TIFFANEWS.CO.ID — Di tengah dinamika sosial masyarakat yang kerap diwarnai oleh berbagai bentuk ketakutan dan provokasi kekerasan, perayaan Hari Raya Pentakosta di Keuskupan Agung Merauke menjadi sebuah oase spiritual yang meneguhkan. Bertempat di Gereja Katedral St. Fransiskus Xaverius, Merauke, Misa syukur ini dipimpin langsung oleh Uskup Agung Merauke, Mgr. Petrus C. Mandagi, MSC, dengan didampingi oleh RD. Roy Sugianto dan Sekretaris Pribadi Uskup, Fr. Longgi Rumangun. Dalam perayaan khidmat tersebut, pesan sentral yang digemakan adalah panggilan mendesak bagi umat Katolik untuk bangkit dari belenggu ketakutan dan bertransformasi menjadi agen perdamaian sejati di tengah tantangan zaman modern.
Pesan perdamaian tersebut dibuka oleh Mgr. Mandagi melalui sebuah kisah historis yang sangat menggugah tentang mendiang Paus Yohanes Paulus II. Ketika sang Paus menjadi korban penembakan oleh seorang pemuda bernama Ali Ağca di Vatikan, ia sama sekali tidak membalas dendam atas kekerasan yang menembus dadanya. Sebaliknya, pemimpin umat Katolik sedunia itu mengganti peluru kekerasan dengan “peluru cinta” yang kemudian disematkan pada mahkota Bunda Maria di Fatima. Menurut Uskup, kisah ini adalah bukti nyata bahwa cinta kasih selalu memiliki kekuatan absolut untuk mengatasi segala bentuk kekerasan, sekaligus menjadi cerminan dari karya Roh Kudus yang senantiasa memulihkan keadaan.
Karya pemulihan Roh Kudus ini dirasa sangat relevan jika disandingkan dengan peristiwa turunnya Roh Kudus ribuan tahun silam, di mana para murid Yesus sempat mengunci diri karena diliputi ketakutan yang luar biasa. Ketakutan yang sama, tegas Uskup Mandagi, nyatanya masih merajai manusia modern saat ini dan sering kali menyusup ke dalam ruang-ruang terdekat seperti keluarga. Banyak rumah tangga yang kini tidak lagi diliputi kebahagiaan, melainkan kecemasan; mulai dari istri yang takut suaminya berselingkuh, suami yang cemas menghadapi tuntutan perpisahan, hingga anak-anak yang hidup dalam trauma akibat pertengkaran orang tua yang tak kunjung usai. Segala bentuk kecemasan ini pada akhirnya membuat manusia modern cenderung menutup dan mengunci diri dari dunia luar, persis seperti para rasul sebelum menerima Roh Kudus.
Secara sangat jujur dan rendah hati, Uskup Mandagi bahkan tidak segan membagikan sisi kerentanannya sendiri sebagai seorang pemimpin agama di tengah umat. Beliau mengakui bahwa sebagai manusia biasa, ada kalanya ia turut merasa cemas dan takut, terutama ketika menghadapi berbagai serangan opini atau provokasi yang menyudutkannya melalui media massa. Sempat terbesit dalam benaknya rasa putus asa hingga muncul keinginan untuk pulang saja ke Manado. Namun, ia kembali mengingat perutusan utamanya untuk membawa sukacita dan kegembiraan di Tanah Papua, betapapun banyaknya tantangan dan “roh-roh jahat” yang berusaha menghalanginya. Pengakuan tulus ini menjadi pengingat bagi umat bahwa rasa cemas adalah hal yang sangat manusiawi, asalkan tidak dibiarkan berlarut-larut hingga mematikan nyala api Roh Kudus di dalam diri.
Menghadapi berbagai intimidasi tersebut, khususnya di Tanah Papua yang saat ini rentan terhadap gesekan sosial dan penyelesaian masalah melalui jalan kekerasan, umat Katolik justru dituntut untuk berani tampil beda. Mgr. Mandagi memberikan mandat yang jelas agar umat tidak mudah terpancing oleh narasi kebencian yang berseliweran di berbagai platform media. Sebaliknya, umat harus menjadi pembawa damai yang aktif menghidupkan ketahanan spiritual melalui doa yang tekun, devosi, adorasi, dan keterlibatan nyata dalam kehidupan menggereja. Uskup juga memberikan secercah harapan dengan membagikan fenomena spiritual global yang menggembirakan, di mana ribuan kaum muda dari Eropa, Amerika, Australia, hingga berbagai negara di Asia kini berbondong-bondong kembali ke pangkuan Gereja. Hal ini membuktikan bahwa janji kebebasan absolut dan kekayaan materi di dunia modern pada akhirnya tidak mampu memberikan kepuasan, karena kegembiraan yang autentik hanya dapat ditemukan di dalam Kristus.
Sebagai pamungkas dari seluruh rangkaian refleksinya, Mgr. Mandagi menggemakan pesan penuh belas kasih dari Paus Fransiskus, yang mengingatkan bahwa Tuhan tidak pernah lelah mengampuni, namun justru manusialah yang kerap merasa lelah untuk memohon ampun. Pengampunan, menurut Uskup, adalah instrumen penyembuhan paling ampuh yang berkuasa meruntuhkan tembok-tembok perpecahan dan menyatukan kembali masyarakat yang terpolarisasi. Oleh karena itu, beliau mengajak seluruh umat yang hadir untuk menanggalkan segala ketakutan yang mengungkung kehidupan mereka dan menggantinya dengan sukacita sejati, karena damai sejahtera Tuhan senantiasa hadir dan menyertai setiap pribadi serta keluarga yang mau membuka hati bagi Roh Kudus.




