yang terpenting adalah berani mulai, berani belajar, dan berani memperbaiki kesalahan. Jangan malu memulai dari kecil. Banyak hal besar lahir dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten,” pesannya.
Aloisius juga mengingatkan mahasiswa agar tidak merasa rendah karena berasal dari Papua.
“Anak Papua harus naik kelas, dari pencari kerja menjadi pencipta kerja. Yang semula sebagai konsumen, sebisa mungkin menjadi produsen. Masa depan Papua tidak saja dilihat anak muda sebagai pencari peluang, tetapi menjadi pembuka peluang yang memberi manfaat. Masa depan Papua harus diciptakan,” tegasnya.
Ia berpesan kepada mahasiswa agar belajar dengan sungguh-sungguh, membangun karakter, berani berinovasi, menguasai teknologi, memperluas jaringan, dan belajar berwirausaha dengan ditopang kemampuan mengelola keuangan dengan baik.
Semuanya itu, menurutnya, mesti dibarengi dengan kemampuan sumber daya manusia yang mumpuni.
“Dan yang paling penting, gunakan ilmu untuk memberikan manfaat kepada orang lain. Karena tujuan akhir dari proses pendidikan bukan hanya membuat kita menjadi orang pintar. Pendidikan harus memberi nilai tambah dan positif dalam setiap individu supaya berguna,” katanya.
Maka, mulai hari ini, Aloisius berpesan agar mahasiswa merombak cara berpikir.
“Setelah lulus, siapa yang akan mempekerjakan saya?” dan “Saya akan bekerja di mana?” harus diubah menjadi, “Setelah lulus, apa yang akan saya ciptakan? Suatu hari, berapa banyak orang yang nanti saya pekerjakan? Apa yang dapat saya berikan kepada Papua? Bukan, apa yang dapat Papua berikan kepada saya?” pesannya.
Alfonsa Wayap




